Selamat

Minggu, 25 Juli 2021

BERITA

12 Juni 2021|16:43 WIB

Kepala SKK Migas Harap Proyek JTB On-Stream Tepat Waktu

Proyek JTB merupakan salah satu dari sekian proyek migas di Indonesia yang masuk visi SKK Migas untuk mewujudkan target 1 juta BOPD dan 12 BSCFD pada 2030

Penulis: Khairul Kahfi,

Editor: Fin Harini

ImageSeorang pekerja proyek di Lapangan Gas Unitisasi Jambaran-Tiung Biru yang dikelola oleh PT Pertamina EP Cepu (PEPC), Bojonegoro, Jatim. (ist)

BOJONEGORO - Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto berharap proyek Jambaran-Tiung Biru (JTB) agar on stream sesuai jadwal, yakni  pada pengujung 2021. Sehingga manfaatnya dapat segera dirasakan langsung oleh masyarakat di dalam negeri.

Adapun proyek JTB merupakan salah satu dari sekian proyek migas di Indonesia yang masuk visi SKK Migas untuk mewujudkan target 1 juta BOPD dan 12 BSCFD pada 2030.

Sementara, proyek pengembangan gas JTB dioperatori oleh PT Pertamina EP Cepu (PEPC), merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional yang ditetapkan presiden melalui Perpres 109/2020.

"Makanya, kami harapkan Proyek EPC GPF ini dapat segera tuntas, sehingga mendatangkan manfaat untuk masyarakat dan bangsa Indonesia. Ini tugas bersama SKK Migas, PEPC, dan semua pihak. Saya berharap sinergi terus dilakukan untuk kesuksesan Proyek JTB,” ujar Dwi dalam keterangan resmi, Jakarta, Sabtu (12/6).

Dengan mengusung semangat 'Gas On Stream 2021', saat ini lapangan yang akan memproduksi gas sebesar 192 MMSCFD ini telah mencapai lebih dari 90% pada fase pembangunan Gas Processing Facility atau GPF. Tepatnya, pada 5 Juni 2021, progres pembangunan fasilitas produksi dengan kapasitas 330 MMSCFD ini telah mencapai 91,34%.

Selain memastikan proyek dapat berproduksi tepat waktu, SKK Migas dan PEPC juga akan memastikan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sesuai target sebesar 40,33%. Pengawalan TKDN untuk memastikan proyek ini juga memberikan efek langsung pada perekonomian masyarakat Indonesia.

Direktur PT PEPC Awang Lazuardi optimistis target on-stream dapat tercapai sesuai rencana, walaupun ada beberapa tantangan yang harus diselesaikan.

"Dalam proyek EPC GPF, terdapat beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan pada tahap akhir. Seperti penyelesaian gedung, penyelesaian konstruksi piping dan cabling, commissioning serta beberapa penyelesaian pekerjaan lainnya," jelas Awang.

Awang menambahkan, kinerja PEPC tak lepas dari berbagai dukungan masyarakat. Perusahaan mengapresiasi semua pihak yang sudah membantu kelancaran proses proyek. Mulai dari dari pemerintah pusat, Kabupaten Bojonegoro, aparat keamanan, mitra kerja dan masyarakat luas.

Dukungan PGN
Sebelumnya, Perusahaan Gas Negara (PGN) menandatangani Dokumen Penyaluran Gas dengan Rekayasa Industri (Rekind) terkait kegiatan pre-production sumur Jambaran-Tiung Biru (Commissioning JTB). Hal ini dimaksudkan sebagai wujud komitmen dukungan terhadap peningkatan produksi migas pada proyek backbone energi nasional,

“Proses commisioning dan sinergi dengan Rekind merupakan komitmen bersama untuk menjaga produksi migas nasional dapat memenuhi target. PGN nantinya juga akan mengelola gas dari JTB sekitar 192 BBTUD,” jelas Direktur Utama PGN M Haryo Yunianto, Semarang (9/6).

Ia berharap, dengan besarnya volume gas bumi dari JTB dapat meningkatkan ketahanan produksi energi untuk keperluan Jawa Tengah, Jawa Timur maupun nasional.

Gas bumi dari JTB dapat diutilisasi untuk pemenuhan permintaan gas Jateng maupun Jatim di sektor industri, rumah tangga, transportasi, dan pembangkit listrik. Aktifnya proyek JTB akan dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan produksi migas nasional.

"JTB bernilai penting bagi perekonomian wilayah Jateng, Jatim dan nasional. Aktifnya produksi di lapangan tersebut dapat membantu pemenuhan gas di sektor kelistrikan, kemudian bisa dioptimalkan untuk komersial industri, transportasi, UMKM ataupun rumah tangga,” jelas Haryo.

Dalam hal ini, Rekind merupakan main contractor EPC Gas Processing Facility (GPF) dalam proyek JTB. Gas bumi yang diperlukan untuk proses commissioning sebesar 4-8 BBTUD selama 6-8 bulan.

Gas dari JTB, tambahnya, dapat dialirkan melalui Pipa Transmisi Gresik Semarang yang telah selesai dibangun. Dengan cadangan gas sebesar 2,5 Tcf, JTB diharapkan dapat menciptakan multiplier effect dan membantu mengatasi defisit pasokan gas di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Sebagai salah satu backbone energi nasional, JTB akan dapat menunjang upaya pengembangan energi bersih gas bumi di masa transisi energi dari fuel menuju energi terbarukan yang lebih bersih, ramah lingkungan, dan efisien.

Selain kemandirian nasional, JTB akan berperan penting dalam upaya bauran energi nasional yang ditargetkan mencapai 23% pada 2025.

“PGN sebagai Subholding Gas dan bagian dari Holding Migas Pertamina berkomitmen untuk meningkatkan performa lifting migas nasional dan pemanfaatan energi bersih gas bumi di Indonesia. Komitmen ini juga bagian dari upaya memajukan perekonomian nasional,” pungkasnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA