Ini Fungsi NWGBR Bentukan OJK Dan BI | Validnews.id

Selamat

Sabtu, 27 November 2021

25 November 2021|19:10 WIB

Ini Fungsi NWGBR Bentukan OJK Dan BI

Hal itu untuk menyikapi rencana penghentian penggunaan LIBOR dan melakukan upaya penguatan kredibilitas benchmark rate di pasar keuangan domestik

Penulis: Fitriana Monica Sari,

Editor: Dian Hapsari

Ini Fungsi NWGBR Bentukan OJK Dan BIKetua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso. ANTARAFOTO/Hendra Nurdiyansyah

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama dengan Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Indonesia Foreign Exchange Market Committee (IFEMC) secara resmi membentuk National Working Group on Benchmark Reform (NWGBR).

Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik OJK, Anto Prabowo menjelaskan, LIBOR merupakan benchmark rate yang umum digunakan di pasar keuangan global. Jadi, proses transisi terkait rencana penghentian penggunaan LIBOR bagi kontrak keuangan sejak awal tahun 2022 perlu dipersiapkan dengan baik oleh seluruh pihak terkait.

"NWGBR memiliki tiga fungsi utama, yaitu memberikan informasi dan edukasi kepada pelaku pasar dalam mendukung proses kelancaran transisi LIBOR, memberikan informasi bagi pelaku pasar mengenai agenda benchmark reform di pasar keuangan domestik, dan memberikan rekomendasi alternatif benchmark rate (Alternative Reference Rate/ARR) di pasar keuangan domestik," jelas Anto melalui siaran pers, Kamis (25/11).

Sementara dalam melaksanakan fungsinya, terang Anto, NWGBR terdiri dari lima sub-group. Yakni, IBOR Discontinuance, Alternative Reference Rate, Accounting and Tax, Regulation and Preparation, serta Communication and Public Education.

Anto menuturkan, sinergi antara otoritas keuangan dengan asosiasi pelaku pasar melalui pembentukan NWGBR diharapkan akan menghasilkan rekomendasi yang tepat dan komprehensif bagi pelaku pasar dalam menyikapi transisi LIBOR, sehingga dapat mendukung stabilitas sistem keuangan.

Di sisi lain, rekomendasi penguatan benchmark rate di pasar keuangan domestik diharapkan dapat mendukung upaya pengembangan pasar keuangan.

Stabilitas Jasa Keuangan Terjaga
Sebelumnya, OJK mencatat sektor jaga keuangan tetap stabil dan terus bertumbuh. Hal itu tercermin dari semakin meningkatnya fungsi intermediasi baik di sektor perbankan maupun di industri keuangan nonbank (IKNB) serta meningkatnya penghimpunan dana di pasar modal.

Kinerja sektor keuangan yang terjaga dengan baik ini, menurut Anto, sejalan dengan kerja pengawasan yang terus dilakukan OJK serta relatif terkendalinya pandemi covid-19 dan meningkatnya mobilitas yang berdampak pada peningkatan aktivitas perekonomian.

Ia melanjutkan, Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulan November 2021 juga mencatat aktivitas perekonomian global semakin pulih. Akan tetapi, tetap perlu dicermati tren kenaikan kasus positif covid-19 di kawasan Eropa, sehingga beberapa negara di kawasan itu kembali melakukan peningkatan pembatasan mobilitas.

Selain itu, tambah Anto, perlu juga dicermati dampak tapering off yang dilakukan oleh AS dan rencana normalisasi kebijakan ekonomi dan moneter di beberapa negara ekonomi utama dunia seiring kenaikan inflasi yang persisten.

"Sampai dengan akhir September 2021 lalu, indikator perekonomian domestik terus menunjukkan pemulihan. Di tengah kenaikan kasus covid-19 akibat penyebaran varian Delta, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2021 tetap dapat dijaga positif, ditopang oleh kinerja sektor eksternal yang kuat dan pertumbuhan investasi yang relatif tinggi," kata Anto dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (24/11).

Meskipun The Fed telah melakukan tapering off di bulan November 2021, namun menurutnya, pasar saham Indonesia dan pasar Surat Berharga Negara (SBN) masih dapat menguat serta menjadi salah satu pasar keuangan dengan kinerja terbaik di emerging markets.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil mencatat rekor tertinggi sepanjang masa (all time high) pada 19 November 2021 lalu di level 6.720, atau naik 2% mtd dan 12,4% (ytd).

Sedangkan di Pasar SBN, hingga 19 November 2021, investor nonresiden mencatatkan outflow sebesar Rp24,1 triliun dengan rerata yield menguat minus 7,3 bps sejalan dengan kebijakan Pemerintah untuk tidak akan melakukan bond issuance hingga akhir tahun 2021.

Fungsi intermediasi perbankan pada bulan Oktober 2021 kembali mencatatkan tren peningkatan dengan kredit tumbuh sebesar 3,24% (yoy) atau 3,21% (ytd).

Secara sektoral, kredit sektor utama tercatat mengalami peningkatan terutama pada sektor manufaktur dan rumah tangga dengan peningkatan masing-masing sebesar Rp5,3 triliun dan Rp8,8 triliun. Hal ini mencerminkan dukungan perbankan dalam pemulihan ekonomi nasional semakin membaik. Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) mencatatkan pertumbuhan sebesar 9,44% (yoy).

Penghimpunan dana di pasar modal hingga 22 November 2021 telah mencapai nilai Rp312,4 triliun atau meningkat 300,7% dari periode yang sama tahun lalu, dengan penambahan emiten baru sebanyak 43 emiten. Hal ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia masih baik.

Di sektor IKNB, sektor asuransi berhasil menghimpun premi pada bulan Oktober 2021 sebesar Rp23 triliun dengan premi Asuransi Jiwa sebesar Rp14,1 triliun, serta Asuransi Umum dan Reasuransi sebesar Rp8,9 triliun. Selain itu, fintech peer to peer (P2P) lending pada Oktober 2021 mencatatkan pertumbuhan outstanding pembiayaan sebesar 110,7% (yoy) atau Rp0,42 triliun (ytd: Rp12,59 triliun). Sementara, piutang perusahaan pembiayaan tercatat stabil sebesar Rp359 triliun.

Seiring dengan membaiknya kinerja sektor jasa keuangan domestik tersebut, profil risiko lembaga jasa keuangan pada Oktober 2021 tetap terjaga baik dengan rasio NPL nett tercatat menurun sebesar 1,02% (NPL gross: 3,22%) dan rasio NPF Perusahaan Pembiayaan sebesar 3,89%.

Restrukturisasi kredit covid-19 juga masih melanjutkan tren penurunan di Oktober 2021. Secara sektoral, sektor ekonomi utama yang terdampak covid-19, yaitu perdagangan dan manufaktur, telah menunjukkan perbaikan dengan pergerakan masing-masing sebesar minus 23,1% (yoy) dan minus 35,9% (yoy). Sementara itu, Posisi Devisa Neto (PDN) Oktober 2021 tercatat sebesar 1,97% atau berada jauh di bawah threshold sebesar 20%.

Selain itu, likuiditas industri perbankan pada Oktober 2021 masih berada pada level yang memadai. Hal ini terlihat dari rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit dan Alat Likuid/DPK masing-masing sebesar 154,59% dan 34,05%, yang berarti di atas ambang batas ketentuan masing-masing pada level 50% dan 10%.

Dari sisi permodalan, lembaga jasa keuangan juga mencatatkan permodalan yang semakin membaik. Industri perbankan mencatatkan peningkatan CAR menjadi sebesar 25,34% atau jauh di atas threshold. 

Sementara itu, industri asuransi jiwa dan asuransi umum mencatatkan Risk Based Capital (RBC) yang juga meningkat masing-masing sebesar 605,9% dan 352,0% yang berarti jauh di atas threshold 120%. Begitu pula pada gearing ratio perusahaan pembiayaan yang tercatat sebesar 1,93 kali atau jauh di bawah batas maksimum 10 kali.

"OJK secara konsisten melakukan asesmen terhadap perekonomian dan sektor jasa keuangan bersama dengan Pemerintah dan otoritas terkait lainnya serta para stakeholder dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah momentum akselerasi pemulihan ekonomi nasional," tutup Anto.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA