Selamat

Rabu, 23 Juni 2021

BERITA

03 Mei 2021|21:00 WIB

Kemilap Unik UMKM Keramik

Demi mewujudkan brand kuat, Naruna menggunakan bahan-bahan terpilih dari daerah tertentu

Penulis: Fitriana Monica Sari,

Editor: Fin Harini

ImageIlustrasi keramik. ANTARAFOTO/Dok

JAKARTA – Memotret makanan sebelum mulai menyantapnya, seolah jadi “ritual” masyarakat masa kini. Terlebih, untuk hidangan yang disajikan dengan plating mengesankan dan ditata apik sedemikian rupa di atas piring keramik atau kayu. Hasil foto semacam itu pun kini banyak dijumpai hilir mudik di media sosial.

Peralatan makan atau tableware dengan material keramik dan kayu dianggap punya nilai lebih. Ada kesan artistik yang mampu mengeluarkan nuansa elegan pada meja makan. Dua bahan tersebut dianggap sebagai kombinasi harmonis untuk bahan baku tableware. Tak heran jika keduanya banyak diburu masyarakat, terlebih kafe dan restoran di kota-kota besar.

Roy Wibisono Anang Prabowo, founder Naruna, adalah salah satu pengusaha pembuat ceramic tableware dan woodenware asal Salatiga, Jawa Tengah yang berhasil memanfaatkan peluang tersebut. 

Pria kelahiran tahun 1972 itu telah merintis usahanya sejak Oktober 2019, enam bulan sebelum pandemi covid-19 menerpa Tanah Air. Kala itu, bisnis digelar di garasi rumah beralamatkan Jalan Kauman 9B, Salatiga.

Kini, bisnis itu mampu meraup ratusan juta rupiah per bulan atau naik 12 kali lipat. Jumlah pegawai pun bertambah menjadi lebih dari 100 karyawan. Mereka terdiri dari 65 karyawan tetap dan 40-an karyawan tidak tetap.

Bermodalkan bekal pendidikan jurusan kimia di Universitas Diponegoro, Roy yang memahami dan bahkan mengambil topik skripsi tentang bahan baku keramik, berambisi untuk membuat sebuah brand kuat keramik Indonesia.

"Saya ingin membuat, harus ada brand kuat keramik Indonesia. Pengin ada suatu kebanggaan 'oh ini keramiknya Indonesia'," ungkap Roy kepada Validnews melalui sambungan telepon, Rabu (28/4).

Semua bermula pada Agustus 2019. Waktu itu, Roy melepas jabatan sebagai direktur di salah satu perusahaan keramik yang telah diemban selama empat tahun. Dia kemudian membuka usaha pembuatan cangkir keramik Naruna. Bisnis baru ini mesti dirintis dari awal alias nol.

"Sebenarnya saya sudah pernah coba juga tahun 2005 atau 2006, namanya Sigar Bencah Keramik. Cuma itu tidak bisa cepat naiknya. Dari situ, saya sementara tutup dulu. Kemudian, saya buat brand lagi (Naruna.red). Jadi tetap terus berusaha dan menyiapkan yang terbaik," imbuhnya. 

Sebelum benar-benar membuka Naruna, ayah dari dua anak ini mengaku telah "mencicil" persiapan sekitar 20 tahun lamanya. Mulai dari riset membuat formula keramik yang baik, belajar marketing dan design, membeli beberapa alat dan bahan, hingga memperluas koneksi.

Demi mewujudkan mimpi brand kuat, Naruna tak sembarangan memproduksi. Untuk produk berbahan baku keramik, misalnya, Naruna hanya menggunakan bahan baku terbaik. Seperti tanah liat atau clay yang didatangkan dari Sukabumi dan Pontianak, kaolin dan pasir kuarsa dari Bangka, felspar dari Banjarnegara, serta calsite dari Wonogiri.

"Kualitas tanah liat dari kedua daerah tersebut sangat bagus dan tahan saat dibakar hingga suhu 1.250 celcius," ucap Roy. 

Dalam proses usahanya, Roy bahkan pernah coba membuat keramik berbahan lumpur Lapindo dan abu Merapi saat mencari paduan bahan yang pas. Sementara untuk bahan kayu, Naruna memanfaatkan limbah perusahaan furniture yang kemudian diolah menjadi aneka tableware.

Riset
Proses pembuatan cangkir keramik dinilainya tidak terlalu susah. Bermula dari tanah liat yang dibentuk, selanjutnya dibiarkan hingga mengering dengan cara dijemur selama tiga hari. Setelah itu, baru dilakukan proses pewarnaan dan dibakar selama 24 jam dengan suhu sampai 1.250 celcius. Jika semua proses telah selesai, tinggal dilakukan finishing. Roy menyulapnya menjadi kerajinan yang bernilai tinggi.

Cangkir, piring, dan teko set, adalah beberapa jenis kerajinan keramik yang dibuat Naruna. Seperti kala mencari paduan bahan yang pas, motif dan bentuk cangkir keramik buatan Naruna tidak asal buat. Namun, melalui proses riset panjang oleh orang-orang yang ahli di bidangnya, sehingga karakter yang muncul bisa menonjol dan menjadi ciri khas. 

Upaya memunculkan ciri khas, diakui Roy tidaklah mudah. Akan tetapi, ini dilakukan lantaran Naruna mengincar segmen konsumen kafe dan restoran.

Untuk produk hasil olahan kayu, yakni mulai dari piring, gelas, telenan, mangkok, tatakan, cangkir, dan sendok. Roy mematok harga puluhan hingga ratusan ribu rupiah. Variasi harga tergantung pada ukuran. Juga, kerumitan produksi, termasuk pewarnaannya.

Keunikan membuat Naruna tumbuh bongsor dalam setahun, dan kerap memancing ketakjuban orang. Hasil produksi Naruna sudah dipasarkan ke seluruh Indonesia dengan pasar utama di kota-kota besar, seperti Jabodetabek, Padang, Medan, hingga Makassar. Naruna juga mampu menembus pangsa pasar luar negeri. Singapura, India, Qatar, Dubai, hingga Australia sudah terjamah cangkir keramik Naruna.

"Keramik produksi Naruna mampu menembus pangsa pasar luar negeri karena desainnya yang menyesuaikan perkembangan zaman. Motif-motif dalam gelas keramik ini unik, sehingga kompetitor tidak bisa masuk dalam penawaran yang sama," kata Roy.

Melihat jumlah pasar yang luas, tidak heran jika Roy bisa mengantongi hingga ratusan juta per bulan. Total modal awal yang dikeluarkannya sebesar Rp50 jutaan pun dapat mudah balik, hanya perlu hitungan dua sampai tiga bulan usaha berlangsung.

Suka Campur Duka
Meski mampu mendulang sukses pada usia muda, Naruna dimulai dengan serba kekurangan. Naruna yang tidak punya kantor, membuat Roy memboyong serta dua karyawan untuk menggelar meeting  beberapa kali di burjo alias warung bubur kacang ijo.

Tiga gelas minuman dan satu porsi mendoan akrab menemani meeting kala itu. Setelah meeting usai, ketiganya akan pulang ke rumah masing-masing untuk mengerjakan tugas yang sudah dibagi. Rutinitas ini berlangsung hingga dua bulan pertama.

"Kami memulai usaha dengan serba kekurangan, tapi justru hal ini membuat kami semakin berjuang keras untuk mewujudkan mimpi bersama. Modal uang bukan hal yang utama, tapi semangat, optimisme, dan daya juang itulah modal yang paling utama," terang Roy.

Begitu pun dengan modal awal, yang kala itu sulit dikumpulkan Roy. Namun, dengan perputaran omzet dan perhitungan yang cermat, semuanya bisa pelan-pelan ia kumpulkan.

Puncaknya adalah ketika membangun branding dan mempenetrasi pasar. Pasalnya, harga cangkir keramik Naruna yang dipatok Rp120.000 termasuk mahal. Mencapai 12 kali lipat dari harga cangkir di pasaran Salatiga yang dibanderol hanya Rp10.000.

"Naruna ini produk baru. Produk tidak terkenal, kok jualnya segitu. Awalnya ya itu suka duka. Tapi kita hadapi dengan senyuman. Alhamdulillah sekarang sudah bisa berjalan dengan lancar,” kenangnya, soal cerita orang.

Rintangan tak berhenti sampai di situ. Selanjutnya adalah bagaimana bisa melatih puluhan karyawan untuk membuat keramik. Meski sulit, ia tetap hadapi. Ia pun selalu sedia mendampingi, agar transfer ilmu berlangsung maksimal.

“Jadi intinya kalau kita bilang masalah, ya ada 1.000 masalah. Tapi, kami punya 1.001 cara untuk menyelesaikan masalah itu," tegas Roy.

Terkini, Naruna telah mempunyai showroom megah dengan konsep menarik. Pengunjung bisa melihat proses pembuatan produk-produk Naruna, belanja, hingga makan di studio. 

Namun seakan datang beriringan, ada pula rintangan lain yang mesti kembali ia hadapi. Persoalannya klasik, lahan parkir yang terbatas karena banyaknya pengunjung yang berdatangan silih berganti. Sebagai solusi, perusahaan keramik ini tengah melobi warga sekitar, agar parkir tertangani.

Dibalik semua kisah dukanya, ia juga menceritakan kisah sukanya. Suatu pagi, office boy-nya yang berusia senja, menginjak 60 tahun, mengaku dapat membeli tanah dan membangun rumah. Walau kecil, rumah itu merupakan impiannya sejak dulu. 

Manfaatkan Pandemi
Tak sama seperti unit usaha lainnya yang terhempas gelombang pandemi, Naruna masih tetap tumbuh dan berkembang. Awal pandemi menghantam Tanah Air, tepatnya Maret 2020, pesanan Naruna masih terbilang banyak. Bahkan, omzet yang didapat terus mencatatkan kenaikan hingga 25%.

Semula Roy yakin, kenaikan omzet kala itu didorong oleh beberapa orderan yang masih dikerjakan. Namun, sebulan berlalu, dua bulan terlewati, hingga bulan keempat berganti omzetnya terus melesat tajam. Dia pun sempat menaruh curiga.

"Bulan keempat saya nanya, 'ini kok kita naik terus, ada apa, salah itung atau bagaimana'. Waktu itu kan orang banyak pengusaha yang rontok, banyak pengusaha ambyar, lah kita kok masih jalan terus, benar gak?" katanya.

Setelah bulan keenam, ia pun akhirnya menemukan jawaban atas pertanyaan memenuhi benaknya selama beberapa bulan belakangan. Strategi bisnis yang kuat tak hanya mampu menyelamatkan Naruna dari badai corona yang kuat, tapi juga tumbuh membesar.

Roy mengaku kalau persaingan penjualan barang-barang serupa tergolong ketat. Oleh sebab itu, ia punya strategi khusus dalam mengelola Naruna. Sebagai pemilik, Roy merekrut anak-anak muda yang profesional, mau bekerja keras dan bekerja cerdas. Da juga mendengarkan kemauan konsumen tentang produk apa yang harus diproduksi. 

Naruna menerima custom design sesuai permintaan pelanggan, bisa menyatukan ide dan gagasan untuk membuat sebuah produk yang bisa di-branding dengan logo sesuai pesanan. Kekuatan lainnya berasal dari riset, desain, produksi, marketing, serta leadership yang kuat.

Roy menuturkan, awal berdiri penjualannya hanya sebesar Rp5 juta. Kemudian naik perlahan tapi pasti menyentuh Rp30 juta yang tentunya masih berada jauh di bawah Rp100 juta. Namun ketika pandemi, bisnisnya moncer. Ia mampu mendulang untung hingga 12 kali lipat atau sebesar Rp500 jutaan per bulan.

Melihat pertumbuhan usahanya yang cukup pesat meski di tengah pandemi yang menerjang, Roy tertantang untuk terus menjangkau pasar yang lebih luas. Salah satunya dengan menggenjot penjualan online melalui berbagai media sosial dan marketplace. Juga, terus melakukan riset serta berinovasi untuk menciptakan produk yang lagi trend di pasaran. 

Di sisi lain, penguatan brand juga ditegaskan lewat media sosial. UMKM keramik ini selalu bangga menyatakan dirinya sebagai brand lokal melalui setiap unggahan di akun resmi Instagram @naruna.official. 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA