Selamat

Minggu, 25 Juli 2021

WIRAUSAHA

25 Juni 2021|21:00 WIB

Legitnya Cokelat Terus Melekat

Tantangan yang datang silih berganti tak membuat Thierry Detournay menyerah begitu saja untuk membangun Chocolate Monggo

Penulis: Yoseph Krishna,

Editor: Fin Harini

ImageSejumlah anak tengah membuat cokelat di showroom milik Chocolate Monggo di Kotagede, Yogyakarta, Sabtu (27/4/2019). ANTARAFOTO/Dok

YOGYAKARTA – Belgia, negara di Eropa itu menjadi salah satu kawasan yang sangat khas dengan cokelatnya. Bisa dibilang, cokelat Belgia menjadi primadona, baik di kawasan Uni Eropa maupun dunia.

Tak jarang, cokelat asal Belgia disebut sebagai cokelat terbaik di dunia. Hal itu tak lepas dari aspek rasa yang sulit untuk tertandingi. Cokelat Belgia menawarkan rasa klasik yang “bersih”.

Misalnya untuk varian cokelat susu, penikmat hanya akan mendapatkan gurih susu berpadu dengan legit cokelat, tanpa “pengganggu” seperti rasa buah atau yang lain. Atau, varian dark chocolate, dengan earthy flavor yang kuat tanpa gangguan rasa lainnya.

Tidak seperti di Swiss, di mana cokelat dengan mudah ditemukan di berbagai toko. Cokelat Belgia hanya dapat dijumpai pada kafe, kedai kopi, ataupun toko-toko cokelat premium tertentu. Konsumsi cokelat pun sudah menjadi hal yang biasa. Semua orang di Belgia addicted dengan cokelat.

Datang dari Belgia pada tahun 2001, Thierry Detournay awalnya berniat untuk mempelajari dan memperdalam kebudayaan Indonesia, khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta. Nah, di tengah menjalankan niatnya mempelajari kebudayaan Yogyakarta, pria kelahiran 1966 itu malah rindu kampung halaman.

Rasa rindu itu terutama tertuju pada cokelat khas negaranya yang sudah ia akrabi dari kecil. Kala itu, di Indonesia, aneka merek yang ia coba tak mampu membayar lunas rindu yang terasa. Karena rindu yang tak tertahan akan rasa yang tertanam, ia pun mulai iseng membuat cokelat dengan resepnya sendiri di kediamannya di Yogyakarta.

“Aku bikin itu karena sebenarnya mau beli cokelat di supermarket, tapi yang aku temukan kurang memuaskan, aku merasa kualitasnya kurang sesuai dengan yang aku tahu,” tutur Thierry kepada Validnews dari Yogyakarta, Kamis (17/6).

Tak hanya mengonsumsi sendiri, Thierry pun berbagi dengan teman-temannya, orang Indonesia. Respons yang ia peroleh para teman mencoba cokelat buatannya sangat di luar dugaan.

Mereka sangat menikmati cokelat buatan Thierry. Bahkan, menyarankan agar Thierry menjual cokelat racikannya itu.

Sempat menolak karena tujuan awalnya adalah mempelajari budaya Yogyakarta, Thierry akhirnya melunak dan memulai cerita terjun ke dunia cokelat.

“Temanku, orang Yogyakarta itu tidak pernah merasakan sesuatu seperti itu. Temanku bilang kita harus jualan ini. Padahal, aku di sini bukan untuk bisnis, tapi untuk tinggal sebentar belajar budaya Yogyakarta dan Indonesia. Tapi akhirnya, dimulailah kiprah saya terjun di dunia cokelat,” kata dia.

Memulai Cerita
Setelah tekadnya membulat, Thierry mengawali kiprah dengan menjajakan cokelat buatannya di acara Sunday Morning (Sunmor) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Kala itu, ia menggunakan motor vespa berwarna pink sebagai operasional.

Tak lama setelah itu, Thierry bersama sang kekasih membuka toko dengan nama Toko Kulit Cokelat. Ide awal nama toko ini muncul dari rasa insecure pacarnya atas kulit cokelat yang ia miliki.

Ia menceritakan, kekasihnya itu merupakan gadis keturunan salah satu daerah di Pulau Sulawesi.

“Kulit dia kecokelatan karena dia dari Sulawesi, akhirnya kita bikin toko namanya Kulit Cokelat dan kita bikin cokelat yang enak saat itu,” ungkap Thierry.

Sayang seribu sayang, Toko Kulit Cokelat tak mampu bertahan dalam jangka waktu panjang. Kemampuan atau daya beli masyarakat setempat yang masih terbatas kala itu menjadi alasan bubarnya Toko Kulit Cokelat.

Namun sedikit demi sedikit, Thierry merasakan mulai banyak orang yang meningkat kapasitas ekonominya. Thierry menyebut harga cokelat memang tidak pernah naik, kemampuan ekonomi masyarakat setempatlah yang meningkat.

Beberapa waktu berselang, pasca Toko Kulit Cokelat bubar, Thierry melanjutkan kiprahnya di dunia percokelatan dengan mendirikan Chocolate Monggo. Pada awal berdirinya Chocolate Monggo, Thierry membuat produk cokelat praline dan menjualnya di sejumlah supermarket di Yogyakarta.

Lagi-lagi, langkah ini belum begitu menjanjikan bagi Thierry. Namun, ia tak mau berhenti begitu saja. Ia terus memutar otak, memikirkan ulang konsep dari Chocolate Monggo.

Thierry kemudian mencoba mengemas cokelat dalam bentuk souvenir sebagai oleh-oleh dari Yogyakarta.

“Aku tidak akan berhasil kalau jual cokelat hanya sebatas cokelat. Tapi karena Yogyakarta ini kan pariwisatanya cukup baik, banyak orang yang kunjungi Yogya, lalu kemudian aku buat sebuah oleh-oleh, souvenir produk dari Yogyakarta,” kata Thierry.

Thierry turut menjabarkan asal-muasal nama ‘Chocolate Monggo’. Menurutnya, kata ‘Monggo’ merupakan representasi dari budaya Jawa, khususnya Yogyakarta. Orang asing yang datang ke Yogyakarta, pasti akan terus mendengar kata ‘Monggo’.

“Itu (orang Yogyakarta) menurut aku sangat sopan, ramah, dan low profile. Kita menganggap ‘Monggo’ ini benar-benar Yogyakarta,” sebut dia.

Thierry menjelaskan, keunikan Chocolate Monggo juga terdapat pada proses akulturasi budaya barat dan budaya Indonesia. Cokelat merupakan budaya orang Belgia, sedangkan kata ‘Monggo’ menjadi kekhasan dari Yogyakarta.

“Cokelat yang merupakan budaya Belgia, sedangkan namanya dari Jawa, itu kita gabungkan dua budaya dalam satu produk Chocolate Monggo,” paparnya.

Proses Sederhana
Namun, akibat minimnya modal untuk berbisnis, Thierry saat itu mencari bahan cokelat jadi yang sesuai dengan perspektifnya. Eksperimen pun dimulai dengan mencoba-coba berbagai bahan itu dengan peralatan yang sederhana.

Thierry lantas mempelajari resep-resep cokelat dari Belgia, dan memadukannya dengan bahan-bahan dari Indonesia. Ia mengakui butuh waktu lama untuk mematenkan resepnya.

Menurutnya, resep dari Eropa jika diterapkan di Indonesia belum tentu rasanya bisa sama, khususnya pada aspek kadar gula ataupun bahan lainnya.

Akibat perbedaan itu, Thierry terus menyesuaikan resep, agar mencapai suatu produk yang sesuai dengan seleranya.

“Belajarnya memang lama, kita bikin sesuatu yang sederhana dahulu, kemudian lebih rumit, lebih rumit, dan lebih rumit. Itu prosesnya,” jelasnya.

Tak heran, ketika Chocolate Monggo sudah berdiri, Thierry sudah siap dengan berbagai resep yang sudah kokoh.

Kemudian untuk memperdalamnya, Thierry mencari orang yang memahami operasional mesin-mesin pabrikan secara mendasar.

Jika pada masa persiapan ia lebih mengulik resep, setelah Chocolate Monggo berdiri, ia terus berinvestasi pada mesin produksi yang dibutuhkan, agar bisa memroses biji kakao hingga menjadi produk jadi.

“Kita berkembang, mendalami dan berinvestasi dalam bentuk mesin yang kita butuhkan untuk memroses dari hulu ke hilir, dari biji kakao petani sampai produk jadi ke tangan konsumen,” ucap Thierry.

Kala itu, Thierry memulai bisnisnya dengan memroduksi Dark Chocolate bentuk batangan. Ia tidak ingin memproduksi cokelat yang manis, tapi cokelat yang premium.

Baginya, seperti itulah cokelat berkualitas top.

Ia tak memungkiri mayoritas warga Yogyakarta saat itu cenderung menyukai makanan manis, sementara Dark Chocolate punya rasa yang sedikit lebih pahit. Namun, ia tak menyerah dan terus memperkenalkan cokelat yang lebih pahit.

Sebagai kompromi atas selera masyarakat setempat, Thierry kemudian meracik cokelat dengan adonan di dalamnya, seperti adonan praline, hingga adonan caramel yang cenderung manis.

“Itu di dalamnya ada cokelat juga. Jadi, supaya oke ya makan cokelat pahit tapi ada manisnya di dalam, komprominya seperti itu,” jelasnya.

Variasi Biji Kakao
Akibat minimnya relasi petani kakao di Yogyakarta saat itu, Thierry bercerita, harus mencari bahan baku biji kakao dari sejumlah daerah di Indonesia. Dari berbagai daerah yang dikunjunginya, Thierry mencoba melakukan blending untuk mencari rasa tertentu.

Hingga saat ini, Thierry masih menyerap biji kakao dari petani.

Bahkan kini ia telah memiliki relasi dengan petani kakao dari Gunung Kidul dan Kulon Progo, Yogyakarta yang sudah paham betul tentang mengolah biji kakao.

Tak hanya Yogyakarta, Chocolate Monggo juga sudah menyerap biji kakao dari petani asal Madiun, Jawa Timur. Hal ini dilakukan untuk mencari ciri khas biji kakao dari setiap daerah yang memiliki rasa berbeda-beda.

“Sangat banyak variabel yang mempengaruhi hasil final biji kakao, mulai dari jenis tanah, orientasi kebun, ketinggian, jenis pohon, hingga cara mengolahnya, ini menarik sekali,” ujarnya.

Namun, ia menyayangkan masih banyak petani kakao lokal yang belum memfermentasikan biji kakao. Padahal, kualitas cokelat unggulan terlahir dari biji kakao yang terfermentasi.

“Banyak yang tidak memfermentasikan biji kakao karena mereka hanya jual murah dari lemak biji kakao. Buat mereka fermentasi itu tidak penting karena mereka tidak paham untuk membuat cokelat yang bagus itu biji kakao harus terfermentasi agar rasa cokelatnya muncul di biji kakao,” paparnya.

Dari bermacam jenis yang dimiliki Chocolate Monggo, Thierry menyebut Dark Chocolate menjadi yang terlaris, baik dalam bentuk batang, hingga tablet. Apalagi selama pandemi covid-19, banyak orang yang mencari cokelat yang semakin hitam karena diyakini, semakin berkhasiat untuk kesehatan.

Sebelum covid-19 masuk ke Indonesia, Thierry mengakui Chocolate Monggo juga menjual banyak box souvenir yang isinya bermacam, mulai dari cokelat batang, hingga cokelat praline yang menjadi ciri khas Belgia.

“Cokelat kecil dalam box itu terlihat lebih mewah. Setiap cokelat punya adonan dan rasa yang unik-unik. Biasanya, dibeli sebagai hadiah valentine, lebaran, atau apapun. Orang senang beli produk itu untuk dikasih ke temannya atau keluarga,” tandas Thierry.

Lebih lanjut, Thierry memaparkan semua jenis Dark Chocolate harga per kilonya sama. Perbedaan harga mulai terlihat dalam kuantitas pembelian, partai kecil atau partai besar. Secara keseluruhan, dengan uang Rp10 ribu, masyarakat bisa kok membeli beberapa potong cokelat.

Namun untuk cokelat bar ukuran 40 gram dengan beberapa potongan di dalamnya, ia banderol di kisaran Rp20 ribu.

“Itu ada isian atau tanpa isian. Isiannya bisa strawberry, caramel, milk, atau murni Dark Chocolate,” imbuhnya.

Dua Jurus
Sekadar informasi saja, di awal berdirinya, Chocolate Monggo berlokasi di rumah kecil di Jalan Parangtritis, bukan sebagai toko fisik, tetapi hanya tempat produksi.

Kemudian, gempa yang mengguncang Yogyakarta memaksa Chocolate Monggo untuk angkat kaki dari tempat itu dan pindah ke Kotagede.

Kotagede pun menjadi tempat di mana Chocolate Monggo pertama kali membuka toko fisik sekitar tahun 2008-2009, tepat di depan pabriknya. Saat itu total karyawan baru sekitar 7-10 orang.

Tak hanya membuka cabang toko fisik, Chocolate Monggo juga membeli aset di Bangunjiwo, Bantul. Di tempat itu, Thierry juga membentuk museum cokelat sebagai sarana edukasi mengenai produk tersebut kepada masyarakat.

Memulai Chocolate Monggo sejak 2006, Thiery mengakui brandnya itu mulai dikenal masyarakat pada 2009. Sejak itu, penjualan selalu meningkat bahkan mulai ekspansi ke daerah lain, seperti Jakarta dan Bali

Berpusat di Daerah Istimewa Yogyakarta, Chocolate Monggo hingga tahun 2017 sempat membuka cabang, antara lain di selatan Yogyakarta, Bandara Adi Sutjipto, Ambarukmo Plaza, hingga Jakarta.

“Yang Jakarta, tokonya sudah tutup karena pandemi. Kita juga sempat buka gerai kecil di Ambarukmo Plaza, tapi karena pandemi covid-19 ya kami putuskan untuk tutup juga,” ujarnya.

Saat ini, Chocolate Monggo Cabang Jakarta dan Bali hanya berperan sebagai stock point, yakni menyuplai ke supermarket dan beberapa toko cokelat.

Perebakan covid-19 secara global memang mau tak mau ikut ‘menyentil’ bisnis Thierry. Tak hanya menutup sejumlah toko fisik, karyawan Chocolate Monggo pun juga berkurang dari sekitar 200 orang menjadi hanya 100 orang saja.

Soal penjualan cokelat, tentu saja ikut terdampak. Secara keseluruhan, Thierry mengakui sebelum pandemi ia mampu menjual 50.000-60.000 batang cokelat per bulannya.

Namun kini, penjualan selalu berubah, untungnya masih lebih dari 1.000 batang cokelat per bulan.

Melihat hal itu, Thierry tak tinggal diam. Chocolate Monggo akhirnya memutuskan untuk masuk ke semua platform e-commerce di Indonesia, mulai dari Shopee, Tokopedia, Bukalapak, Blibli, hingga Lazada.

“Sebelum pandemi itu kita belum ada (online sales). Kita sedikit menjual di website dan kita terima online juga tapi masih tradisional, yakni lewat WhatsApp. Sekarang selain masuk ke e-commerce, kita juga pasang iklan di Instagram, Google juga demikian,” ungkapnya.

Dia menyebut berdagang di marketplace pada masa pandemi covid-19 sungguh menjanjikan karena menjadi tren baru kebanyakan orang. Sistem logistik di Indonesia pun menurutnya sudah berkembang semenjak pandemi.

“Lewat e-commerce, kita mungkin 2-3 kali per bulan mendapat pesanan dari luar negeri, khususnya Malaysia dan Singapura yang dekat-dekat lah,” kata Thierry.

Meski menjanjikan, Thierry tak memungkiri penjualan lewat toko fisik juga masih bisa diandalkan dengan catatan menggunakan strategi yang matang. Setidaknya ada dua strategi yang harus digunakan, yakni location strategic dan concept strategic.

Mendirikan toko sekaligus museum cokelat di Bangunjiwo, Bantul, menurutnya menjadi salah satu strategic concept yang dilakukan oleh Chocolate Monggo.

“Kalau lokasi misalnya di Malioboro, itu orang akan tetap belanja di tempat seperti itu. Tapi kalau bikin toko lokasinya enggak strategis, itu akan susah dan lebih baik jual online,” pungkasnya.

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER