Cadangan Dilepas, Harga Minyak Hanya Turun Tipis | Validnews.id

Selamat

Sabtu, 27 November 2021

25 November 2021|08:00 WIB

Cadangan Dilepas, Harga Minyak Hanya Turun Tipis

Analis menilai terdapat faktor yang menyebabkan pelepasan cadangan strategis hanya berdampak sementara pada penurunan harga minyak

Oleh: Fin Harini

Cadangan Dilepas, Harga Minyak Hanya Turun TipisIlustrasi pengeboran minyak. Shutterstock/dok

NEW YORK – Harga minyak ditutup sedikit lebih rendah pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB karena investor mempertanyakan efektivitas pelepasan minyak dari cadangan strategis yang dipimpin Amerika Serikat. Investor juga menanti tanggapan para produsen minyak pada kebijakan pelepasan cadangan tersebut.

Dikutip dari Antara, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari turun tipis 6 sen atau 0,07% dan menetap di US$82,25 per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Januari terkikis 11 sen atau 0,14% hingga berakhir di level US$78,39 per barel.

Amerika Serikat mengatakan, akan melepaskan jutaan barel minyak dari cadangan strategis berkoordinasi dengan China, India, Korea Selatan, Jepang dan Inggris untuk meredam kenaikan harga minyak. Langkah ini diambil setelah OPEC+ mengabaikan seruan untuk memompa lebih banyak pasokan minyak.

Merespons ajakan Amerika, Jepang akan melepaskan "beberapa ratus ribu kiloliter" minyak dari cadangan nasionalnya. Namun, Menteri Perindustrian Jepang Koichi Hagiuda, Rabu (24/11/2021), menyebutkan waktu realisasi langkah tersebut belum diputuskan.

Kepala International Energy Agency di hari yang sama mengatakan, saat ini tidak cukup pasokan mencapai konsumen. Badan Energi Internasional tersebut juga menyebutkan beberapa negara belum mengambil posisi membantu untuk menurunkan harga minyak dan gas.

Baca Juga: Harga Minyak Naik Ke Level Tertinggi Dalam Sepekan

Para analis menilai dampak pelepasan cadangan pada harga minyak kemungkinan akan berumur pendek, karena penurunan investasi dalam beberapa tahun terakhir menyebabkan produksi menurun. Di sisi permintaan, terdapat peningkatan lantaran pemulihan global yang kuat dari pandemi covid-19.

Pelepasan terkoordinasi dapat menambah sekitar 70 juta hingga 80 juta barel pasokan minyak mentah, lebih kecil dari lebih dari 100 juta barel yang telah diperkirakan pasar, kata analis di Goldman Sachs.

"Pada model perkiraan harga kami, pelepasan seperti itu akan bernilai kurang dari US$2 per barel, secara signifikan kurang dari penjualan US$8 per barel yang terjadi sejak akhir Oktober," kata bank dalam catatan berjudul "A Drop In The Ocean".

JPMorgan Global Commodities Research mengatakan, dampak apapun pada harga minyak dari pelepasan minyak mentah mungkin tidak akan bertahan lama. Pialang juga memperkirakan permintaan minyak global akan melampaui level 2019 pada Maret 2022.

Sementara perhatian sekarang telah beralih ke bagaimana Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya akan bereaksi terhadap pelepasan cadangan bersama, sumber mengatakan kelompok itu tidak membahas penghentian sementara peningkatan produksi minyak untuk saat ini.

Kelompok itu akan mengadakan dua pertemuan minggu depan untuk menetapkan kebijakan, kata sumber.

Jeffrey Halley, analis pasar senior di OANDA, mengatakan langkah untuk memanfaatkan penyimpanan adalah "keajaiban yang hanya terjadi sekali dan pasar merespons dengan tepat".

Baca Juga: Kasus Covid Melonjak, Harga Minyak Jatuh Ke Level US$ 80/barel

Stok minyak mentah AS naik 1 juta barel pekan lalu, Badan Informasi Energi AS (EIA) mengatakan. Angka ini berbanding terbalik dengan ekspektasi analis adanya penurunan 481.000 barel. Meski demikian, stok minyak mentah AS di Cadangan Minyak Strategis turun pekan lalu menjadi 604,5 juta barel, terendah sejak Juni 2003.

"Sementara persediaan minyak mentah ditambah 1 juta barel, persediaan minyak mentah di Cadangan Minyak Strategis turun 1,6 juta barel dan seiring dengan berlanjutnya penurunan persediaan produk, saya pikir ini mendukung harga," Andrew Lipow, presiden Lipow Oil Associates, mengatakan.

Jumlah rig minyak AS yang aktif naik enam menjadi 467 rig minggu ini, tertinggi sejak April 2020, karena harga minyak mentah yang lebih tinggi telah mendorong beberapa pengebor untuk kembali ke sumur.

Harga juga dipengaruhi oleh infeksi virus corona yang memecahkan rekor di beberapa bagian Eropa, mendorong pembatasan baru pada pergerakan masyarakat.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA