Selamat

Senin, 23 Mei 2022

EKONOMI | Validnews.id

EKONOMI

13 Mei 2022

20:15 WIB

Limbah Industri Pembawa Berkah

Bermula dari keisengan mempercantik tong sampah, Galuh memperoleh ide bisnis yang berpotensi ekspor

Penulis: Wiwie Heriyani,

Editor: Dian Kusumo Hapsari

Limbah Industri Pembawa Berkah
Produk Furnitur Ban dan Tong Bekas dari Galuh Creatives Gallery. Instagram/@galuh.creatives

JAKARTA – Limbah, baik dari sektor industri atau rumah tangga, kerap menjadi masalah. Tidak semua jenis limbah bisa terurai. Penimbunan atau pembuangan sembarangan, biasanya berujung pencemaran lingkungan.  

Sebagian orang di banyak belahan dunia bersiasat mencari manfaat dari limbah. Dasar pemikirannya dua; konservasi dan mencari manfaat ekonomi. Hal yang kerap dilakukan adalah mendaur ulang. Dari banyak upaya ini, ada di antaranya yang signifikan berhasil.   

Pasangan suami-istri di Tangerang Selatan, Galuh Rachmawati dan Nasih Bambang Irawan ada di antara mereka yang bersiasat itu. Keduanya membuka usaha kecil dan menengah (UKM) dengan memproduksi furnitur, interior, dan dekorasi untuk kafe, restoran, hotel dan rumah dengan bahan dasar limbah. Ban bekas, drum atau tong, hingga kaleng bekas didaur ulang menjadi lebih dari sekadar bermanfaat. 

Mereka kemudian mendirikan toko bernama Galuh Creatives Gallery, di kawasan Jalan Lengkong Karya, Tangerang Selatan, Banten. Di toko ini, keduanya berbisnis menjual furnitur dari limbah. 

“Jadi melalui usaha ini kami tidak hanya mempertimbangkan soal keuntungan, tapi juga berkomitmen turut berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan dan bahkan bisa memberdayakan masyarakat setempat,” ujar Galuh Rachmawati saat berbincangan dengan Validnews, Senin (25/4). 

Bermula Dari Iseng
Galuh, kini berusia 35 tahun, menceritakan awal mula ketertarikannya menggeluti bisnis dengan memanfaatkan limbah tong/drum dan kaleng. Dia mengaku tak pernah merencanakannya.  

Awalnya, Galuh dan suami kerap memanfaatkan tong bekas untuk dijadikan tempat sampah. Lalu pada tahun 2016, mereka iseng menyulap tong sampah tersebut menjadi lebih eye catching alias lebih menarik dipandang. Dari situ timbul ide membuat hal yang lebih punya manfaat ekonomi. 

Kemudian, Galuh menerapkannya pada usaha kursus bimbingan belajar yang dibesutnya. Dia memanfaatkan limbah tong tersebut menjadi kursi dengan warna dan desain yang atraktif untuk murid-muridnya itu. 

Gayung bersambut. Keunikan kreasi kursi-kursi dari tong bekas bukan hanya disuka murid-muridnya. Beberapa orang tua anak yang mengikuti kursus tersebut mengaku tertarik. Beberapa dari mereka pun mulai bertanya, ingin memiliki produk serupa. 

Perlahan ide bisnis ini bergulir. Galuh dan Nasih kemudian membuatkan. Pesanan perdana ini dibanderol Rp100 ribu.

Nah, dari situ kok ada yang pesen. Gini aja kok laku ya. Akhirnya dicoba lagi lah kita pasarkan. Ternyata responnya ya lumayan bagus sih,” ungkapnya antusias.

Pesanan perdana pada 2017 itu membuat keduanya bersemangat. Mereka menggali ide kreatif. Kerap pula sengaja berselancar di dunia maya untuk menggali informasi dan mendapatkan ide baru dan unik.  

Bermodal uang Rp500 ribu, Galuh membeli bahan baku utama yakni tong/drum bekas yang didapat dari pengepul. 

Selain kursi dan meja, dia mulai menyulap tong bekas menjadi sofa hingga wastafel. Ada cat warna-warni dan gambar, serta desain yang menjadi pemikat. Berawal promosi dari mulut ke mulut, pesanan pun mulai banyak berdatangan. Permintaan juga kian bervariasi. 

Galuh lantas mulai mekakukan promosi dan penjualan secara online. Dia memanfaatkan marketplace dan sosial media Instagram. 

“Dari bulan ke bulan lumayan udah makin naik gara-gara ketemu marketplace. Waktu itu kira-kira keluar modal 500 ribuan. Untuk beli bahan baku tongnya itu, sama bahan pendukung dudukannya yang dari spons itu dan catnya,” tuturnya.

Proses Produksi
Pasokan tong dan ban bekas sebagai bahan baku utama diakuinya tak sulit didapat. Wilayah Jakarta merupakan penghasil limbah industri terbesar. 

Awalnya Galuh mendapatkan limbah tong dan ban tersebut dari tetangga dan lingkungan sekitar rumah. Namun, selaras peningkatan pesanan, suplai tong dan ban bekas kian meningkat. Dia mencarinya di marketplace atau memesan khusus secara offline. Hingga pada akhirnya Galuh dipertemukan dengan pengepul limbah tong dan berlangganan dengan mereka hingga saat ini. 

Rantai pasok ini sangat krusial. Dalam sebulan, untuk memproduksi furnitur, keduanya menggunakan lebih dari 100 tong bekas berukuran kecil, 30 tong bekas berukuran besar, sejumlah ban bekas. Untuk urusan ban, biasanya pelanggan yang memesan khusus, kerap membawanya. 

Biasanya, bagi pebisnis furnitur sepertinya, membeli langsung tong bekas ke pengepul khusus adalah opsi terbaik. Selain lebih murah, langkah ini dinilai lebih efisien dan efektif. Beragam bentuk yang disiapkan, biasanya juga berguna untuk penyimpanan.  Galuh menyebut, dalam kurun waktu 2-3 hari dia bersama sang suami bahkan bisa memproduksi hingga 40 kursi.

Dalam pembuatan furnitur, Galuh juga mengkreasikan dengan tambahan materi lain. Kayu bekas palet biasanya diperlukan untuk memberikan tampilan desain yang lebih klasik. 

Omzet Besar
Selama hampir 7 tahun menggeluti bisnis tersebut, perlahan omzet mereka naik. Belakangan, omzet kotor bisa mencapai sekitar Rp50-60 juta per bulan. Namun, pandemi ini menggerus lebih dari setengahnya. Galuh Creatives Gallery pun terpaksa melakukan efisiensi.  

“Sebelumnya punya karyawan 3 orang. Gara-gara Covid-19 jadi enggak pakai karyawan lagi. Dulu jaya-jayanya bisa sampai Rp50-60 juta per bulan. Kalau sekarang, rata-rata dapat Rp30 juta. Omzet bersihnya 30-40% per bulan. Jadi kita dapat sekitar Rp10-15 juta lah,” terangnya. 

Pesanan yang melandai memang terdampak karena beragam kebijakan pembatasan. Saat pandemi, resto dan kafe yang biasa memesan beragam mebel itu banyak yang gulung tikar. Ada di antara mereka yang kemudian malah menjual barang yang dibelinya kembali ke toko milik Galuh dan Nasih.

“Pandemi waktu itu cukup berpengaruh besar. Bahkan, customer yang pernah beli ingin jual lagi furniturnya ke kita. Kan dia bangkrut ya buat kafe. Akhirnya ya kita terima, terus kita permak lagi jadi barang model lain,” ungkapnya. 

Kenyataan tersebut diakui sangat memukul. Ada masa dimana keduanya terbesit niat untuk menghentikan bisnis. Namun, pilihan itu tak diambil. Optimisme akan segera normalnya suasana membuat mereka tetap bertahan.

Ya, buah keyakinan pun muncul. Belakangan, mebel besutan mereka tak  hanya dipesan untuk restoran atau kafe saja. Produk furnitur dan kreasi dari tong bekas milik Galuh juga mulai banyak dilirik oleh berbagai perusahaan dan instansi di sejumlah wilayah Indonesia. Mulai dari bank, instansi kepolisian, Perusahaan Listrik Negara (PLN), hingga swasta memesannya.

“Yang paling gede proyeknya tuh dari Motul, perusahaan oli, mereka pesen tempat duduk untuk customer mereka di setiap cabang. Jadi, kita ngirimnya tuh sampai ke Medan, Padang, Palembang, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lombok. Pernah paling jauh di Papua. Di Papua itu untuk kursi-kursi di sekolah dan mimbar untuk di gereja,” ungkapnya dengan nada gembira.

Dilirik Pengusaha Hongkong
Kondisi kini tak membuat mereka puas. Galuh mengungkapkan keinginannya untuk melebarkan sayap ke negeri orang. Namun, nyatanya banyak kendala untuk bisa melakukan ekspor produk.

Dia bercerita, pernah mendapat pesanan dari salah seorang pengusaha asal Hongkong. Pengusaha luar negeri itu mengaku tertarik memakai produk furnitur untuk bisnisnya. Namun, Galuh menyebut, kurangnya SDM lagi-lagi menghambat kesempatan emas tersebut. 

“Dulu pernah kita tuh disamperin sama orang yang punya bisnis di Hongkong, dia tertarik untuk menjualnya lagi ke Eropa dalam jumlah besar. Kita disuruh bikin sampel, nah itu nggak bisa. Orang saya nggak bisa. Jadi ya SDM-nya belum siap,” beber perempuan yang membagi waktunya sebagai Dosen di Universitas Negeri Surabaya dan UIN Tulungagung itu.

Meskipun belum bisa melakukan ekspor, Galuh menyebut, bisnisnya tersebut mulai merambah ke berbagai daerah. 

Salah satunya adalah ke wilayah Bali yang terkenal dengan para pelaku bisnis yang menjual produk-produk furnitur kreatif. Rencananya, Galuh mengaku akan bekerja sama dengan salah satu pengrajin di sana membuat tempat tidur kucing/anjing. 

Saat ini, Galuh Creatives Gallery sudah menjual15 jenis produk melalui marketplace Tokopedia. Pemesanan produk mereka juga bisa dilakukan lewat sosial media Instagram @Galuh.creatives. Buat yang penasaran harganya, Galuh membanderol mebel limbah ini di kisaran harga  antara Rp135.000-4.350.000.

Dari apa yang ditekuni, Galuh mengaku optimistis terhadap masa depan usahanya. Dia juga mengaku bangga, secara tidak langsung juga berkontribusi untuk mendukung kelestarian lingkungan. 




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER