Selamat

Jumat, 24 September 2021

15 September 2021|17:44 WIB

Legislator Minta Jaminan E-Commerce Sebelum Realisasi AAEC

Masih ada kekhawatiran ketidakmampuan lokapasar malah membuat suasana pertumbuhan industri berdampak kepada ekonomi nasional.

Penulis: Khairul Kahfi,

Editor: Dian Hapsari

ImagePedagang cermin mengamati produk yang dipasarkannya di aplikasi jual beli di kawasan Pejompongan, Jakarta. ANTARAFOTO/Dhemas Reviyanto.
JAKARTA - Legislator tekankan daya saing dan daya tahan bisnis pelaku e-commerce di dalam negeri pasca pengesahan Persetujuan ASEAN mengenai Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (AAEC) menjadi undang-undang.  

Masih ada kekhawatiran ketidakmampuan lokapasar malah membuat suasana pertumbuhan industri berdampak kepada ekonomi nasional.

Anggota Komisi VI DPR Herman Khaeron mengatakan, secara umum komisi VI DPR RI ingin diyakinkan oleh pelaku pasar di dalam negeri berkaitan ratifikasi AAEC. Ditilik dari sisi bisnis perdagangan digital di regional. 

Pasalnya, keandalan serta kemampuan para pemilik lokapasar di Indonesia saat ini bakal menentukan pertumbuhan ekonomi digital dalam negeri beserta turunannya. Karenanya, pelaku utama e-commerce dituntut mengetahui sejauh mana kekuatan dan ancaman AAEC.

"Saya khawatir nanti menjamur e-commerce baru di singapura, lalu mengalahkan lokapasar (Indonesia) dengan berbagai varian produk yang mungkin lebih menjaga kualitas," terangnya dalam RDPU 'peningkatan perdagangan dalam negeri pada e-commerce', Jakarta, Rabu (15/9).

Herman pun menekankan, persaingan perdagangan digital bakal dijalani secara regional, bukan lagi dalam negeri semata. Adapun laporan mengenai pertumbuhan signifikan e-commerce Indonesia mesti jadi modal baik untuk berkompetisi. 

Legislator pun berharap, e-commerce nasional mampu menjadi jangkar utama menahan kekuatan e-commerce ASEAN. Herman mencontohkan, nantinya realisasi kebijakan AAEC juga bakal membuat suasana perdagangan digital semakin agresif. 

"Thailand dengan produknya akan lebih agresif, mereka bisa meng-intercept bisnis e-commerce di Indonesia. Lalu, produk China mungkin akan mudah distribusi lewat Singapura. Ini harus jadi perhatian, kemampuan dalam melawan ecommerce yang merupakan konsekuensi AAEC," jelasnya. 

Saat ini, Kemendag mencatat, kontribusi Perdagangan Melalui Sistem Elektronik mencapai 7% dari total PDB di ASEAN. Pertumbuhan niaga elektronik di ASEAN diperkirakan bakal menjadi sebesar US$200 miliar pada 2025.

Sementara itu, performa niaga elektronik di ASEAN telah tumbuh hingga tujuh kali lipat, dari US$5,5 miliar pada 2015 menjadi US$38 miliar pada 2019. 

Sementara itu, nilai transaksi niaga elektronik Indonesia pada 2021 diperkirakan akan mencapai Rp354,3 triliun, meningkat sebesar 33,11%/tahun dibandingkan 2020 yang hanya mencapai Rp266,2 triliun. 

Dari sisi volume transaksi juga terdapat peningkatan signfikan yaitu tumbuh 68,34%/tahun. Pada 2021, diprediksi volume transaksi mencapai 1,3 miliar transaksi atau naik sebesar 38,17%/tahun dibandingkan tahun 2020 yang hanya sebesar 925 juta transaksi. 

Minta Perhatikan Kualitas

Hermank juga meminta pengelola lokapasar benar-benar serius memperhatikan kualitas produk barang yang dijual. Selama ini, konsumen e-commerce nasional tidak asing menemui barang dengan merk sama namun selisih harga barang terlampau jauh. 

Dirinya menyarankan untuk lokapasar memiliki skema kode etik harga barang jualan. Hal ini pun diminta tidak luput diperhatikan e-commerce untuk menunjang kompetisi perdagangan digital nantinya lewat penerapan AAEC. 

Ia pun menyarankan, agar e-commerce kakap di Indonesia mampu menyeleksi penjual barnag, agar bisa disortir antara produk yang berkualitas dan tidak. 

"(Nantinya) persaingan e-commerce di tingkat ASEAN semakin ketat. Kalau produknya tidak bisa dipertahankan kualitasnya, bisa lewat," katanya. 

Tidak lupa, dirinya juga minta lokapasar untuk benar-benar memperhatikan keadaan sistem untuk menjamin perlindungan data pribadi. Sekaligus berusaha menangkal upaya pembobolan database lokapasar asal Indonesia. 

"Pada akhirnya, nomor ponsel, alamat rumah dan riwayat transaksi mungkin bisa dipakai menjadi modus operandi sistem penipuan. Ini harus betul-betul diperhatikan," tegas Herman.

Menanggapi hal itu, CEO Tokopedia William Tanuwijaya optimistis pelaku perdagangan digital akan mampu menjawab tantangan AAEC. Suka atau tidak, akunya, sejak awal berdiri perusahaan perdagangan digital mesti berhadapan dengan perdagangan antar negara atau cross border. 

"Dari awal saja kami terbentuk dari orang-orang bermodal kecil dan diragukan semua pihak. Jadi dari awal kita harus siap bersaing," tegas William. 

Sementara itu, keberpihakan Tokopedia terhadap pelaku usaha di dalam negeri juga dibuktikan dengan beragam upaya. Paling kentara, pembatasan pedagang asing untuk bisa berjualan di dalam platform-nya. 

"Kami tidak buka (peluang) pedagang asing bisa berjualan di platform kami. Tokopedia kasih proteksi maksimal yang bisa kami lakukan yaitu yang bisa jualan dari dalam negeri," ujarnya. 

Executive Director Shopee Indonesia Christin Djuarto menyebut, peningkatan ekspor dan kualitas produk jadi poin utama untuk memperkuat daya saing UMKM nasional di platform. 

Apalagi, dirinya juga cukup optimis saat ini tren perbaikan produk UMKM untuk memperbaiki kulitas sudah semakin besar, dengan beberapa produk yang mampu melenggang di tingkat dunia, seperti apparel lokal Erigo. 

"Kualitas memang harus diperhatikan, saya setuju agar dapat meningkatakan daya saing Indonesia maka harus perhatikan itu," jelasnya. 
Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER