Selamat

Rabu, 1 Februari 2023

EKONOMI

26 Januari 2023

08:10 WIB

Gapki Tak Khawatir Soal Larangan CPO Hasil Deforestasi Eropa

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) tidak khawatir dengan adanya aturan yang melarang impor CPO hasil deforestasi.

Editor: Rheza Alfian

Gapki Tak Khawatir Soal Larangan CPO Hasil Deforestasi Eropa
Pekerja mengangkat kelapa sawit. Shutterstock/KYTan

JAKARTA – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) tidak khawatir dengan Undang-Undang Produk Bebas Deforestasi Uni Eropa yang melarang impor produk terkait deforestasi termasuk minyak kelapa sawit (CPO).

“Pasar sawit itu akan tetap tumbuh karena ini kan basic need ya untuk makan, energi, industri. Jadi Indonesia ketakutan kehilangan Eropa? Tidak ya karena pasar yang lain akan terus tumbuh dengan baik,” kata Ketua Umum GAPKI Joko Supriyono dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (26/1).

Joko menilai Eropa sebenarnya juga tidak ingin melarang sawit karena pada saat Indonesia melarang ekspor sawit pada 2022, Eropa juga kebingungan mencari negara pengekspor sawit akibat kebutuhan industri Eropa yang cukup tinggi.

“Buktinya pelarangan ekspor pun kebingungan dan ngejar-ngejar Presiden juga,” ucapnya.

Baca Juga: Nestle Bakal Hentikan Pembelian CPO, Ini Tanggapan Astra Agro

Indonesia, lanjutnya, seharusnya fokus untuk memperjuangkan sawit masuk dalam perdagangan global, di mana pun pasarnya. Pasalnya, kuota impor sawit dari negara-negara lain terus meningkat.

Gapki mencatat sepuluh negara tujuan ekspor minyak sawit Indonesia berturut-turut adalah China, India, Amerika Serikat, Pakistan, Malaysia, Belanda, Bangladesh, Mesir, Rusia dan Italia.

 Peringkat Amerika Serikat pun naik dari peringkat 5 pada tahun 2022 menjadi peringkat 3 sebagai negara pengimpor utama produk sawit Indonesia pada 2022.

“Amerika Serikat sudah 2 juta lebih, padahal dulu cuma 400.000-an,” ujar Joko.

Dia menyebutkan banyak negara bagian Amerika Serikat yang menggunakan biodiesel, sehingga dari sisi makanan dan energi pertumbuhannya cukup bagus karena permintaan yang juga terus naik.

“Yang jauh lebih penting bagaimana strategi diplomasi. Contohnya UU Deforestasi, Indonesia melakukan usaha termasuk melalui tim support dan kampanye jadi mestinya orang melihat kita bisa melobi,” jelas dia.

Kinerja Stagnan
Gapki mencatat kinerja industri sawit stagnan dalam empat tahun terakhir.

“Ini sudah tahun keempat Indonesia tidak tumbuh atau stagnan, padahal kebutuhan domestik terus meningkat,” kata Joko.

Dia menuturkan kondisi stagnan industri sawit terlihat dari penurunan produksi dan nilai ekspor. Tercatat produksi CPO atau minyak kelapa sawit di 2022 mencapai 46,28 juta ton atau lebih rendah dari 2021 yang mencapai 46,88 juta ton.

Begitu juga dengan ekspor 2022 sebesar 30,8 juta ton atau lebih rendah dari 2021 yang sebesar 33,76 juta ton dan merupakan tahun ke-4 berturut-turut ekspor turun dari tahun ke tahun. 

Namun nilai ekspor tahun 2022 mencapai US$39,28 miliar untuk CPO, olahan dan turunannya, lebih tinggi dari tahun 2021 sebesar US$35,3 miliar.

“Ini terjadi karena memang harga produk sawit tahun 2022 relatif lebih tinggi dari tahun 2021,” sebut Joko.

Baca Juga: Pemerintah Klaim Implementasi B35 Hemat Devisa Rp161 Triliun

Penurunan produksi dan ekspor industri sawit, lanjutnya, disebabkan oleh tahun 2022 yang diwarnai dengan kejadian-kejadian tidak biasa. Di antaranya cuaca ekstrem basah yang mengganggu aktivitas serangga penyerbuk, pupuk yang mahal dan sulit diperoleh, hingga pelarangan ekspor yang menyebabkan buah tidak dapat dipanen hingga beberapa bulan ke depan akibat stok yang masih tinggi.

“Tahun ini memang paling tidak normal, mudah-mudahan ini bisa kita manage sehingga dinamika yang terlalu bergejolak seperti itu tidak terjadi lagi di tahun ini, khususnya ekspor dan produksi,” ujarnya.

Kendati demikian, konsumsi dalam negeri tumbuh dibanding 2021 dari yang sebelumnya 18,42 juta ton menjadi 20,97 juta ton. Konsumsi tersebut didominasi industri pangan 9,94 juta ton dari yang sebelumnya 8,9 5 juta ton, lalu industri oleokimia naik dari 2,13 juta ton menjadi 2,19 juta ton dan konsumsi biodisel yang mencapai 8,84 juta ton pada 2022 dari yang sebelumnya 7,34 juta ton.

Adapun Gapki memperkirakan kondisi yang mempengaruhi industri sawit sepanjang tahun 2022 diperkirakan masih akan mempengaruhi kinerja sawit 2023.

“Produksi diperkirakan masih belum akan meningkat, sementara konsumsi dalam negeri diperkirakan akan meningkat akibat penerapan kewajiban Biodiesel B35 mulai 1 Februari 20223,” tutur Joko.


KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER