Selamat

Jumat, 24 September 2021

30 Agustus 2021|13:08 WIB

Kelangkaan Kontainer Hambat Ekspor UMKM

Ada alternatif pasar yang bisa diambil UMKM

Penulis: Yoseph Krishna,

Editor: Fin Harini

ImageSeorang pekerja menyaksikan bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (24/8/2021). ANTARAFOTO/M Risyal Hidayat

JAKARTA – Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menyebutkan sebetulnya di tengah pandemi covid-19, permintaan ekspor terhadap produk UMKM masih tinggi, namun terkendala sejumlah hal. Khususnya terkait ketersediaan kontainer dan kapasitas produksi.

Melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Teten mengamini kelangkaan kontainer menjadi inti permasalahan dari sistem logistik, khususnya di perdagangan ekspor-impor. Kalaupun bisa diusahakan, harus ada tambahan biaya pengiriman yang cukup mahal.

"Kondisi ini tak hanya dihadapi pengusaha besar, tetapi juga UMKM orientasi ekspor. Sebetulnya permintaan ekspor sudah banyak untuk produk seperti kopi, furnitur, buah-buahan tropik, dan macam-macam kuliner, tetapi kita terkendala kontainer," ujarnya, Senin (30/8).

Permasalahan itu, lanjut Menteri Teten, masih dalam perundingan dan perumusan oleh Komite PEN lintas kementerian sehingga saat ini belum ada skema yang tepat. Tak sampai situ, Teten juga tengah mempelajari kondisi serupa yang terjadi di negara lain.

"Memang harus dihitung jika ada biaya tambahan kontainer seberapa besar kebutuhannya dan berapa kali lipat dari nilai subsidi nanti bisa diberikan kepada transaksi ekspornya," imbuh Teten.

Sejalan dengan pembenahan permasalahan logistik, Teten mengungkapkan pihaknya juga tengah membidik UMKM potensi ekspor dengan market demand yang besar namun supply chain yang masih berantakan. 

Sebagai contoh, ia menyebut briket dari tempurung kelapa dan gula semut memiliki permintaan yang besar dari sejumlah negara dan bisa diekspansi lagi di dalam negeri.

Ia amat menyayangkan permintaan kedua produk yang tinggi itu tidak bisa dipenuhi. Berdasarkan hasil pantauannya di Sulawesi dan Jawa Barat, Teten menyebut ketidakmampuan UMKM memenuhi permintaan itu tak lepas dari sejumlah aspek persoalan, mulai dari kapasitas produksi hingga manajemennya.

Beragam persoalan itu ditengarai sebagai penyebab minimnya kontribusi ekspor UMKM yang masih di kisaran 14,37%. Untuk itu, Teten menilai alternatif jalan keluar yang paling memungkinkan dari kondisi saat ini adalah fokus kepada pasar dalam negeri untuk menyubstitusikan produk impor, seperti buah-buahan hingga fesyen muslim yang sudah dibatasi impornya.

Teten berharap sektor konsumsi dalam negeri dapat terus naik beriringan dengan pulihnya perekonomian secara utuh. Hal tersebut mengingat ekonomi Indonesia yang masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga hingga 53%.

"Adanya pelonggaran PPKM akan mendongkrak kegiatan ekonomi. Jadi sekarang program kami terus memikirkan bagaimana UMKM survival dan menyiapkan juga transformasi UMKM pascapandemi nanti," kata Menkop.

Lebih lanjut, Teten menyebutkan, pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM juga terus melancarkan strategi pemulihan ekonomi lewat sejumlah kebijakan yang mengakomodir kepentingan UMKM. Hal ini untuk membantu UMKM bertahan di tengah badai covid-19 yang tak juga usai.

Strategi pemulihan yang terus dilancarkan itu, sambungnya, mulai dari restrukturisasi hingga Banpres Produktif Usaha Mikro (BPUM) yang akan mengakomodasi para pelaku UMKM untuk menjalankan strategi mempertahankan usahanya di tengah pandemi.

"Daya beli masyaraka turun, sementara kebutuhan masyarakat diprioritaskan untuk kebutuhan pokok. Jadi sektor UMKM ini tengah dalam masa survival yang terus kita dorong," tandasnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER