Selamat

Sabtu, 16 Oktober 2021

14 Oktober 2021|11:05 WIB

Emas Antam Melonjak Sentuh Rp928.000/gram

Mundurnya dolar dan imbal hasil obligasi pemerintah AS mengangkat permintaan terhadap logam mulia yang dianggap aman.

Penulis: Fitriana Monica Sari,

Editor: Dian Hapsari

ImagePedagang melayani pembeli di pusat penjualan emas London Kota Lhokseumawe, Aceh. ANTARA FOTO/Rahmad.

JAKARTA – Harga emas Antam pada Kamis (14/10) menguat sebesar Rp12.000 ke posisi Rp928.000/gram. Senada, harga buyback atau pembelian turut naik Rp14.000 ke angka Rp819.000/gram.      

Harga emas di situs Logam Mulia pada pekan lalu, tercatat anjlok sebesar Rp10.000/gram. Pada Senin (4/10), harga ditutup Rp924.000/gram, hingga Sabtu (9/10), emas Antam ditutup Rp914.000/gram.    

Emas Antam pada Senin (11/10) tidak bergerak atau masih menetap di posisi Rp914.000/gram, seperti dua hari sebelumnya yaitu Jumat (8/10) dan Sabtu (9/10). 

Namun pada hari berikutnya, Selasa (12/10), emas melemah Rp2.000 ke posisi Rp912.000/gram. Pada Rabu (13/10), emas berbalik menguat Rp4.000 menjadi Rp916.000/gram. 

Harga emas Antam sendiri sempat menyentuh titik tertinggi sepanjang masa pada level Rp1.058.000/gram pada Rabu (19/8/2020).      

Di Pegadaian, pada Kamis (14/10), emas Antam dibanderol Rp953.000/gram, Antam Retro Rp907.000/gram. Sementara, Antam Batik Rp1.109.000/gram dan emas cetakan UBS Rp907.000/gram. 

Dikutip dari Antara, di pasar global, harga emas melonjak sekitar 2% ke level tertinggi hampir satu bulan pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), melanjutkan kenaikan sesi sebelumnya karena mundurnya dolar dan imbal hasil obligasi pemerintah AS mengangkat permintaan terhadap logam mulia yang dianggap aman. 

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange, melonjak US$35,4 atau 2,01% menjadi US$1.794,70 per ounce. Sehari sebelumnya, Selasa (12/10), emas berjangka terangkat US$3,6 atau 0,21% menjadi US$1.759,30. 

Emas berjangka terpangkas US$1,7 atau 0,1% menjadi US$1.755,70 pada Senin (11/10), setelah melemah US$1,8 atau 0,1% menjadi US$1.757,40 pada Jumat (8/10), dan turun US$2,6 atau 0,15% menjadi US$1.759,20 pada Kamis (8/10). 

“Emas hanya mengikuti imbal hasil saat ini. Reaksi awal setelah data IHK (indeks harga konsumen) adalah lonjakan besar dalam imbal hasil, yang sekarang mulai memudar,” kata ahli strategi pasar senior di RJO Futures, Daniel Pavilonis. 

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pada Rabu (13/10) bahwa indeks harga konsumen AS, ukuran inflasi, naik 0,4% pada September, lebih tinggi dari ekspektasi pasar untuk kenaikan 0,3%. Dalam 12 bulan hingga September, IHK AS meningkat 5,4% setelah naik 5,3% tahun-ke-tahun pada Agustus. 

Emas pada awalnya memangkas kenaikannya karena imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun yang jadi acuan naik di atas 1,6% menyusul data yang menunjukkan harga konsumen AS meningkat secara solid pada September dan siap untuk kenaikan lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang. 

Tetapi, kemunduran berikutnya dalam imbal hasil, yang mengurangi peluang kerugian memegang emas tanpa bunga, mendorong reli yang kuat pada logam mulia. 

Logam ini juga mendapat dukungan dari penurunan dolar dan kekhawatiran bahwa inflasi yang tinggi akan memukul pertumbuhan ekonomi global. 

“Ekspektasi inflasi bercampur dengan kekhawatiran pertumbuhan global telah membuat banyak investor khawatir bahwa bisnis dan konsumen akan jauh lebih lemah di paruh kedua tahun 2022. Aliran safe-haven mulai datang ke arah emas,” ujar Edward Moya selaku analis pasar senior di broker OANDA dalam sebuah catatan. 

Para bankir bank sentral AS memberi isyarat bahwa mereka dapat mulai mengurangi dukungan era krisis mereka untuk ekonomi pada pertengahan November, meskipun mereka tetap terbagi atas seberapa besar ancaman yang ditimbulkan oleh inflasi yang tinggi dan seberapa cepat mereka mungkin perlu menaikkan suku bunga sebagai tanggapan, risalah dari pertemuan kebijakan mereka 21–22 September menunjukkan. 

Sementara itu, sekelompok bank yang bermitra dengan London Metal Exchange yang meluncurkan emas dan perak berjangka pada 2017 bersiap untuk meninggalkan proyek tersebut setelah volume yang diharapkan tidak terealisasi. 

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Desember naik 65,6 sen atau 2,91% menjadi US$23,17 per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari naik US$12,5 atau 1,24% menjadi US$1.024,20 per ounce.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER