Selamat

Rabu, 5 Oktober 2022

EKONOMI | Validnews.id

EKONOMI

08 Agustus 2022

21:00 WIB

Menjual Cukilan Memori Kehamilan

Lewat pregnancy resin art, momen kehamilan bisa diabadikan, untuk diingat terus sampai anak besar.

Penulis: Fitriana Monica Sari,

Editor: Fin Harini

Menjual Cukilan Memori Kehamilan
Produk dari Resin Art Sub atau RAS. Instagram/@resinart.sub

JAKARTA – Kehamilan menjadi salah satu momen yang sangat mengesankan. Pasalnya, sembilan bulan masa kehamilan akan dipenuhi berbagai milestone yang tak akan terlupakan. Dimulai dari mengetahui haid terlambat, ada janin yang tumbuh, hingga akhirnya bayi mungil bisa didekap secara langsung.

Untuk itu, banyak perempuan yang akhirnya memilih untuk mengabadikan momen kehamilan. Beragam cara pun dilakukan, dari yang sederhana hingga tak biasa. Mulai dari menulis buku harían atau diary, melakukan foto maternity, hingga mengabadikan hasil test pack dan USG lewat resin art atau biasa disebut pregnancy resin art.

Adalah Resin Art Sub (RAS) yang melihat peluang usaha tersebut dan menjadikannya sebagai produk andalan. Bahkan, menjadi pelopor pregnancy resin art di Indonesia. Resin Art Sub sendiri didirikan oleh Audrey Deviena (24).

"Lewat pregnancy resin art, bisa mengabadikan momen kehamilan, biar bisa diingat terus sampai anak besar. Apalagi, kalau diisi USG, rambut, dan lain-lain jadi memorable banget," kata Audrey kepada Validnews sambil setengah berpromosi, Jumat (5/8).

Tak hanya menawarkan pregnancy resin art saja, usaha yang berbasis di Surabaya ini, juga menawarkan berbagai produk lain. Ada custom initial keychain, card holder, custom hand sanitizer bottle initial, hingga nail logo, mereka produksi.

RAS lahir di tengah pandemi covid-19, atau tepatnya awal Februari 2021 ini. Ya, usaha kreatif ini justru muncul di saat krisis terjadi. Audrey mengklaim RAS tidak terkena dampak negatif dari pagebluk. 

Di tengah wabah, Resin Art Sub justru mendapat dampak positif. Pasalnya, semenjak pandemi, banyak orang menggunakan hand sanitizer sebagai jalan pintas untuk mencuci tangan dan sebagai upaya untuk mencegah penyebaran virus corona. Dari sana, bisnisnya terus berkembang.

Di awal pendirian, Audrey memang sendiri. Namun, kini di bawah bendera RAS, ada sejumlah pegawai. Diantaranya untuk posisi asisten, packing, dan admin. Audrey juga mampu meraup omzet belasan hingga puluhan juta rupiah per bulannya.

Bermodal Otodidak
Awalnya, Audrey tak pernah berpikir untuk membuka usaha sendiri. Sedari kuliah, wanita lulusan Jurusan Hukum Universitas Wijaya Kusuma Surabaya ini, mendambakan bekerja kantoran. Ia pun memulai karier sebagai legal secretary. Bahkan, dia memiliki cita-cita untuk menjadi seorang pengacara kelak.

Namun belum sempat meraih mimpinya, Audrey sudah merasa jenuh dengan posisi pekerjaan legal secretary. Dia merasa kesehariannya monoton dan banyak menguras energi.

Demi mengatasi rasa jenuhnya, dia mulai mencari hobi. Kala itu, dirinya tertarik untuk belajar resin art. Kelihaian Audrey menguasai resin art tak diperolehnya lewat kursus atau bantuan ahli. Wanita yang lahir di Jember dan besar di Surabaya ini, mengaku belajar secara otodidak atau mandiri, hanya bermodalkan menjelajah internet.

Setelah menekuninya, dia memberanikan diri untuk memberikan hasil karyanya kepada teman yang sedang berulang tahun. Siapa sangka, kerajinan resinnya menuai pujian. Beberapa teman bahkan menyarankan untuk menjajakan guna peroleh rupiah.

"Awalnya hobi liat dari Pinterest, Instagram. Akhirnya belajar dan bikin, belajar itu otodidak banget. Terus teman ulang tahun saya kasih cincin sama hand sanitizer. Teman-teman bilang ini lucu, jual aja," kenangnya.

Kepercayaan dirinya untuk menjual kerajinan resin tak langsung terbangun. Apalagi, saat itu produk yang dibuat Audrey masih terbatas pada gantungan kunci dan hand sanitizer bottle. Akan tetapi, kian banyak kawan yang justru mendukungnya.

Sedikit demi sedikit kepercayaan diri Audrey terbentuk. Dia kian sering memberikan kerajinan resin kepada orang-orang terdekat secara cuma-cuma alias gratis. Pujian pun terus berdatangan hingga membangkitkan tekadnya memulai usaha.

Dari orang-orang yang suka karyanya, Audrey dibanjiri pesanan. Kebanyakan mereka memesan custom hand sanitizer bottle initial. Pesanan tak hanya dalam jumlah satuan, tetapi ada juga yang dalam jumlah besar. Produknya yang unik dilirik menjadi salah satu pilihan souvenir pernikahan di masa pandemi covid-19.

Usaha yang bermodalkan Rp1 juta untuk membeli resin dan cetakan, bisa balik modal dalam waktu terhitung cepat. Pendapatannya kemudian kian moncer. Audrey memutuskan untuk resign dari tempat kerja dan serius menekuni bisnis. 

"Lama-lama ya sudah saya resign, terus serius di bisnis. Tapi, untuk pengacaranya tetap. Calon suami saya kan juga pengacara, jadi suka ikut biar ilmunya tidak hilang," terang Audrey.

Garap Pregnancy Resin Art
Audrey terus berinovasi demi menciptakan resin art lain yang menarik dan unik. Jika sebelumnya custom initial keychain dan custom hand sanitizer bottle initial yang diproduksi, dia kemudian mulai merambah produk baru. Di antaranya card holder, nail logo, hingga yang terlaris adalah pregnancy resin art.

Dia juga bergabung dengan artist dari berbagai negara. Mereka membuat banyak resin art yang memberi inovasi untuk artist lain. Salah satu yang menarik perhatian Audrey adalah pregnancy resin art. Pasalnya, di Indonesia belum ada yang membuat kerajinan resin macam ini.

Dari situlah, Audrey mulai uji coba membuat pregnancy resin art dengan ciri khasnya sendiri..

"Komunitas saya memang sama orang-orang luar. Awalnya sama Singapura, tapi mereka punya teman yang dari Australia, dari luar juga ada. Mereka tuh bikin pregnancy resin art. Dari sana, saya lihat kok lucu, di Indonesia juga belum ada," ungkap Audrey.

Pada Februari 2022, Audrey mulai memperkenalkan produk teranyarnya ini ke media sosial Instagram dengan nama @resinart.sub. Kerajinan resinnya ini perlahan-lahan mendapat antusias yang terbilang tinggi wanita kelahiran 1998 ini, menjajakan pregnancy resin art dengan banderol mulai dari harga Rp220 ribu untuk ukuran kecil hingga Rp320 ribu untuk ukuran besar dan kompleks. 

Namun demikian, Resin Art Sub suka mengadakan berbagai promo demi menarik minat pembeli dan mengenalkan produk.

Barang yang ditaruh di dalam pregnancy resin art dijamin merupakan barang milik masing-masing pelanggan. Caranya, pelanggan diharus mengirimkan barang yang ingin dimasukkan ke dalam pregnancy resin art terlebih dahulu ke Resin Art Sub. 

Adapun, isi yang bisa ditaruh di pregnancy resin art semakin beragam. Mulai dari testpack, USG, rambut, tali pusar, gelang kelahiran, kuku, hingga botol berisi asi.

"Jadi satu pregnancy resin art tergantung mommy-nya. Misal mau USG, test pack, rambut berarti pakai yang besar Rp320 ribu, terserah mommy mau isinya apa. Tapi, kalau test pack aja, yang paling kecil juga bisa," jelasnya.

Setelah barang tiba, pregnancy resin art baru diproses. Proses pembuatan memakan waktu 3-4 minggu, belum termasuk waiting list. 

Kini, 75%-nya pelanggan RAS verada di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi). Sementara, 10% ada di Surabaya. Lainnya, pesanan juga datang dari luar Pulau Jawa, seperti Ambon dan Medan. Dalam sebulan, minimal pesanan untuk pregnancy resin art sendiri adalah sebesar 25 hingga 30 buah lebih. 

Hingga kini, Resin Art Sub mengandalkan media sosial Instagram sebagai pemasaran dan portofolio. Untuk melakukan pesanan bisa menghubungi lewat WhatsApp, yang terhubung langsung dengan admin. Sementara itu, e-commerce Shopee hanya digunakan untuk pembayaran.


Suka Campur Duka
Bukan usaha jika tidak ada namanya jatuh bangun, begitu pun dengan bisnis ini. Produk pregnancy resin art sempat menuai pro kontra.

Sebagian besar orang menentang idenya dan menganggapnya sebagai tidak senonoh alias "saru". Namun sebagian besar lainnya, justru mendukung. Di awal memperkenalkan produk ini, memang minat pembeli belum terlihat besar, bahkan hanya mendapat dua pesanan.

"Awalnya kita mau mundur, karena berpikir laku tidak ya. Pertama kali launching malah ada hate comment. Kayak memang enggak jijik itu bekas pipis orang, ya ngapain kita cium test pack. Kita juga berpikir maju terus tidak ya, tapi kita konsisten sampai kayak sekarang," ungkap Audrey.

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, Audrey selalu berpesan kepada pelanggan untuk berpikir matang-matang sebelum memesan.   

Namun demikian, banyak suka juga didapatkan. Dia mengaku senang karena bisa menekuni hobi sambal menghasilkan rupiah untuk pundi-pundinya. Pelanggan juga kerap memberikan dukungan semangat dengan beragam bentuk. 

Ke depan, Audrey mengaku tak kan berhenti di produk yang kini dipasarkan.  Namun, pregnancy resin art tetap akan menjadi yang utama digarap.

 




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER