Selamat

Rabu, 23 Juni 2021

BERITA

10 Juni 2021|21:00 WIB

Mei 2021, Serapan FAME Pertamina Capai 37,9% dari Target

Pada periode 2020, Pertamina hanya mampu menyerap FAME 89% dari penugasan pemerintah

Penulis: Zsasya Senorita,

Editor: Fin Harini

ImageBahan bakar bio diesel B30 (Antara News/Chairul Rohman)

JAKARTA – Pertamina mengumumkan, serapan fatty acid methyl ester (FAME) oleh BUMN ini hingga Mei 2021 telah mencapai 37,9% atau 2,96 juta Kilo Liter (KL) dari target. Mengacu pada Kepmen ESDM 252/2020, Pertamina mendapatkan alokasi untuk menyerap bahan biodiesel ini sebesar 7,81 juta KL selama periode 2021.

Sementara periode sebelumnya, realisasi serapan FAME dalam data Pertamina tercatat hanya di kisaran 89% dari target 2020, yakni 7,14 juta KL dari alokasi sebesar 8,02 juta KL.

Memasuki tahun 2021, Pertamina mengklaim permintaan terhadap bahan bakar biosolar B30 telah merata. Direktur Perencanaan & Pengembangan Bisnis PT Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra menyatakan, saat ini terdapat 5.518 SPBU di Indonesia sudah menyalurkan biosolar B30.

Mars mengatakan bahwa Pertamina terus meningkatkan keandalan suplai B30 dengan melakukan rekonfigurasi pola suplai biodiesel di 30 titik suplai. Serta memanfaatkan seluruh Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) di 114 lokasi untuk mencampur sekaligus menyalurkan BBM B30 di seluruh wilayah Indonesia.

Sekadar mengingatkan, B30 merupakan produk biosolar dari campuran 30% FAME sebagai biodiesel dengan 70% BBM jenis solar.

 “Sejalan dengan kebijakan mandatory implementasi biodiesel di seluruh sektor, Pertamina telah menyalurkan biosolar subsidi sebesar 13,3 juta KL di tahun 2020. Sedangkan tahun 2021 dari Januari hingga Mei, Pertamina telah menyalurkan 5,3 juta KL,” jelas Mars secara tertulis, Kamis (10/6).

Menjawab kebutuhan pasar domestik dan ekspor, Pjs Senior Vice President Corporate Communications & Investor Relation Fajriyah Usman menyampaikan bahwa Pertamina akan memperkuat fasilitas produksi melalui pengembangan Biorefinery dan pengembangan infrastruktur sektor hilir. 

“Untuk menjangkau wilayah yang lebih luas, saat ini Pertamina sedang menuntaskan pembangunan infrastruktur BBM dengan fokus pembangunan Terminal BBM di Kawasan Timur Indonesia,” ujar Fajriyah

Ia menambahkan,  untuk meningkatkan produksi biodiesel, Pertamina melalui Subholding Refinery and Petrochemical memiliki peta jalan untuk pengembangan Green Fuel berupa Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) yakni D100. Pertamina berencana memodifikasi dan mengembangkan unit Grass Root untuk produksi Green Diesel D100 yang berlokasi di Kilang Dumai, Cilacap, dan Plaju.

“Sebagai salah satu upaya Pertamina untuk kedaulatan energi nasional, pengembangan terus dijalankan diantaranya dengan terus mengembangkan produksi green gasoline dan green diesel di Cilacap. Pertamina akan terus mendayagunakan segala sumber daya alam domestik guna mendukung kemandirian dan kedaulatan energi nasional,” tandasnya.

Sebagai informasi, Kementerian ESDM mencatat angka pemanfaatan biodiesel tumbuh 3 kali lipat dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Hitungan realisasi biodiesel dimulai g sejak 2008 dengan memperkenalkan produk campuran biodiesel sebesar 10% (B10).

Puncaknya, realisasi produksi biodiesel mencapai 3,01 juta KL pada 2015, kemudian meningkat menjadi B30 dengan realisasi 8,46 juta kl pada 2020. 

“Kita punya track record yang bagus. Dalam waktu lima tahun bisa meningkatkan tiga kali lipat pemanfaatan bahan bakar nabati di dalam negeri,” klaim Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Dadan Kusdiana beberapa waktu lalu.

Ia menyatakan, keberhasilan ini telah menempatkan Indonesia sebagai negara yang diperhitungkan dalam pasar biodiesel dunia. Sebab, Indonesia menjadi negara penghasil biodiesel terbanyak melampaui Amerika Serikat, Brasil, maupun Jerman.

Substitusi bahan bakar fosil ini berdampak pula pada penghematan devisa sebesar Rp38,31 triliun atau setara US$2,66 miliar pada 2020. 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER