Selamat

Rabu, 26 Januari 2022

EKONOMI | Validnews.id

EKONOMI

14 Januari 2022

21:00 WIB

Harumnya Cuan Tanda Mata Decoupage

Bisnis tanda mata dengan seni decoupage belakangan makin menarik, seiring dengan pasar souvenir unik yang belakangan makin membesar

Penulis: Fitriana Monica Sari,

Editor: Dian Kusumo Hapsari

Harumnya Cuan Tanda Mata Decoupage
Ilustrasi sabun souvenir cantik. Dokumen Niara Souvenir Sabun,

JAKARTA – Di Indonesia, souvenir bisa dibilang menjadi hal ‘wajib’ atau merupakan hal esensial dari sebuah acara perayaan, baik pernikahan, khitanan, atau lainnya. Makna souvenir itu sendiri sebagai penanda penghargaan dan terima kasih kepada para tamu undangan yang telah datang.

Akan tetapi, pernah tidak Anda menemukan souvenir yang pernah anda terima, justru tertinggal lama di dalam clutch, dompet atau bahkan laci meja rumah anda. Sampai-sampai Anda lupa sendiri, dari siapa dan acara apa? Jelas, Anda tidak sendiri.

Karena, hampir semua acara resepsi menawarkan souvenir yang bisa dibilang sama persis atau singkatnya, pasaran lah. Kalau mau jujur, banyak juga memang tuan rumah atau penyelenggara acara yang ‘asal ada’ dalam memberikan souvenir. Jadi, terasa kurang berkesan dan terlupakan.

Lantas, bagaimana solusinya jka Anda ingin souvenir yang ada berikan bisa membuat tamu Anda bisa mengenang acara yang Anda gelar?

Kalau begitu, Anda bisa coba mencari souvenir yang unik, berkesan, dan terasa lebih pribadi. Kini, telah banyak beragam souvenir unik yang ditawarkan. Mulai dari goodie bag, card holder, hingga sabun berbentuk unik.

Belakangan, seiring dengan makin banyaknya permintaan souvenir unik, bisnis usaha yang memproduksi dan menjual cenderamata unik pun bermunculan. Peluang usaha di bidang ini masih terbuka lebar, walaupun sudah banyak yang menjalankannya.

Keunikan dan tingkat kerapian menjadi daya tarik tersendiri bagi para konsumen. Di samping itu, harga yang kompetitif juga sangat berpengaruh terhadap minat konsumen.

Nah, salah satu yang memanfaatkan peluang tersebut ialah Ninna Meilina Rasyid (49). Wanita kelahiran Mei 1972 ini, menawarkan souvenir sabun decoupage. Di bawah bendera Niara Souvenir Sabun, ia didapuk sebagai pioneer pengrajin sabun decoupage dan berhasil meraup cuan.

“Kalau mau souvenir yang unik ya pakai ini, karena pasti beda,” kata Ninna setengah berpromosi saat dihubungi Validnews, Rabu (5/1).

Adapun, gambar yang paling banyak diminati orang adalah gambar bunga dan kaktus. Menariknya, ia juga menawarkan gambar sesuai pilihan konsumen alias bisa custom.

“Motif yang menarik ini membuat kesan eksklusif, mewah, dan lebih pribadi, sehingga sebagai souvenir, akan terasa lebih berkesan,” ucapnya.

Dirinya juga mengklaim, sabun mandi bergambar buatannya tak hanya terbatas untuk souvenir nikah saja, namun cocok untuk segala macam acara. Di antaranya, siraman, reunian, perpisahan, ulang tahun, tujuh bulanan, bahkan untuk acara arisan.

Belakangan, tak hanya sabun decoupage saja, Ninna juga menawarkan media lainnya, seperti lilin, masker, hingga pot tanaman hias. Ia berusaha mengikuti tren yang sedang berkembang di masyarakat.

Produksi Massal
Potongan tisu bergambar disusun dan ditata sedemikian rupa ke media decoupage dengan perlahan dan merata. Lantas, dioles dengan lem decoupage menggunakan kuas. Tunggu gambar hingga kering. Setelah kering, lapiskan gambar tersebut dengan pernis atau varnish.

Teknik ini secara terus menerus dilakukan berulang oleh pemilik Niara Souvenir Sabun, Ninna Meilina Rasyid setiap mendapat pesanan. Ninna mengatakan, rutinitas itu sudah dilakoninya lebih dari empat tahun, atau sejak akhir tahun 2017 silam.

Kepada Validnews, Ninna bercerita, awal mula ketertarikannya terjun ke bisnis ini berangkat dari pemikiran untuk memproduksi decoupage secara massal dengan harga terjangkau.

“Bagaimana supaya ini bisa diproduksi massal, belinya tak sebatas pada yang orang suka saja. Akhirnya, saya coba buat. Waktu saya mulai, belum ada (sabun decoupage.red). Jadi saya bisa dibilang pioneer-nya kalau di sabun. Memang, ada sabun decoupage beberapa saya lihat di Eropa atau produksi luar, tapi ya mereka tidak diproduksi massal, buat hiasan aja,” jelasnya

Ninna mempelajari teknik decoupage secara mandiri atau otodidak, tanpa ikut pelatihan. Bermodal uang kurang dari Rp500 ribu untuk membeli alat dan bahan serta keuletannya menjelajah YouTube dan Pinterest, dia berhasil membuat souvenir unik.

Dengan percaya diri, Ninna mulai menggotong sampel ke toko souvenir di pasar Bogor yang berada dekat rumahnya. Dia datang dengan harapan akan banyak yang melirik souvenir sabun decoupage.

Sayangnya, bukannya dapat pesanan, justru kekecewaan dikantonginya. Souvenir milik Ninna dilabeli ‘mahal’ oleh banyak orang. Memang, kala itu, Ninna menjajakan souvenir dengan harga yang terbilang cukup mahal, dibanding harga souvenir lainnya, Rp5.000-an.

Sementara, harga souvenir pasaran atau buat menengah ke bawah rata-rata dihargai mulai dari Rp1.000 hingga Rp3.000. Harga Rp5.000 sudah ditaksir paling mahal.

Padahal, kata Ninna, bahan baku decoupage yang digunakan terhitung masih mahal. Tisu bergambarnya sendiri belum bisa di produksi dalam negeri, jadi mengharuskan dia impor.

Walau kini di dalam negeri sudah banyak yang menjual dan bisa mencetak, namun diakui harganya jauh lebih mahal dan hasil print-nya belum sebagus impor. Meski demikian, tanpa berputus asa Ninna tetap meyakinkan calon konsumen.

Usahanya pun berbuah manis. Ada seorang konsumen yang merasa tertarik dengan souvenir uniknya. Walau ditawar hingga setengah harga, Ninna tetap menerima. Hitung-hitung sebagai penglaris.

Pesanannya pun tak hanya berjumlah satu atau dua pcs, tapi mencapai 200 pcs. Jumlah itu sudah terbilang cukup banyak dan jauh melebihi ekspektasi Ninna.

“200 pcs dengan harga setengah dari yang saya tawarkan, itu menjadi modal untuk foto-foto. Saat saya jualan online, foto yang saya jual itu, saya tawarkan. Alhamdulillah setelah itu banyak yang tertarik dan beberapa orang beli, bahkan dari luar kota,” kenang Ninna.

Terbukti, kian lama bisnis yang digelutinya kian moncer. Dalam sehari, Ninna bisa membuat souvenir sabun decoupage sebanyak 300 hingga 400 pcs. Selama proses pengerjaan, Ninna tidak sendiri. Ia dibantu oleh keluarganya.

Untuk kemasan, souvenir sabun decoupage yang ditawarkannya bisa dikemas menggunakan plastik, mika, atau tile. Tergantung selera konsumen. Namun, harganya akan berbeda.

“Sebulan itu, sebelum pandemi, rata-rata bisa menjual 1.500-2.000 pcs. Terkadang bisa lebih juga, tergantung pas ada orang pesan. Pesanan terbanyak pernah sampai 6.000 pcs. Biasanya kalau mulai pesan (order) itu sebulan atau dua bulan sebelumnya, jadi kita cicil pengerjaannya,” bebernya.

Belakangan, menurut Ninna, souvenir uniknya tak hanya dijual di Pulau Jawa saja. Namun, sudah menjangkau hampir ke seluruh Indonesia. Mulai dari Aceh, Pontianak, Balikpapan, hingga Sulawesi.

“Kebanyakan kalau yang di luar Pulau Jawa malah orang-orangnya berani harga daripada yang di sini. Mereka mungkin sudah biasa biaya ongkos kirim (ongkir) mahal, jadi mereka terima saja. Jadi untuk sesuatu yang spesial, harus bayar ongkirnya,” ungkap Ninna.

Ibu beranak empat dan nenek dua cucu ini berhasil meraup omzet hingga dua digit, yakni tepatnya di kisaran Rp10 hingga Rp12 juta saban bulan. Ia juga memanfaatkan pemasaran secara online dan terus mengikuti tren.

“Sekarang lagi musimnya Reels, TikTok. TikTok saya masih belum terjun, tapi saya sudah coba. Anak-anak saya suka TikTok-an, jadi saya suka titip. Saya bikin Instagram, Facebook, dan lainnya, pemasaran sekarang memang seperti itu,” kata Ninna.

Selain memanfaatkan sosial media sebagai ajang mengenalkan produknya, ia juga mengandalkan marketplace seperti Shopee dan lewat WhatsApp dulu untuk konsultasi. “Setelah deal, baru nanti saya masukin Shopee, biar ada keringanan ongkir. Biasanya sih di Shopee beli sampel saja,” jelasnya.

Berbagai Rintangan
Selama berjualan, wanita alumnus Jurusan Jurnalistik dari Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta (IISIP Jakarta) ini mengaku senang, ketika produknya mendapat respons positif dari banyak orang.

“Kadang kalau acara dekat, saya akan izin datang untuk foto-foto, buat lihat reaksi konsumen. Saya tanya ke beberapa orang dan mereka bilang suka banget souvenirnya karena unik, itu kesenangan sendiri,” ungkapnya.

Namun bisnis memang selamanya mulus. Selama merintis bisnis, Ninna beberapa kali juga kerap dihadapkan dengan berbagai rintangan, layaknya bisnis lain. Pada saat memulai usaha, misalnya, Ninna mengaku kesulitan menemukan sabun batang yang sesuai. Sebab, sabun yang biasa digunakannya belum dijual dalam jumlah banyak di tiap toko.

Ia harus berkeliling ke beberapa supermarket untuk mencari barang yang sesuai kebutuhan. Untungnya, kian ke sini, Ninna sudah menemukan supplier yang bisa menyediakan kebutuhan stok sabunnya.

Pandemi covid-19 juga menjadi salah satu rintangan yang dihadapi Ninna. Bahkan, usahanya kala itu hampir saja gulung tikar. Pasalnya, permintaan pesanan terus menerus sepi. Hal itu berlangsung hingga satu tahun lebih.

“Ada beberapa konsumen yang cancel. Padahal, saya sudah belanja barang, tapi dia bilang tidak jadi karena tidak jadi pesta. Setahun lebih itu sama sekali tidak ada pesanan,” imbuhnya.

Melihat Peluang
Melihat bisnisnya di ujung tanduk, Ninna mulai memutar otak. Ia melihat peluang di saat masker medis dijual mahal, dan masyarakat lebih memilih beralih ke masker kain.

“Waktu masker medis mahal, saya ambil kesempatan untuk nempel gambar di masker. Alhamdulillah itu cukup menggantikan, lumayan. Meski tidak sebanyak sabun,” ujarnya.

Akan tetapi, baru sebentar meraup cuan dari masker kain, Ninna kembali harus memutar otak. Karena, harga masker medis sudah lebih murah, sehingga masyarakat banyak yang beralih ke masker medis atau masker kain batik dan lainnya yang kini lebih cantik.

Ninna pun kemudian melihat peluang di pot tanaman hias. Sebab, banyak orang yang mulai menggandrungi tanaman hias sebagai hobi baru di masa pandemi.

“Ya sudah saya coba bikin di pot dan ternyata bisa. Jadi memanfaatkan dan mencari peluang terus,” serunya.

Terkait omzet selama pandemi, terlihat perbedaan yang signifikan dari sebelum pandemi. Kini, Ninna hanya bisa meraup seperempat dari omzetnya dulu.

“Ke sini sudah mendingan, tapi tetap tidak seperti kemarin. Pesta kan cuma 100-200 orang, itu masih jauh dari target saya. Jadi masih seperempat saja omzet. Masih bisa jalan saja usaha sudah untung. Harus terus manfaatin atau kembangin lagi yang lain,” tutur Nina.

Ke depan, Ninna berharap dapat menciptakan souvenir unik lainnya yang tidak hanya berpatok pada seni decoupage. Namun, ia mengaku belum terbayang jelas ingin souvenir yang seperti apa. Sebab, pemasukan dari pesanan potnya masih terbilang lumayan saat ini.

“Kemarin untuk natal saya bikin untuk tema Natal, itu lumayan sih. Kalau dulu, sabun, lilin itu untuk Natal, Tahun Baru. Biasa lilin yang ramai, tapi sekarang tidak. Karena Natal masih belum bisa ramai dan masih terbatas,” tutupnya. (Fitriana Monica Sari)




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER