Selamat

Rabu, 23 Juni 2021

BERITA

11 Juni 2021|19:03 WIB

Indonesia Dapat Kucuran Utang US$400 Juta dari Bank Dunia

Pendanaan untuk kebijakan pembangunan yang baru ini akan mendukung berbagai reformasi di sektor keuangan melalui tiga pendekatan utama.

Penulis: Rheza Alfian,

Editor: Fin Harini

ImageBank Dunia.Ist

WASHINGTON - Dewan Direktur Eksekutif Bank Dunia menyetujui pendanaan sebesar US$400 juta untuk mendukung reformasi yang akan membantu pemerintah Indonesia memperdalam, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat ketahanan sektor keuangan.

Pasalnya, pandemi covid-19 disebut telah menyebabkan resesi di Indonesia, dengan dampak keuangan, fiskal, dan sosial yang berpotensi menjadi berkepanjangan.

Sementara sistem perbankan didukung modal yang cukup dan dengan keuntungan tinggi, kurang mendalamnya pasar keuangan Indonesia meningkatkan kerentanan negara ini terhadap goncangan dari luar.

Pendanaan baru ini dirancang untuk membantu Indonesia mengatasi kerentanan di sektor keuangan yang diperparah oleh pandemi.

Hal tersebut dilakukan melalui dukungan terhadap langkah-langkah seperti perluasan layanan keuangan kepada kelompok-kelompok yang sebelumnya tidak terlayani. Juga, pengurangan berbagai biaya layanan keuangan baik bagi perorangan maupun perusahaan.

Serta, penguatan kapasitas sektor keuangan agar mampu bertahan saat terjadi guncangan, baik yang terkait keuangan maupun non-keuangan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut pandemi covid-19 menjadikan berbagai reformasi struktural dalam mengatasi kerentanan sektor keuangan mendesak untuk segera dilakukan.

“Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk memperkuat sektor keuangan karena perannya yang sangat penting dalam menjaga pertumbuhan Indonesia dan mengurangi kemiskinan, terutama selama tahap pemulihan covid-19,” katanya dalam keterangan resmi Bank Dunia, Jakarta, Jumat (11/6).

Berdasarkan data APBN KiTa edisi Mei 2021, sampai dengan akhir April 2021, realisasi pembiayaan utang tercapai sebesar Rp410,09 triliun atau 34,8%, terdiri dari realisasi SBN (Neto) sebesar Rp416,69 triliun dan realisasi Pinjaman (Neto) sebesar negatif Rp6,60 triliun.

Realisasi pinjaman terdiri dari realisasi penarikan pinjaman dalam negeri sebesar Rp0,11 triliun, pembayaran cicilan pokok pinjaman dalam negeri sebesar negatif Rp0,32 triliun, realisasi penarikan pinjaman luar negeri sebesar Rp18,80 triliun dan realisasi pembayaran cicilan pokok pinjaman luar negeri sebesar negatif Rp25,19 triliun.

Tiga Pendekatan Utama
Pendanaan untuk kebijakan pembangunan yang baru ini akan mendukung berbagai reformasi di sektor keuangan melalui tiga pendekatan utama.

Pertama, pendanaan bertujuan untuk memperdalam sektor keuangan dengan memperluas akses kepada layanan keuangan, termasuk oleh generasi muda dan perempuan, memperluas cakupan produk-produk keuangan, dan memberikan insentif untuk simpanan jangka panjang. Berbagai upaya itu disebut akan mengurangi kerentanan Indonesia terhadap arus keluar portofolio asing.

Kedua, pinjaman ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya di sektor keuangan dengan memperkuat kerangka kepailitan dan hak-hak kreditor, melindungi konsumen dan data pribadi, serta membangun sistem pembayaran yang lebih efisien dan lebih cepat dengan memanfaatkan teknologi digital.

Hal tersebut dinilai akan membantu pembayaran bantuan sosial yang berskala besar kepada masyarakat rentan selama berlangsungnya krisis.

Tujuan ketiga adalah untuk mendorong kemampuan sektor keuangan bertahan dari guncangan dengan memperkuat kerangka resolusi untuk menghindari berbagai gangguan terhadap kegiatan keuangan jika terjadi kegagalan bank, meningkatkan efektifitas pengawasan sektor keuangan serta menerapkan praktik-praktik keuangan yang berkelanjutan.

Direktur Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste Satu Kahkonen mengatakan pendanaan ini melengkapi berbagai upaya pemerintah untuk melindungi sektor keuangan dan perekonomian secara keseluruhan dari dampak-dampak yang ditimbulkan oleh krisis covid-19.

Ia bilang, dengan menjadikan layanan keuangan lebih transparan, dapat diandalkan, dan berorientasi kepada teknologi, maka simpanan dapat disalurkan kepada investasi-investasi yang paling produktif secara lebih hemat, lebih cepat, dan lebih aman.

“Sehingga membuka peluang bagi masyarakat untuk berinvestasi untuk masa depannya dan untuk melindungi diri mereka dari berbagai guncangan yang tidak diharapkan,” katanya.

Ia menambahkan, dukungan Bank Dunia bagi reformasi di sektor keuangan di Indonesia merupakan komponen penting pada Kerangka Kerja Kemitraan Kelompok Bank Dunia untuk Indonesia, di mana penguatan ketahanan ekonomi dan daya saing mencakup tujuan spesifik.

“Yang difokuskan pada peningkatan kedalaman, perbaikan efisiensi, dan penguatan ketahanan di sektor keuangan. Pendanaan baru ini juga didasarkan pada prinsip-prinsip GRID (pembangunan yang hijau, berketahanan, dan inklusif),” sambungnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER