Selamat

Rabu, 23 Juni 2021

WIRAUSAHA

31 Mei 2021|20:30 WIB

Harga Kedelai Turun, Perajin Tahu Tempe Diharapkan Produktif

Pemerintah meminta importir kedelai untuk menyesuaikam harga kedelai impor agar tetap stabil

Penulis: Khairul Kahfi,

Editor: Nadya Kurnia

ImagePerajin memproduksi tahu di Kampung Krajan, Mojosongo, Solo, Jawa Tengah.

JAKARTA - Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan menyambut baik tren penurunan harga kedelai dunia. Harga kedelai dunia pada pekan ini lebih rendah dibandingkan pada pekan sebelumnya. 

Karena itu, pemerintah meminta importir kedelai untuk menyesuaikam harga kedelai impor agar tetap stabil, sehingga dapat membantu pengrajin tahu dan tempe agar bisa terus berproduksi.

“Harga kedelai dunia sudah mengalami penurunan. Kami minta dukungan pelaku usaha, khususnya importir kedelai untuk menjaga harga kedelai impor agar harga tahu dan tempe di tingkat pengrajin tetap stabil," ujar Oke di Jakarta, Senin (31/5).

Sementara itu, pihaknya juga mengapresiasi komitmen pelaku usaha kedelai dalam menjaga ketersediaan dan stabilitas harga kedelai pada puasa dan Lebaran 2021 lalu. Berdasarkan data Chicago Board of Trade atau CBOT, harga kedelai mulai menunjukkan tren penurunan. 

Pada pekan keempat Mei 2021, harga kedelai berada di kisaran US$15,04/bushels atau Rp9.220/kg landed price. Laporan tersebut mencatat bahwa harga kedelai dunia turun 5,17% dari pekan sebelumnya di kisaran US$15,86/bushels atau Rp9.604/kg landed price.

Sementara itu, pantauan Kemendag, harga kedelai impor di Tanah Air sepanjang Mei 2021 mengalami kenaikan tipis Rp300 atau 2,5%, dari Rp12.000/kg menjadi Rp12.300/kg. 

Oke berharap penurunan harga kedelai dunia terus berlanjut, lantaran beberapa negara produsen telah memasuki masa panen. Meski mulai terjadi penurunan harga, namun dirinya masih menilai harga kedelai dunia masih terbilang cukup tinggi saat ini. 

"Hal ini akan berdampak pada penyesuaian sementara harga tahu dan tempe sebesar 10-15%,” katanya.

Namun demikian, pihaknya tetap mensyukuri penurunan harga kedelai di tingkat dunia, karena hal tersebut akan berdampak positif terhadap produksi tahu dan tempe di dalam negeri. 

Dirinya pun meminta pelaku usaha di dalam negeri termasuk importir, distributor, maupun pengrajin tahu-tempe menyikapi positif fenomena penurunan harga ini. "Hal itu dilakukan untuk menjaga kelangsungan usaha tahu dan tempe nasional,” jelasnya.

Kemendag, tegasnya, secara periodik akan terus memantau dan mengevaluasi pergerakan harga kedelai dunia, baik saat penurunan maupun kenaikan harga. Langkah tersebut ditempuh guna memastikan harga kedelai di tingkat pengrajin tahu-tempe dan pasar masih dalam tataran wajar terkendali.

Pihaknya pun mengimbau importIr untuk memastikan dan tetap menyalurkan stok kedelai secara rutin kepada seluruh pengrajin kedelai, termasuk anggota Gabungan Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo) di Puskopti provinsi hingga kabupaten/kota. 

Pemerintah juga akan memastikan distribusi kedelai terus dilakukan agar tidak terjadi kelangkaan stok. 

Dalam tiga bulan mendatang, importir akan diminta menyalurkan kedelai paling sedikit 5.000 ton/bulan untuk memenuhi kebutuhan pengrajin tahu dan tempe. Nantinya, anggota Gakoptindo dapat mengambil secara langsung dari gudang importir.

“Kerja sama penyaluran kedelai ini diharapkan akan jadi momentum bagi kebangkitan gairah pengrajin tahu-tempe nasional untuk terus berproduksi. Sehingga, masyarakat masih akan terus mendapatkan tahu dan tempe sebagai sumber protein dengan harga terjangkau,” pungkasnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

INFOGRAFIS

TERPOPULER