Selamat

Jumat, 24 September 2021

21 Agustus 2021|18:00 WIB

Mengejar Laba Dengan Lingkungan Terjaga

Kunci sukses program bertajuk keberlanjutan mencakup people, profit dan planet.
ImagePadi rusak dan gagal panen di areal pesawahan Gunung Sarik, Padang, Sumatera Barat, Kamis (18/2/2021) karena kekeringan. ANTARAFOTO/Iggoy el Fitra

JAKARTA – Dampak perubahan iklim kian terasa.  Tak hanya berupa suhu yang kian panas, membuat keseharian tak bisa lepas dari kipas angin atau air conditioner.

Lebih serius, bencana kian sering muncul, mendatangkan dampak yang semakin besar. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 95% bencana di Indonesia merupakan bencana hidrometeorologi yang terkait dengan iklim. Mulai dari banjir, kekeringan, tanah longsor, gelombang ekstrem dan abrasi serta cuaca ekstrem.

Sepanjang 2021 ini, masih dari data BNPB, terdapat 1.758 bencana. Dari jumlah itu, banjir mendominasi, tercatat 650 kali banjir. Disusul puting beliung sebanyak 490 kali dan tanah longsor 370 kali. Jumlah ini mengalahkan kebakaran hutan dan lahan sebanyak 163 kali dan gempa bumi 55 kali.

Dengan tingkat kerusakan yang fatal di beberapa kejadian, BNPB pun menyebut bencana dan perubahan iklim menjadi salah satu hambatan bagi negara mencapai tujuan pembangunan dan pengentasan kemiskinan.

“Perubahan iklim juga bikin harga pangan mahal. Sekadar tempe aja, terdampak kok. Harga kedelai sempat naik karena kekeringan di Amerika padahal kita impor kedelai dari sana,” papar Nuryani, pegawai sebuah bank swasta, saat curhat soal keprihatinannya soal perubahan iklim kepada Validnews beberapa waktu lalu.  

Keprihatinan membuat Nuryani berusaha mengubah gaya hidupnya. Mengaku belum terlalu green, setidaknya ia sudah rajin membawa kantong belanja kain sebelum aturan memaksa orang beralih dari plastik. Ia mengganti tisu kertas dengan sapu tangan kain. Belakangan, ia berusaha memanfaatkan sampah domestik menjadi eco enzyme dan kompos.

Ia mengaku langkahnya masih terbatas. Namun, ia berharap bisa menularkan ke lingkungan terdekat.

Berdasar keprihatinan sama, Afifah Fakhrunnisa Bijaksana mengambil kiprah lebih jauh. Dia mendirikan SolusiBanjir.id, sebuah startup yang bergerak di bidang tata Kelola air.

Ia mencetuskan, banjir ekstrim awal 2020 di Jabodetabek dan daerah lainnya mendorong kelahiran usaha rintisan ini.  Meski begitu, usahanya tidak sebatas pada banjir semata, namun tata kelola air. Dengan menitikberatkan pada edukasi dan solusi terkait konservasi air sekaligus pencegahan banjir.

"Air hujan yang harusnya jadi berkah, terkadang malah menjadi bencana. Di sisi lain, kekeringan juga terjadi. Hal ini semakin menguatkan akhirnya SBID dibentuk," ujar Afifah kepada Validnews, Jumat (20/8).

Jasa konsultan bisa dipilih untuk menyiapkan kajian hingga perencanaan untuk tata kelola air yang berkelanjutan. Sementara, jasa implementasi bisa dipilih untuk memudahkan konsumen untuk memilih produk dan teknologi dalam mencegah banjir dan konservasi air.

Adapun jasa yang ditawarkan SBID bermacam. Di antaranya pembuatan sumur resapan, sarana pemanenan air hujan (SPAH), dan poreblock .

Solusibanjir.id tak sendiri. Mendirikan bisnis dengan sebuah tujuan sosial yang ingin dicapai juga dilakukan Waste4Change. Head Communication & Engagement Waste4Change Hana Nur Auliana menjelaskan, fokus bisnisnya terletak pada edukasi-pelatihan, pengumpulan, hingga pengolahan lebih lanjut.

Sampah yang dapat dikelola W4C mulai dari organik, plastik botol, sachet, plastik bening, kertas, kardus, kaca, logam, dan jenis sampah rumah tangga lainnya.

Untuk pengangkutan sampah, mereka memilah minimal tiga jenis sampah, yakni organik, daur ulang, dan residu di area klien.

"Lalu, dibawa ke Rumah Pemulihan Material (RPM) kami, menyortir lebih detail sampah sesuai material spesifik. Seperti plastik PET, HDPE, LDPE, kertas, kardus, kaca, dan lainnya," jelas Hana kepada Validnews, Jumat (20/8).

Adapun sepanjang 2015–2020, perusahaan sudah dapat mengelola sekitar 5.000 ton lebih sampah secara bertanggung jawab, dengan 52% sampah dialihkan dari TPA. Pihaknya menilai, kinerja ini tujuh kali lebih baik dari tingkat dasar nasional.

Klien mereka dominan perusahaan. Walau tidak sedikit juga dari program itu manfaatnya dirasakan oleh individu. "Seperti layanan Send Your Waste atau Extended Producer Responsibility (EPR)," katanya.

Tak Mulus
Lainnya, CEO Enertec Mitra Solusi Mada Ayu Habsari yang menjalankan bisnis sistem efisiensi energi di Tanah Air. Model bisnisnya efisiensi energi adalah dibayar berdasarkan penghematan listrik yang terjadi.

Perusahaan yang sudah berdiri sejak 2014 ini, fokus melayani jasa atap surya, sistem pendingin HVAC, lampu LED, dan pompa. "Jadi, sederhananya bisnis kita yaitu menjual servis pengurangan tagihan listrik," kata Ayu yang berbincang via telepon, Jumat (20/8).

Proses penghematan itu berasal dari penggantian equipment dalam perangkat listrik dengan skema kontrak. Misalnya, pelanggan yang mempunyai AC lama pasti memiliki tagihan listrik yang tinggi. Jadi, bisa penggantian itu bisa mengurangi penggunaan listrik, maka terjadilah penghematan.

"Misal (biasanya) pelanggan bayar listrik Rp1 juta/bulan, tapi setelah dihemat tersisa Rp700 ribu. Berarti ada Rp300 ribu yang dihemat. Selisih biaya listrik itu yang menjadi nilai jual kami sebagai provider," ujarnya.

Kontrak dari setiap produk berbeda-beda dengan sistem built-operate-transfer (BOT), yang pada akhir kontrak barang akan dihibahkan untuk klien. Untuk perangkat solar panel bisa 20-25 tahun, chiller sekitar 8 tahun, lampu LED sekitar 4 tahun, pompa sekitar 4-5 tahun.

CCO Ecoxyztem Andreas Pandu Wirawan menyebutkan, minat menyandingkan bisnis dengan upaya perbaikan lingkungan menguat tahun-tahun belakangan. Terlihat dari banyak perusahaan rintisan ecopreneurship berintikan kalangan muda, muncul ke permukaan mencoba mengurai masalah yang ada.

Namun, misi baik tak selalu berjalan mulus. Pandu, sapaan akrabnya, menjelaskan setidaknya startup lingkungan muda akan merasakan beberapa hambatan pertumbuhan.

Seperti missing link antara ide yang dimiliki inovator dan kondisi di lapangan, ketiadaan tempat bernaung, hingga belum terbangunnya kesadaran masyarakat dan investor untuk ambil peran di dalamnya.  

Kondisi ini mendorong pihaknya bertransformasi menjadi Ecoxzystem, sebuah ventura yang menyediakan platform kolaborasi bagi universitas, startup tahap awal, investor, dan konsumen yang sadar lingkungan untuk mengatasi masalah iklim.

Sebelumnya, kelompoknya berafiliasi dengan Greeneration Indonesia yang berfokus menjual produk berwawasan lingkungan sejak 2011. Namun, karena dirasa belum cukup berdampak, kelompoknya bertransformasi menjadi Ecoxyztem awal 2021.

"Makanya kan sering dengar ada yang bilang 'pengen kontribusi (lingkungan) tapi bingung'... Yang kuliah di teknik lingkungan juga enggak tahu mau kerja di mana, startup juga enggak tahu gimana cari dana. Makanya, kita ingin mempersiapkan itu," ucapnya kepada Validnews, Jakarta, Kamis (19/8).

Transformasi ini juga bertujuan untuk menjadi support system perusahaan rintisan. Paling konkret, perusahaan manajemen sampah Waste4change menjadi portofolio utama Ecoxyztem. Lainnya ada startup Solusibanjir.id, Enertec dan Rifilio yang masih tahap penjajakan dan pengembangan.

Dia mengingatkan kunci sukses program bertajuk keberlanjutan mencakup people, profit dan planet. Usaha maksimal tercapai jika ada sisi ekonominya. Contohnya, masyarakat sulit berpartisipasi pada program-program pemerintah berwawasan lingkungan, karena merasa minim mendapat manfaat profit atau manfaat ekonomi dari kegiatan itu.

"Makanya kita ingin membentuk sistem yang profitable, semuanya bisa masuk dan ambil benefit," terangnya.

Ecoxyztem juga ingin untuk terus membantu Ecopreneurs memanfaatkan pembiayaan hijau senilai US$400 juta di Indonesia. Misalnya, Enertec telah mendapatkan kontrak untuk proyek senilai US$722.000, dengan potensi tingkat pengembalian internal atau IRT sebesar 16,04%.

Begitu juga Rifilo sedang dalam pembicaraan dengan beberapa perusahaan distribusi air; sementara Solusibanjir.id sedang dalam tahap pengembangan pelanggan. Kesemuanya yakin akan masa depan usaha bernuansa lingkungan ini.

Hasil survei Mckinsey 2019 menyebut, sebanyak 83% pemimpin perusahaan dan professional di bidang investasi mengharapkan, program pendanaan berbasis lingkungan, sosial dan tata kelola yang baik (ESG) dapat berkontribusi lebih tinggi pada penciptaan nilai bagi pemegang saham (shareholder value).

Mereka juga bersedia membayar 10% harga premium untuk mengakuisisi perusahaan dengan catatan ESG positif. Respons itu terdiri dari 558 responden yang merepresentasikan kawasan, industri dan ukuran perusahaan. Sebanyak 439 adalah pimpinan perusahaan, 119 profesional di bidang investasi.

Regulasi dan Pembiayaan
Pandangan Pandu soal tantangan startup lingkungan diakui Ayu. Profit yang didapat masyarakat, menjadi salah satu penentuh.  Ia menyebutkan, bisnis Enertec masih terbilang berat. Pasalnya, jenis usaha ini belum banyak dikenal orang. Masalah lainnya karena pencabutan regulasi, yakni Permen ESDM 14/2016 tentang Penyelenggaraan Usaha Jasa Konservasi Energi.

Ketiadaan regulasi ini juga membuat kondisi bisnis usahanya kehilangan landasan hukum. Akibatnya, aliran pembiayaan pun terpaksa mengandalkan pendanaan dari pihak-pihak luar negeri, yang concern pada isu lingkungan dan menurunkan emisi karbon.

"Tapi, kalau mau business as usual pergi ke bank, project financing, hingga hari ini belum ada yang menyetujui proyek energy efficiency," ungkapnya.

Berkebalikan dengan Enertec, Solusibanjir.id mengaku tak ada masalah dengan payung hukum. Yang menjadi kendala adalah penegakan hukum tentang kewajiban pembuatan sumur resapan dan pengelolaan air hujan masih begitu terbatas.

Adapun W4C menyebutkan mengalami masalah di dua bidang; regulasi dan kemitraan. Hingga kini, W4C mengaku belum menemukan kemitraan yang begitu mumpuni. Pengelolaan sampah masih dinilai tak begitu penting.

Meski menghadapi tantangan, para pengusaha di bidang lingkungan ini tetap meyakini kewirausahaan sosial masih memiliki peluang besar untuk berkembang, di tengah tumpukan masalah lingkungan.

Mereka juga yakin, masyarakat luas dapat menerima dan mengembangkan minatnya untuk berkontribusi kepada lingkungan, menggunakan produk milik startup. Pada saat sama, pemerintah juga bisa mendorong penerimaan itu dengan melakukan sosialisasi ke banyak daerah lagi. Semakin banyak warga merasa prihatin akan persoalan lingkungan, semakin besar ceruk pasar dan dukungan bagi pelaku ecopreneurship.

"Lembaga keuangan sebenarnya enggak mau kasih pinjaman karena tidak tahu cara mitigasi risikonya seperti apa. Siapa tahu kalau ada diskusi praktisi dan financial institution bisa ketemu gap-nya di mana, dicari solusi, hingga meminimalkan risiko itu," ucap Ayu.


Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER