Selamat

Rabu, 1 Februari 2023

EKONOMI

01 Desember 2022

13:28 WIB

Melandai, Inflasi November 2022 Tercatat 5,42%

Kelompok pengeluaran transportasi menjadi yang paling tinggi mencatatkan inflasi, yaitu 15,45% yoy dengan andil kepada inflasi umum sebesar 1,86% yoy

Penulis: Rheza Alfian,

Editor: Faisal Rachman

Melandai, Inflasi November 2022 Tercatat 5,42%
Calon penumpang di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (26/8). Inflasi tiket transportasi udara menyumbang cukup besar kepada inflasi umum November 2022. Antara Foto/Muhammad Iqbal

JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi November 2022 sebesar 5,42% Year On Year (YoY), menurun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 5,71% YoY. Menurunnya inflasi terjadi karena tekanan inflasi dari harga yang bergejolak tercatat menurun.

“Terdapat tekanan inflasi yang melemah pada bulan November ini kalau kita lihat secara year on year. Pada bulan November ini terdapat inflasi 5,42%,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto dalam rilis BPS, Kamis (1/12).  

Jika dicermati lebih jauh, tingkat inflasi Month to Month (MtM) November 2022 sebesar 0,09% dan tingkat inflasi Year to Date (YtD) November 2022 sebesar 4,82%.

Ia menjelaskan, inflasi secara tahunan, terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau 5,87%. Kemudian kelompok pakaian dan alas kaki 1,53%; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 3,24%; kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 4,96%.

Selanjutnya, kelompok kesehatan sebesar 2,90%; kelompok transportasi sebesar 15,45%; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya 2,90%. Lalu, kelompok pendidikan 2,76%; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran 4,59%; dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 5,48%.  Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks, yaitu kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,40%.

Adapun komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi secara tahunan pada November 2022 antara lain beras 0,13%, telur ayam ras 0,11%, tempe 0,05%, ikan segar 0,09% dan bawang merah 0,09%. Selanjutnya, rokok kretek 0,05%, rokok kretek filter 0,015%, rokok putih 0,06%, sewa rumah 0,09%, bahan bakar rumah tangga 0,31%, dan kontrak rumah 0,07%.

Kemudian, upah asisten rumah tangga 0,05%, sabun detergen bubuk/cair 0,07%, bensin 1,15%, tarif angkutan udara 0,30%, tarif angkutan dalam kota 0,10%, mobil 0,08%, uang kuliah akademi/PT 0,06%, nasi dengan lauk 0,06%, dan kue kering berminyak 0,05%. Sedangkan komoditas yang memberikan andil/sumbangan deflasi tahunan, antara lain biaya administrasi transfer uang 0,02%.

Setianto melanjutkan, komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi bulanan pada November 2022, antara lain beras 0,01%, telur ayam ras 0,02%, tomat 0,02%, tempe 0,01%, tahu mentah 0,01%, sawi hijau 0,01%, bawang merah 0,01%, rokok kretek filter 0,02%, rokok putih 0,01%, dan emas perhiasan 0,01%.

“Sementara komoditas yang memberikan andil/sumbangan deflasi bulanan, antara lain cabai merah 0,08% dan cabai rawit 0,03%,” ungkapnya.



Komponen Harga Bergejolak
Setianto mengungkapkan, menurunnya angka inflasi juga terjadi karena melemahnya inflasi dari komponen harga bergejolak. “Melemahnya tingkat inflasi komponen harga bergejolak semakin meredam inflasi tahunan kita,” serunya.

Tingkat inflasi pada komponen harga bergejolak mengalami penurunan signifikan, yakni dari 7,19% yoy pada Oktober 2022 menjadi 5,70% yoy pada November 2022. Komponen tersebut juga tercatat menjadi yang paling rendah berkontribusi dari tingkat inflasi umum, yaitu 0,95% yoy.

Setianto menerangkan, melemahnya tekanan inflasi pada komponen harga bergejolak di November 2022 disebabkan oleh penurunan harga beberapa komoditas pangan.

Sedangkan inflasi pada komponen inti juga tercatat turun tipis, dari 3,31% yoy pada Oktober 2022 menjadi 3,30% yoy pada November 2022. Komponen yang menggambarkan daya beli ini memberi andil sebesar 2,17% yoy pada tingkat inflasi umum di bulan ke-11 tahun ini.

“Jadi secara keseluruhan tahunan inflasi inti ini masih relatif terkendali,” kata Setianto.

Adapun inflasi pada komponen harga diatur pemerintah (administrated price) pada November 2022 masih relatif tinggi, yakni 13,01% yoy. Sekalipun lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 13,28% yoy, andil komponen harga diatur pemerintah terhadap inflasi umum masih cukup tinggi, yaitu 2,30% yoy.

Sejumlah komoditas seperti bensin, bahan bakar rumah tangga, tarif angkutan udara, dan tarif angkutan dalam kota menjadi pendorong utama masih tingginya inflasi di komponen harga diatur pemerintah.

Untuk diketahui, angka inflasi umum pada November 2022 diperoleh BPS berdasarkan hasil pemantauan di 90 kota Indeks Harga Konsumen IHK. Kelompok pengeluaran transportasi menjadi yang paling tinggi mencatatkan inflasi, yaitu 15,45% yoy dengan andil kepada inflasi umum sebesar 1,86% yoy.

Sementara dari 90 kota IHK yang dipantau itu, Kota Tanjung Selor di Kalimantan menjadi wilayah yang mengalami inflasi tertinggi, yakni 9,20% yoy.

Sebelumnya Bank Indonesia (BI) memprediksi inflasi November bisa mencapai 5,5%, lebih rendah dari bulan sebelumnya. Inflasi sebesar itu terjadi dengan menghitung inflasi inti sebesar 5,71%. 

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan, perlu kebijakan untuk mengatasinya, meski inflasi di Indonesia masih lebih baik dari negara lain.

"(5,5%) masih tinggi dan masih perlu kebijakan untuk mengatasinya, namun sebenarnya kita berada pada posisi yang relatif lebih baik dibandingkan negara lain," kata Dody beberapa waktu lalu.

Jam Ke Jam
Terpisah, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta gubernur, bupati, wali kota untuk memperhatikan pergerakan inflasi dari jam ke jam. Ini karena indeks harga konsumen itu kini menjadi momok semua negara.

“Saya minta perhatikan dari waktu ke waktu, dari jam ke jam, pergerakan angka inflasi di daerah masing-masing. Ini penting sekali,” kata Presiden Jokowi saat menyerahkan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dan Buku Daftar Alokasi Transfer ke Daerah tahun 2023 di Istana Negara, Jakarta, Kamis.

Jokowi mengatakan, ancaman kenaikan inflasi menjadi salah satu tantangan perekonomian domestik maupun global pada tahun depan. Karena itu, para kepala daerah diminta turut berupaya keras mengendalikan pasokan dan stok barang dan jasa di daerah masing-masing.

“Ini momok semua negara. Inflasi. Sekali lagi, perhatikan pergerakan angka inflasi di daerah masing-masing,” kata dia.

Selain kepada kepala daerah, Jokowi juga turut meminta kepada kementerian dan lembaga nonkementerian (K/L) untuk mempercepat realisasi belanja khususnya belanja modal dan sosial di APBN dan APBN 2023.

“Saya minta percepat realisasi belanja,” kata Jokowi.

Kepala Negara meminta seluruh K/L dan pemda untuk memiliki kepekaan terhadap krisis dan selalu waspada dengan ketidakpastian global. Para pejabat pemerintah pusat dan daerah, kata dia, harus memahami bahwa saat ini dunia sedang berada dalam kondisi yang tak baik-baik saja.

“Semuanya harus betul-betul siap atas segala berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi, yang tanpa kita prediksi, yang tanpa kita hitung semuanya. Bukan hanya untuk mampu bertahan, tapi juga bisa memanfaatkan setiap peluang yang ada,” tuturnya.


KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER