IHSG Diprediksi Datar, Seiring Potensi Pengetatan Agresif The Fed | Validnews.id

Selamat

Sabtu, 27 November 2021

25 November 2021|10:58 WIB

IHSG Diprediksi Datar, Seiring Potensi Pengetatan Agresif The Fed

Saham BUMN dan swasta dapat kembali dicermati pada perdagangan hari ini

Penulis: Fitriana Monica Sari,

Editor: Fin Harini

IHSG Diprediksi Datar, Seiring Potensi Pengetatan Agresif The FedKaryawan memotret layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia. ANTARAFOTO/Galih Pradipta

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG Bursa Efek Indonesia pada Kamis (25/11), diprediksi datar seiring dengan potensi pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif oleh bank sentral Amerika Serikat The Fed. 

Mengutip RTI, IHSG dibuka menguat 11,68 poin atau 0,17% ke posisi 6.694,96. Begitu pula dengan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 yang naik 3,75 poin atau 0,39% ke posisi 962,59. 

"Pertemuan FOMC terbaru memperkuat kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi pengetatan yang lebih agresif oleh The Fed. Oleh sebab itu, IHSG diperkirakan kembali sideway dalam rentang 6.650-6.720, dengan kecenderungan koreksi pada perdagangan Kamis ini," kata Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan dalam kajiannya di Jakarta, Kamis (25/11). 

Selain itu, pelaku pasar cenderung wait and see jelang pengurangan pembelian obligasi pertama oleh The Fed pada akhir November 2021. Hal itu sejalan dengan kecenderungan normalisasi kebijakan moneter oleh bank-bank sentral di dunia. 

Terbaru, Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) memutuskan untuk menaikan suku bunga acuan ke level 0,75% pada Rabu (24/11) kemarin. 

Indeks utama Wall Street cenderung datar pada perdagangan Rabu (24/11) sejalan dengan terhentinya rally kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun dengan penurunan sebesar 4 bps ke 1,64%. 

Salah satu faktor yang menekan indeks-indeks Wall Street adalah minutes dari FOMC terbaru yang menunjukkan kesiapan The Fed untuk melakukan pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif, jika inflasi masih tetap tinggi. 

Di sisi lain, data ekonomi relatif positif yang ditunjukkan oleh penurunan klaim tunjangan pengangguran awal ke 199 ribu pada pekan yang berakhir di 20 November 2021. Level tersebut merupakan level terendah dalam lebih dari 50 tahun terakhir. 

Sementara, indeks-indeks di Eropa masih dibayangi oleh potensi pengetatan restriksi aktivitas masyarakat untuk mengontrol peningkatan kasus baru covid-19 di kawasan Eropa dalam beberapa pekan terakhir. 

Jerman diperkirakan akan segera mengumumkan aturan terkait hal tersebut di pekan ini. Potensi pengetatan aktivitas tersebut turut berdampak pada penurunan Germany Ifo Business Climate ke 96,5 pada November 2021 dari 97,7 pada Oktober 2021. 

Dari regional Asia, bank sentral Korea Selatan dijadwalkan mengumumkan kebijakan suku bunga terbarunya di pagi hari ini. 

Sementara itu, Dennies Christoper mengatakan, kepada Validnews di Jakarta, Kamis (25/11), IHSG hari ini diprediksi melemah. 

"Secara teknikal, IHSG masih berada dalam tren konsolidasi jangka pendek dengan kecenderungan melemah, didukung stochastic yang melebar setelah membentuk deadcross di sekitar area overbought," kata Dennies. 

Investor, lanjut dia, akan mencermati rilis beberapa data ekonomi dari Amerika Serikat yang diperkirakan akan berdampak pada kebijakan The Fed dalam jangka pendek. 

Ia memprediksi indeks akan bergerak dengan level resistance 6.698 hingga 6.713 dan level support di antara 6.653 hingga 6.668. 

Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei menguat 214,92 poin atau 0,73% ke 29.517,58, indeks Hang Seng turun 140,37 poin atau 0,57% ke 24.545,13, dan indeks Straits Times terkoreksi 2,46 atau 0,08% ke 3.224,69. 

Rekomendasi Saham
Dennies menyarankan investor untuk mencermati beberapa saham pada perdagangan hari ini. Pertama, PT Wijaya Karya Tbk atau WIKA masih bergerak dalam tren konsolidasi jangka pendek.  

Jika tertarik membeli, Dennies menyarankan masuk saham WIKA di harga Rp1.250 hingga Rp1.280, stop loss di Rp1.235. Target harganya dipatok di Rp1.340 hingga Rp1.370.      

Kemudian, PT Alam Sutera Realty Tbk atau ASRI menguat membentuk higher high dan higher low dengan volume tinggi. Berpotensi melanjutkan penguatan. 

"Jika tertarik membeli, dapat masuk saham ASRI di harga Rp185 hingga Rp190, stop loss di Rp182. Target harganya dipatok di Rp195 hingga Rp200," jelasnya.   

Terakhir adalah PT Barito Pacific Tbk atau BRPT. Mengalami koreksi setelah breakout resistance, masih bergerak dalam tren penguatan jangka pendek. 

Jika investor berminat mengoleksi saham BRPT, ia menyarankan untuk masuk pada harga Rp1.045 hingga Rp1.065 dan stop loss di Rp1.025. Target harganya dipatok di Rp1.100 hingga Rp1.120.     

Sementara, Valbury Sekuritas menyarankan investor untuk membeli saham campuran BUMN dan swasta. Untuk PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk atau TLKM, investor disarankan masuk di level Rp3.780–3.800 per lembar saham. Namun, investor diminta waspada jika harga menembus Rp3.780, dengan batas risiko di Rp3.740. 

Perusahaan lain adalah adalah PT Bukit Asam Tbk atau PTBA, yang disarankan dibeli di level Rp2.640–2.660. Batas risiko perdagangan PTBA hari ini di level Rp2.590.  

Selanjutnya, PT Aneka Tambang Tbk atau ANTM. Valbury Sekuritas menyarankan membeli saham ANTM di level Rp2.400–2.440. Batas risiko perdagangan ANTM hari ini di level Rp2.370.  

Emiten lain yang masuk dalam rekomendasi Valbury, antara lain TINS di kisaran Rp1.630–1.660, GGRM di rentang harga Rp33.450–33.750, dan AKRA Rp4.240–4.300.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA