Selamat

Rabu, 23 Juni 2021

WIRAUSAHA

24 Mei 2021|20:34 WIB

Keresahan Berbuah Bisnis Berkesinambungan

Riset mendapati bahwa para perempuan seringkali memiliki pakaian yang maksimal hanya dipakai empat kali

Penulis: Rheza Alfian,

Editor: Nadya Kurnia

ImageModel berpose saat "fashion show" yang dilakukan secara daring di sebuah agensi di Buah Batu, Bandun g, Jawa Barat, Jumat (26/3/2021). ANTARA FOTO/Rai

JAKARTA – Ada lelucon yang acapkali dilontarkan perempuan kepada sesamanya. Lelucon ini bahkan populer di kalangan para bapak-bapak. Para perempuan kerap berseloroh, ‘Setiap kali mau pergi ke acara, rasanya kok selalu enggak ada baju, ya? Padahal isi lemari penuh dengan pakaian’. 

Namun pada kehidupan keseharian, pernyataan keresahan itu bukan isapan jempol. Banyak yang merasa, pakaian yang ada di lemari pun sudah terlalu sering digunakan alias “itu-itu lagi”. 

Keresahan ini lah yang mendasari Dea Salsabila Amira, perempuan lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Mercubuana, sebagai peluang bisnis. Dea yang saat itu bekerja di salah satu firma investasi, kerap merasakan sama. 

“Sebagai perempuan saya tuh merasa seperti kekurangan baju kalau misalkan buka lemari, wah kayaknya enggak ada baju nih dipakai untuk hari ini,” ujarnya saat berbincang kepada Validnews melalui sambungan telepon di Jakarta, Senin (24/5).

Dea kemudian mencari solusi. Sebelumnya, ia melakukan survei terhadap 500 perempuan di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Hasilnya, mayoritas perempuan ternyata juga mengeluhkan keresahan yang sama.

Hasil riset yang sama mendapati bahwa para perempuan seringkali memiliki pakaian yang maksimal hanya dipakai empat kali. Karena setelahnya mereka pasti bosan. Pakaian yang sudah dipakai beberapa kali itu pun juga cenderung mengalami penurunan kualitas. Ada saja kerusakan di berbagai sisi.

Dea juga menemukan hasil yang menarik. Ternyata, para perempuan sangat ingin jika diberikan kesempatan untuk bisa menikmati koleksi fesyen tanpa batas dengan harga yang terjangkau. Selain itu, mereka juga mengaku rata-rata mengeluarkan Rp600.000 per bulan untuk membeli dua hingga tiga potong pakaian.

Usung Sustainable Fashion
Solusi Dea datang dalam bentuk ‘lemari awan’, yakni lemari impian yang diisi dengan pakaian dari berbagai pilihan gaya desainer yang tak terbatas untuk disewa, dikenakan, lantas dikembalikan dan disimpan.

Dari konsep tersebut, Rentique terlahir. Nama itu diambil dari singkatan ‘rent and boutique’, yang jika diterjemahkan artinya adalah penyewaan dan butik. Setelah mendapatkan investor pada Agustus 2019, Rentique langsung tancap gas. Segala keperluan bisnis, seperti stok barang, website, hingga aplikasi andalan untuk menyewa disiapkan.

Selain menjadi solusi bagi mereka yang ingin tampil dalam kondisi terbaik setiap harinya, Rentique juga ingin menjadi wadah gerakan fesyen berkelanjutan yang nyata.

Menurutnya jika perempuan benar-benar membeli tiga potong pakaian setiap bulannya, pada akhir tahun lemari perempuan akan dipenuhi 36 pakaian setiap tahunnya, dan terus bertambah pada tahun-tahun berikutnya.

“Dari hal tersebut saya yakin enggak semuanya itu akan dipakai di tahun berikutnya, karena mungkin tadi ada yang rusak kualitasnya, segala macam. Nah dia itu akan dibuang dan menyumbang sampah,” ujar Dea.

Kampanye yang dilakukan Dea dan Rentique bukan tanpa alasan. Data menunjukkan, rata-rata perempuan membuang 37 kg pakaian per tahun, menjadikan industri ritel menjadi pencemar terbesar kedua di dunia setelah industri minyak.

Pun, secara global, menurut UN Alliance for Sustainable Fashion, industri mode menyumbang 20% dari limbah air dunia yang secara langsung berdampak pada ketersediaan air bersih. Tidak hanya itu, industri tersebut pun menyumbang 10% dari total emisi karbon dunia yang berdampak pada perubahan iklim, yang mana industri aviasi (penerbangan) hanya menyumbang 2%. 

Menurut United Nations Partnership on Sustainable Fashion and the SDG’s, serat kain dari limbah tekstil juga diprediksi menjadi penyebab plastik masuk ke air laut. Sementara, The United Nations Environment Programme (UNEP) mengungkapkan, industri fashion berkontribusi 92 juta ton sampah solid di tempat pembuangan akhir (TPA).

Jaga Higienitas
Dari awal, Rentique juga menyadari kesadaran masyarakat yang tinggi akan kebersihan. 

Hingga saat ini kampanye higienitas masih terus digaungkan. Apalagi, masih banyak pengguna baru yang menggunakan jasa sewa pakaian di Rentique. Tidak tanggung-tanggung, dalam menjalankan bisnisnya Dea bekerja sama dengan mitra laundry tepercaya yang mengantongi Certified Environmental Cleaner (CED). 

“Artinya adalah bahwasanya semua item yang dicuci laundry oleh mereka itu aman untuk lingkungan dan aman untuk penggunanya,” kata Dea.

Rentique pun mengklaim tidak akan pernah melakukan dry clean dan tidak pernah menggunakan perchloroethylene yang beracun. Pelarut yang digunakan adalah bahan kimia berbasis minyak non-berbahaya dan non-fosfat.

Belakangan, kesadaran masyarakat akan kebersihan pun lebih meningkat setelah pandemi Perubahan gaya hidup dan peningkatan kesadaran ini pun telah diantisipasi. Rentique dan rekan laundry-nya berusaha menyebarkan informasi tentang higienitas kebersihan produk-produknya.

“Jadi kami benar-benar kasih informasi dari awal item itu diterima, diproses, penyuciannya, pengepakannya, supaya orang tuh orang juga yakin treatments-nya Rentique ini benar-benar terjaga. Jadi dari awal kami memang sudah campaign-kan dari awal mulai pandemi itu,” ujar Dea.

Sekadar informasi. pada 2021, layanan Rentique telah mencakup 31 provinsi di Indonesia, dengan lebih dari 55.000 pengguna aktif pada aplikasi iOS dan Android. Rentique juga baru saja menyabet penghargaan aplikasi terbaik kategori Hidden Gem oleh Google.

Rentique kini telah memiliki lebih dari 5.000 produk fesyen dari desainer internasional maupun lokal, dan telah bekerja sama dengan lebih dari 60 brand lokal

Sempat Terdampak Pandemi
Bisnis Rentique pun sempat terkena dampak pandemi covid-19. Omzet Rentique sempat menurun 60%. Untungnya penurunan bisnis itu tak bertahan lama. 

Namun demikian, kenaikan omzet belum bisa kembali normal seperti semula. Perempuan yang pernah terpilih mewakili Indonesia dalam program International Youth Forum di Beijing ini mengungkapkan, kini omzet masih mencapai 75–80% dari perolehan sebelum pandemi. Meski begitu, tren penyewaan pakaian di Rentique terus meningkat setiap bulan seiring perbaikan daya beli masyarakat.

Perubahan tingkah laku karena pandemi membuat masyarakat lebih memilih sistem membership di Rentique.

“Jadi orang tuh sudah mulai aware, dibanding beli baju terus-terusan mending saya (pengguna .red) nyewa dapat delapan item per bulan harganya tuh cuma Rp290.000,” ujarnya.

Mereka terakomodasi dalam aplikasi yang disediakan. Baik di Google Play Store maupun Apple Store, nantinya, terdapat dua pilihan penyewaan, yakni one time rental dan dream closet (membership).

Jika memilih one time rental, pengguna dapat menyewa pakaian, aksesoris, maupun tas dengan harga sewa mulai dari Rp80.000 per empat hari. Namun jika memilih dream closet, pengguna mendapatkan delapan item dengan hanya merogoh kocek Rp290.000 per bulannya. Dengan perubahan persepsi di masyarakat ini, Dea memproyeksikan kenaikan penyewaan pakaian akan signifikan.  

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER