Selamat

Sabtu, 16 Oktober 2021

14 Oktober 2021|12:16 WIB

KADIN : Ekosistem Industri Properti Perlu Pembenahan

Sektor properti punya keterikatan kuat dengan berbagai sektor lainnya

Penulis: Yoseph Krishna,

Editor: Dian Hapsari

ImageFoto suasana apartemen di Jakarta Barat. ANTARAFOTO/Galih Pradipta.

JAKARTA – Kepala Badan Pengembangan Kawasan Properti Terpadu Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia Budiarsa Sastrawinata menegaskan harus ada pembenahan ekosistem industri properti dalam rangka efisiensi pemenuhan kebutuhan properti, khususnya perumahan dan permukiman.

Dalam Indonesia Housing Forum secara daring, Budiarsa menyebutkan kualitas ekosistem industri punya nilai cukup krusial, tak sebatas dalam pemenuhan kebutuhan permukiman, tetapi juga untuk menggerakkan perekonomian secara utuh.

"Karena industri properti beririsan langsung dengan industri ikutan dalam lingkupnya, ataupun industri penunjang berkaitan lainnya," jelas Budiarsa dalam siaran pers di Jakarta, Kamis (14/10).

Krusialnya peranan properti terhadap perekonomian terlihat dari efek berganda yang ditimbulkan terhadap 175 industri lainnya serta 350-an UMKM terkait. Penggunaan material lokal dari sektor properti bisa mencapai kisaran 90%-100% dengan serapan tenaga kerja hingga 30 juta orang.

Ia juga menjelaskan industri properti punya kontribusi terhadap PDB Nasional sekitar 7–9% apabila dihimpun dengan sektor terkait secara keseluruhan, mulai dari perumahan, konstruksi, transportasi, penyediaan akomodasi, makanan dan minuman, pengadaan listrik dan gas, pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah, dan daur ulang, jasa keuangan, hingga asuransi.

"Industri properti di Indonesia punya keterkaitan yang kuat dengan sektor konstruksi, infrastruktur, industri pariwisata, manufaktur," ungkapnya.

Keterikatan itu terlihat dari cakupan industri properti yang luas karena di dalamnya meliputi berbagai aspek, seperti permukiman yang terdiri dari perumahan, ruko, serta apartemen, hingga kawasan superblock yang terdiri atas pusat perbelanjaan dan perkantoran.

Tak hanya itu, industri properti di dalamnya juga mencakup kawasan transit oriented development (TOD), seperti bandara dan pelabuhan, kawasan pariwisata yang terdiri atas resort, hotel, dan ecotourism, serta kawasan kota baru, peremajaan kawasan kota, dan kawasan industri, seperti KEK dan EPZ.

Semua cakupan itu pun turut terkoneksi dengan kebutuhan jasa keuangan, misalnya perbankan, pajak, REITs, Tapera, dan BPJS. Bahkan, lingkup industri properti juga terhubung dengan jasa penunjang lain, seperti brokerage, konsulten, hingga manajemen pengelola gedung dan perumahan.

Untuk itu, Budiarsa berpendapat rantai pasok industri properti harus diidentifikasi secara rinci guna membenahi problema yang kemudian dapat memudahkan untuk merumuskan kebijakan, mulai dari tata ruang, ketersediaan lahan, kepastian hukum tanah, kemudahan perizinan, insentif, pemasaran, bahan bangunan, hingga pembiayaan dan tata kelola operasional.

"Bila ekosistem industri propertinya baik, supply chain-nya juga baik, maka akan mempermudah akselarasi pengembangan kebutuhan di sektor ini," kata Budiarsa.

Dengan adanya ekosistem yang berkualitas dan rantai pasok yang baik, Budiarsa pun permasalahan yang ditemui di sektor properti dapat segera terjawab, termasuk menjawab tantangan yang ada, khususnya menekan kesenjangan backlog perumahan.

"Ekosistem yang berkualitas akan menjawab permasalahan yang ditemui di sektor properti, tanpa terkecuali menjawab tantangan di saat ini yaitu menurunkan kesenjangan antara ketersediaan dan kebutuhan perumahan," tandasnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA