Selamat

Kamis, 1 Desember 2022

EKONOMI | Validnews.id

EKONOMI

25 November 2022

15:00 WIB

IOG 2022 Hasilkan 28 Kesepakatan Komersial Senilai US$2,3 Miliar

Penandatanganan kontrak-kontrak tersebut akan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Pasalnya, minyak mentah, kondensat dan gas yang terjual, seluruhnya akan disuplai untuk keperluan domestik

Penulis: Yoseph Krishna,

Editor: Faisal Rachman

IOG 2022 Hasilkan 28 Kesepakatan Komersial Senilai US$2,3 Miliar
Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto berbicara pada Konvensi Internasional III Industri Hulu Minyak dan Gas Indonesia 2022 di Nusa Dua, , Bali, Rabu (23/11/2022). Antara/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

NUSA DUA - Sebanyak 28 kesepakatan komersial dicapai dalam 3rd International Convention on Indonesian Upstream Oil and Gas (IOG) 2022. 

Kesepakatan tersebut meliputi 10 dokumen prosedur Election No To Take in Kind (ENTIK) dan 18 dokumen perjanjian jual beli gas bumi (PJBG), amandemen PJBG, heads of agreement, hingga MoU untuk gas pipa, LNG, dan LPG.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Dwi Soetjipto pada kesempatan itu menjelaskan sebanyak 28 perjanjian tersebut menghasilkan lifting minyak dan kondensat sebesar 265 ribu barel minyak per hari dan proyeksi lifting gas bumi 390 TBTU dengan rentang durasi kontrak 2-11 tahun.

"Total potensi penerimaan dari 28 dokumen perjanjian itu diperkirakan mencapai US$2,3 miliar," sebut Dwi di Nusa Dua, Bali, Jumat (25/11).

Secara rinci, ia menyebut, perjanjian ENTIK diteken antara SKK Migas dengan PT Pertamina Hulu Energi. Kemudian, PJBG antara PT Pertamina EP dan PT Krakatau Steel dan amandemen PJBG antara PT Medco E&P Indonesia dengan PT Pupuk Sriwidjaja Palembang.

Selanjutnya, terdapat pula Memorandum of Understanding antara Inpex Masela dengan PT Badohopi Nickel Smelting Indonesia. Lalu, HoA antara PT Pertamina (Persero) dengan PT Nusantara Regas dan Jadestone Energy (Lemang) Pte Ltd dengan PT Pertamina Patra Niaga.

Tak sekadar menghasilkan pendapatan, Dwi Soetjipto menyebut penandatanganan kontrak-kontrak tersebut akan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. 

Pasalnya, minyak mentah dan kondensat yang terjual, seluruhnya akan disuplai untuk keperluan domestik.

Sementara itu, untuk gas yang terjual nantinya akan disuplai ke pabrik pupuk dan petrokimia di Sumatra Selatan dan Sulawesi Tengah, pengembangan industri di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Tengah, hingga kelistrikan untuk kebutuhan PLN.

"Kemudian LPG dari Sumatera Selatan rencananya akan seluruhnya dipasok untuk kebutuhan dalam negeri. Ini menjadi komitmen hulu migas dalam menjaga ketahanan energi nasional," tuturnya. 

Komersialisasi migas, khususnya gas bumi disebutnya, menjadi salah satu pilar strategis dalam mendukung pencapaian produksi 1 juta barel minyak per hari dan 12 miliar kaki kubik gas bumi per hari pada 2030 mendatang.

Produksi tersebut akan diprioritaskan untuk pembeli dalam negeri. Namun, Dwi menyebut tantangannya ialah kebutuhan gas bumi nasional yang cenderung stagnan. 

Sejak 2012, rata-rata pertumbuhan pemanfaatan gas bumi oleh pembeli dalam negeri ialah 1% per tahun.

"Pertumbuhan itu lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 4%-5% per hari," tutur Dwi.

Karenanya, Dwi menegaskan harus ada terobosan dari seluruh pihak terkait dalam rangka mendongkrak kebutuhan pembeli gas bumi di dalam negeri. Diharapkan, kerja sama dan koordinasi yang baik antara SKK Migas, pembeli, dan penjual dapat terus terjaga dan ditingkatkan untuk memastikan produksi dapat dimonetisasi dengan optimal.



Investasi Migas
Sebelumnya, Dwi Soetjipto menyebutkan, industri hulu migas Indonesia membutuhkan investasi sekitar US$179 miliar untuk mendukung transisi energi yang sejalan dengan meningkatnya kebutuhan energi baru terbarukan. 

"Tren global lain yang mempengaruhi industri migas adalah isu transisi energi," ucapnya. 

Dwi menambahkan, beberapa perusahaan minyak besar telah memasukkan pengurangan karbon dan investasi energi terbarukan dalam strategi portofolio mereka. 

Upaya itu dilakukan mencermati investasi migas perlu ditingkatkan karena perlu memasukkan program pengurangan karbon. Di sisi lain, persaingan untuk mendapatkan investasi di bidang migas semakin meningkat. 

Dwi menambahkan sembari memenuhi ambisi mewujudkan emisi nol, pihaknya perlu memaksimalkan nilai sumber daya minyak dan khususnya gas. Tujuannya, kata dia, untuk memastikan keamanan dan keterjangkauan energi di kawasan. 

Untuk itu, industri hulu migas berupaya mencapai target produksi minyak satu juta barel per hari (BOPD) dan produksi gas 12 standar kaki kubik per hari (BSCFD) pada 2030. Untuk mengejar target lifting migas tersebut, dibutuhkan upaya kuat untuk meningkatkan iklim investasi migas di Indonesia. 

"Investasi yang signifikan dan partisipasi aktif dari pelaku domestik dan internasional diperlukan untuk membuka potensi migas. Menyadari hal tersebut, pemerintah Indonesia telah menunjukkan komitmennya untuk bekerja sama dengan para kontraktor," imbuh Dwi.

Hulu Migas
SKK Migas dan Kementerian Keuangan meluncurkan sistem Informasi terintegrasi dan pertukaran data sektor hulu migas, untuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan kegiatan usaha tersebut.

"Kolaborasi dalam pertukaran data ini diharapkan memberikan dampak positif dalam kecepatan konsolidasi data serta efisiensi secara proses dan waktu," kata Dwi. 

Kementerian Keuangan dan SKK Migas juga menyusun kamus data untuk memastikan standarisasi dan konsistensi dalam pertukaran dan pemanfaatan data. 

Staf Ahli Menteri Keuangan Sudarto menjelaskan berdasarkan data laporan keuangan pemerintah pusat tahun 2021, nilai total barang dari kegiatan eksplorasi dan produksi migas mencapai Rp577,71 triliun.

"Itu sekitar lima persen dari aset negara," kata Sudarto.

Ia menambahkan, salah satu manfaat SIT adalah membantu efektivitas pengelolaan Barang Milik Negara dari sektor hulu migas.

SIT akan memperluas data dan informasi dan sistem informasi yang komprehensif dan berkesinambungan di Kementerian Keuangan. SIT dan pertukaran data ini sejalan dengan implementasi program digitalisasi Rencana Strategis Indonesian Oil and Gas 4.0 (Renstra IOG 4.0).

Adapun Renstra IOG 4.0 itu merupakan rencana strategis industri hulu migas untuk mewujudkan target produksi minyak sebesar satu juta barel per hari dan produksi gas sebesar 12 miliar standar kaki kubik per hari (BSCFD) pada 2030.




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER