Selamat

Rabu, 26 Januari 2022

EKONOMI | Validnews.id

EKONOMI

14 Januari 2022

18:12 WIB

CIPS: Pupuk Non-subsidi Picu Lonjakan Harga Komoditas Pertanian

CIPS menyebutkan petani kecil masih menggunakan pupuk non-subsidi sebagai alternatif jika pupuk bersubsidi kurang tersedia atau kebutuhan haranya tidak sesuai.

Penulis: Khairul Kahfi,

Editor: Fin Harini

CIPS: Pupuk Non-subsidi Picu Lonjakan Harga Komoditas Pertanian
Petani memupuk sawahnya di area persawahan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Sabtu (30/1/ 2021). ANTARAFOTO/Arnas Padda

JAKARTA - Center for Indonesian Policy Studies menyebut kenaikan harga pupuk non-subsidi di pasaran potensial mengerek harga komoditas pertanian. Selain itu, kondisi yang sama juga bakal mengganggu produktivitas pertanian komoditas andalan Indonesia.
 
Peneliti CIPS Aditya Alta mengatakan, dampak utama kenaikan harga pupuk non-subsidi di pasaran adalah mengurangi pilihan input pertanian, yang tepat-guna bagi kondisi lahan spesifik petani.
 
Secara tidak langsung, kenaikan ini bakal memengaruhi kegiatan pertanian nasional di segala tingkat, mulai dari skala kecil hingga besar. Karena tidak jarang, lanjutnya, petani kecil atau gurem di Indonesia mengoptimalkan produk pupuk non-subsidi untuk memenuhi kebutuhan.
 
"Walau sebagian besar petani Indonesia diketahui merupakan petani kecil dengan luas lahan kurang dari 2 hektare, pupuk non-subsidi kadang digunakan sebagai alternatif jika pupuk bersubsidi kurang tersedia atau kebutuhan haranya tidak sesuai," jelasnya kepada Validnews, Jakarta, Jumat (14/1).
 
Di sisi lain, perkebunan besar seperti kelapa sawit dan tebu, bergantung pada pupuk non-subsidi karena tidak berhak mendapat pupuk bersubsidi. Aditya mengkhawatirkan kenaikan harga pupuk non-subsidi bakal memengaruhi output pertanian nasional.
 
"Kondisi ini (harga pupuk non-subsidi naik) bisa berakibat pengurangan produktivitas atau kenaikan harga pada komoditas-komoditas perkebunan ini," terangnya.
 
Meski begitu, ia bilang, potensi dan dampak negatif kenaikan harga tersebut masih terbatas terjadi pada pengguna pupuk non-subsidi saat ini. Pasalnya, harga pupuk bersubsidi sudah diatur pemerintah untuk tidak melebihi Harga Eceran Tertinggi atau HET.
 
"Jika ada kenaikan biaya bahan baku seperti sekarang yang berdampak pada kenaikan ongkos produksi, akan diselesaikan oleh pemerintah bersama produsen pupuk bersubsidi," ujarnya.
 
Kebocoran Pasar
Sementara itu, Kepala penelitian CIPS Felippa Ann Amanta mengungkapkan, dalam situasi kenaikan harga pupuk mengikuti kenaikan harga komoditas, harga pupuk bersubsidi yang bisa tetap sama karena dijamin HET dapat menjadi tantangan baru.

Hal ini juga dapat menyebabkan kesenjangan yang lebih besar dengan pupuk non-subsidi. Pada tahapan ekstrem, kesenjangan harga antara pupuk subsidi dan non-subsidi malah berisiko memunculkan kebocoran dan pasar gelap pupuk.
 
"Karena membuatnya (pupuk non-subsidi) semakin tidak kompetitif dan subsidi semakin mendistorsi pilihan input petani. Pada saat yang sama, mendorong mafia untuk menyelundupkan pupuk ke luar negeri," sebut Felippa.
 
Sebelumnya, Serikat Petani Indonesia (SPI) menginformasikan, tren kenaikan harga  pupuk non-subsidi sudah berlangsung sejak Oktober 2021. Sebagai gambaran, harga pupuk non-subsidi jenis Urea di pengujung 2020 masih dibanderol berkisar Rp265.000-Rp280.000/sak isi 50kg.
 
Namun, sekitar Oktober-November 2021, harga pupuk pada jenis yang sama mengalami kenaikan menjadi Rp380.000/sak. Kenaikan harga itu berlanjut pada Desember 2021 mencapai Rp480.000 hingga Rp500.000/sak. Bahkan, di luar Jawa harganya bisa tembus bisa mencapai Rp600.000/sak.

Terkerek Harga Global
Mengutip Antara, Ketua Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) Dwi Andreas Santoso mengatakan, kenaikan harga pupuk nonsubsidi merupakan hal yang wajar. Mengingat, terjadi kenaikan harga juga di pasar internasional.

Ia menyebut, sejak Mei 2021, harga internasional mengalami lonjakan drastis dan terus bertahan hingga akhir tahun karena banyak faktor. 

Antara lain, pandemi global dan melonjaknya harga komoditas di pasar internasional, yang turut mempengaruhi harga pokok produksi pupuk di Indonesia.

"Harga pupuk internasional melonjak drastis, dari Mei 2021 sampai kini, itu kenaikan sudah tiga kali lipat untuk urea," kata Andreas, Senin (3/1).

Ia menjabarkan, seluruh harga pupuk berbasis urea naik, seperti diamonium fosfat atau DAP yang naik 2,6 kali lipat, pun dengan amonium sulfat atau ZA. Kenaikan harga urea tak lepas dari meningkatnya harga gas yang naik sembilan kali lipat, dari hanya US$3/MMBTU menjadi sekitar US$25/MMBTU 

Dirinya menilai harga pupuk non-subsidi pun terkena imbas dari kondisi harga internasional. Meski begitu, kenaikan harga pupuk nonsubsidi dalam negeri tidak setinggi harga internasional.

"Kenaikan bahan baku urea yakni gas luar biasa tinggi, sehingga mendongkrak harga pupuk. Harapan kita, dalam beberapa bulan harga gas alam akan turun... Kalau turun, barangkali pupuk terutama yang berbasis nitrogen akan turun," katanya.




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER