Selamat

Minggu, 25 Juli 2021

BERITA

02 Juni 2021|10:16 WIB

Mendag Optimistis Food Estate Bakal Berdampak Besar

Indonesia masih membutuhkan setidaknya 3,3 juta ton beras, 5,5 juta ton gula, dan 600.000 ekor sapi setiap tahun

Penulis: Khairul Kahfi,

Editor: Fin Harini

ImagePetani menanam padi di lokasi Food Estate di Kecamatan Dadahup, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, Selasa (6/4). ANTARAFOTO/Bayu Pratama S

JAKARTA – Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyampaikan mendukung penuh program food estate. Program ini mampu membantu Indonesia menjaga ketahanan dan kedaulatan pangan nasional.

Melalui food estate, ia menilai akan terbentuk sebuah integrasi solid yang menghubungkan petani dan konsumen secara langsung. 

"Konsep food estate berbasis korporasi petani akan mendukung ketahanan pangan nasional,” jelas Mendag dalam keterangan pers, Jakarta, Selasa (1/6).

Menurutnya, ketika komoditas pertanian dikelola secara korporasi, profesional dan baik, maka akan menghasilkan hasil yang baik pula untuk para petani. 

Saat ini, sisi permintaan kebutuhan komoditas pangan pokok telah terpetakan. Misalnya, Mendag mencontohkan, Indonesia masih membutuhkan setidaknya 3,3 juta ton beras, 5,5 juta ton gula, dan 600.000 ekor sapi setiap tahun.

"Kebutuhan tersebut diyakini dapat terpenuhi, jika semua dijalankan secara profesional dan memaksimalkan teknologi yang ada. Salah satunya dengan cara food estate,” imbuh Mendag.

Salah satu komoditas yang telah menerapkan pertanian secara korporasi dan profesional adalah kelapa sawit. Saat ini, harga kelapa sawit tidak kurang dari US$1.200 per ton. Harga ini menyebabkan industri pertanian Indonesia mendapatkan hasil tertinggi dalam lima hingga enam tahun terakhir.

Selain itu, dengan adanya sistem elektronik juga akan mengubah dan merevolusi para petani dalam menanam, memproduksi, serta menjalin hubungan dengan para pemangku kepentingan secara baik.

Sebelumnya, Mentan Syahrul Yasin Limpo dan Menkop-UKM Teten Masduki mendorong program korporatisasi UMKM Indonesia diterapkan dalam sektor pertanian. Program ini akan didampingi oleh IPB guna membangun pertanian modern di berbagai daerah.

Nantinya, upaya tersebut direncanakan menggunakan varietas unggul untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen yang dikelola secara korporasi, sehingga ada jaminan akses pemasaran dan pembiayaanya.

Mentan SYL mengatakan, pihaknya dan Kemenkop-UKM dan perguruan tinggi akan bekerja sama dalam mengembangkan hulu-hilir sektor pertanian. Adapun Kemenkop-UKM bertugas membentuk kelembagaan dan off-farm.

Sementara, Kementan akan melakukan budidaya dan peningkatan produktivitas dan perguruan tinggi akan mengoordinasi budidaya tersebut baik hulu maupun hilir.

"Saya nanti akan main di budidaya dan produktivitas, sehingga besok akan ada varietas varietas tertentu apalagi untuk ekspor yang kita bedahi dari hulu sampai hilir dan itu yang kita hari ini kita lakukan di IPB," ucapnya, Minggu (30/5).

Terkait pelibatan perguruan tinggi dalam menciptakan inovasi produk khususnya produk pertanian, akan terus ditingkatkan. Guna menciptakan terobosan, baik di sisi hulu maupun hilir dengan teknologi pertanian.

"Kita perbaiki pasca panen dengan teknologi sederhana tapi mampu mengefisiensi losses, sesudah itu tentu saja packing baik akan membuat pasar lebih baik. Tidak hanya itu, di sanalah korporasi pertanian bisa dilakukan kita modali bersama dengan Menteri Koperasi sehingga offtaker lebih dipermudah," jelasnya.

Fokus Kembangkan Model Bisnis
Menkop-UKM Teten Masduki mengatakan, pihaknya akan fokus mengembangkan model bisnis di sektor pertanian. Dengan membentuk korporatisasi dari petani perorangan berskala sempit kemudian dioperasikan masuk skala ekonomi dan model bisnis.

Hal ini perlu dilakukan supaya petani bisa memproduksi dengan menggunakan bibit-bibit hasil riset yang bagus lalu juga terhubung dengan market dan pembiayaan.

Tidak hanya itu, lanjutnya, korporatisasi petani juga upaya dalam peningkatan ekspor. Selain itu, substitusi produk komoditas pertanian impor akan terus didorong.

"Hal tersebut untuk mengurangi ketergantungan pada produk yang tidak bisa diproduksi dalam negeri. Kita berharap produk-produk petani bisa menyerap tenaga kerja yang ada suplai pasar dengan stabil baik kualitasnya maupun juga kapasitas," kata Teten.

 


Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA