Selamat

Sabtu, 16 Oktober 2021

14 Oktober 2021|10:36 WIB

Hati-hati! Kemendag Temukan 31.553 Depot Air Yang Tidak Higienis

Kemendag masih menemukan beberapa dugaan pelanggaran perlindungan konsumen di masyarakat

Penulis: Khairul Kahfi,

Editor: Dian Hapsari

ImagePekerja memindahkan galon di salah satu depo pengisian air minum dalam kemasan Daan Mogot, Jakarta. ANTARAFOTO/Rivan Awal Lingga.

BANYUWANGI – Kementerian Perdagangan melalui Ditjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN) ungkap beragam kasus pelanggaran konsumen yang masih terjadi di lapangan. Pemerintah terus berkomitmen menggalakkan perlindungan konsumen. 

Direktur Jenderal PKTN Veri Anggrijono memaparkan, salah satu pelanggaran konsumen yang masih terjadi adalah layanan Depot Air Minum (DAM). Masih ada puluhan ribu DAM yang operasinya tidak sesuai. 

Dari total 60.272 DAM isi ulang yang tercatat, sebanyak 31.553 tidak layak Higienitas Sanitas Pangan (HSP). Hanya sekitar 28.719 DAM yang tergolong layak dan sesuai dengan kriteria. 

Selanjutnya, dugaan pelanggaran DAM lainnya meliputi alat ultraviolet (UV) yang sebagian besar sudah melewati batas maksimal pemakaian, serta hanya 1.183 DAM yang bersertifikat. 

"Banyak pula DAM menyediakan galon bermerek dan stok air minum dalam wadah siap dijual, yang melanggar ketentuan dan merugikan perusahaan pemilik galon,” ungkap Veri dalam keterangan pers, Jakarta, Rabu (13/10).

Pihaknya juga mengidentifikasi dugaan pelanggaran produk emas. Seperti manipulasi berat gelang dengan penambahan material kabel di dalamnya, serta penjualan perhiasan emas dengan kadar dan hasil uji kadar emas di bawah yang dijanjikan kepada konsumen. 

Selanjutnya, dijelaskan pula temuan cincin kuningan berlapis emas yang dijual dengan kadar emas 80%, hingga penggunaan material lain seperti per atau spiral yang dihitung sebagai berat emas di dalam gelang. 

Selain kedua isu konsumen tersebut, Dirjen Veri juga menjelaskan terkait ketidaksesuaian (discrepancy) pengukuran pada distribusi BBM. Prosesnya masih potensial merugikan banyak pihak. 

“Flowmeter digunakan saat transaksi atau penyerahan BBM ke pihak SPBU. Jika flowmeter tidak ditera, akan menimbulkan kerugian bagi konsumen sekaligus negara,” terangnya.

Veri juga memastikan akan terus menggalakkan pelaksanaan kegiatan perlindungan konsumen. Meliputi pendidikan usia dini; pembinaan pelaku usaha untuk pemenuhan standar dan pengendalian mutu. 

Kemudian, pengawasan barang beredar; dan pengukuran dan takaran secara tepat. Tidak ketinggalan juga untuk memastikan tertib niaga di semua pasar dan gerai transaksi perdagangan. 

“Di samping pelaku usaha yang bertanggung jawab, konsumen yang cerdas, teliti, serta memahami hak dan kewajiban sangatlah dibutuhkan dalam rangka mewujudkan iklim perdagangan yang baik,” jelasnya.

Konsumen Makin Berdaya
Veri mengingatkan, Indeks Keberdayaan Konsumen (IKK) Indonesia pada 2020 adalah 49,07 atau berada pada level Mampu. Nilai tersebut menunjukkan bahwa konsumen Indonesia telah mampu menggunakan hak dan kewajibannya. 

"Konsumen juga sudah bisa menentukan pilihan terbaik, termasuk menggunakan produk dalam negeri bagi diri dan lingkungannya,” jelas Veri.

Asal tahu, IKK merupakan parameter bagaimana masyarakat di sebuah negara memiliki tingkat keberanian sebagai konsumen; bila merasa tidak puas atas sebuah produk dan pelayanan, atau merasa dirugikan produsen dalam suatu aktivitas jual-beli produk barang atau jasa. 

IKK Indonesia sendiri sejak 2018-2019 bergerak membaik dari level 40,41 menjadi 41,70 poin. Karenanya, penyuluhan perlindungan konsumen bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, untuk menjadi konsumen cerdas dan berdaya.

Selain itu, juga untuk meningkatkan pengetahuan, wawasan, dan pemahaman tentang perlindungan konsumen serta melaksanakan kebijakan, strategi, dan program nasional penanggulangan terorisme di bidang kesiapsiagaan nasional, kontraradikalisasi, dan deradikalisasi.

“Diharapkan sosialisasi ini juga dapat mendorong peran aktif masyarakat dalam menanggulangi terorisme dan radikalisme. Kepedulian masyarakat dapat menekan aksi teror-teror yang sangat merugikan masyarakat dan negara, serta dapat menunjang kegiatan ekonomi,” tandas Veri. 

Kegiatan ini diikuti 250 peserta yang terdiri dari tokoh masyarakat, ibu-ibu PKK, organisasi masyarakat, pemuda, serta karang taruna yang berada di wilayah Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA