Budaya Lestari, Kocek Terisi | Validnews.id

Selamat

Sabtu, 27 November 2021

25 Oktober 2021|21:00 WIB

Budaya Lestari, Kocek Terisi

Bang Pletok, Jaini berusaha menghilangkan stigma negatif yang melekat pada kata “bir”.

Penulis: Rheza Alfian,

Editor: Dian Hapsari

Budaya Lestari, Kocek TerisiRempah untuk membuat Bir Pletok. Shutterstock/dok

TANGERANG SELATAN – Melestarikan budaya lokal bisa dilakukan dengan berbagai cara. Mulai dari menyelenggarakan kegiatan budaya atau bergabung dengan berbagai komunitas hingga menjual produk-produk yang menjadi ciri khas budaya lokal. 

Dari beragam cara melestarikan budaya, menjual produk berciri khas menjadi salah satu cara yang menguntungkan. Jaini atau yang kerap disapa dengan Bang Jay mengeluti ini. Sudah 11 tahun terakhir ini, Bang Jay ikut melestarikan minuman ciri khas betawi, yaitu bir pletok.  

“Sebabnya pertama saya merasa terpanggil bahwa ada satu produk kearifan lokal dari Betawi yang memang perlu saya angkat sebagai minuman tradisional yang bisa diperkenalkan kepada masyarakat luas,” tuturnya saat berbincang dengan Validnews, Senin (25/10).

Alasan Bang Jay menjual bir pletok terbilang sangat sederhana; berawal dari kebiasaan mengonsumsi bir pletok saban hari. Mulai 2009, Jay terbesit untuk menjual apa yang biasa diminum.

Apa yang dirasakannya membuat Jaini berani menjual bir pletok. Buatnya, minuman ini mampu menghangatkan sekaligus menyegarkan badan yang sedang lelah agar kembali bugar.

Awal berdagang, Bang Jay menjajakan produknya di sekitaran Setu Babakan, Jakarta Selatan hingga kawasan Depok. Saat itu, bir pletok dijual melalui beberapa booth yang disewa, warung-warung, hingga rumah makan.

Dari situ, apa yang dilakukannya menuai sambutan baik dari masyarakat. Hingga akhirnya bir pletok hasil tangannya beredar luas di masyarakat. “Pada akhirnya banyak yang suka, kadang ada di pesta pernikahan, hajatan, di outlet-outlet, restoran, kafe, dan berkembang,” ujarnya.

Edukasi
Niatnya mencari rezeki sambil melestarikan budaya bukan tanpa halangan. Butuh waktu untuk akhirnya masyarakat tahu dan mau untuk mencoba bir pletok Bang Jay. Banyak yang tak tahu minuman ini, sekalipun mereka adalah asli orang Betawi. 

Dia menghitung, setidaknya memerlukan waktu tiga tahunan menyosialisasikan bir pletok yang sedang dikembangkannya itu.  Stigma ‘bir’ kadung melekat sebagai minuman beralkohol. Proses edukasi dilakukan dengan membuat narasi jika bir ini tidaklah bir seperti minuman asal barat dan memabukkan. Kesulitan untuk mengenalkan produk kearifan lokal dan sekaligus banyaknya saingan menjadi hal yang menantang buatnya. 

Bang Jay sampai harus memberikan nama ‘Bang Pletok’ untuk menghilangkan kesan memabukkan dari sebuah bir pada umumnya. “Kalau ada yang bertanya, bikin mabuk nih bang? Ya paling saya bercandain paling mabuk kepayang,” ujarnya berkelakar.

Jay bercerita, bir pletok buatannya memiliki banyak keunggulan yang tidak dimiliki minuman kesehatan lainnya. Argumennya, di dalam bir pletok tidak hanya terkandung satu-dua bahan baku saja. 

Bir ini dibuat dari campuran beberapa rempah, seperti jahe, daun pandan wangi, kayu manis, cengkeh, pala, kapulaga, dan serai. Agar warnanya menarik dapat ditambahkan kayu secang, yang akan memberikan warna merah jika diseduh dengan air panas.

Banyaknya jenis rempah membuat lelaki ini percaya diri bahwa minuman bir pletok memiliki khasiat yang berguna untuk kesehatan. Khasiat dan campuran rasa rempah itu sekaligus menjadi daya tarik dibandingkan minuman lainnya. Dua hal inilah yang menjadi materi edukasinya kepada masyarakat.



“Belasan bahkan puluhan, jadi bisa dibayangkan bukan hanya jahe merah, ada juga kayu manis, lada hitam, sereh, macam-macam sampai belasan sehingga ketika bir pletok ini kaya akan rempah, kaya akan khasiat sehingga itu kekuatan di minuman lain,”urainya.

Edukasi yang dilakukan Bang Jay tidak sebatas hanya menjual produknya saja. Tercatat pada hari ulang tahun (HUT) Tangerang Selatan dua tahun silam, ia membagikan bir pletok gratis sebanyak 11 ribu gelas.

Dari situ, dia mengetahui bagaimana respons dari masyarakat terkait minuman ini. Bahkan ada beberapa yang juga ingin membantu menjual kembali bir pletok buatannya. 

“Saya juga edukasi cara pembuatan, saya juga bikin di Youtube, kemarin juga banyak undangan. Artinya apa, dengan demikian kan banyak orang akan tahu dan berpotensi suka dengan bir pletok,” lanjutnya.

Edukasi ini membuahkan hasil. Saat ini, banyak temannya yang juga berjualan bir pletok. 

Inovasi
Ada yang menarik dari bir lokal ini. Harga di pasar ternyata tak ada keseragaman. Saat awal mula berjualan, Bang Jay sempat merasa heran dengan bir pletok yang dijual dengan harga mahal. Di pasaran, bir pletok bisa dijual hingga Rp50 ribu. Bahkan yang paling termurah bisa mencapai Rp25 ribu.

Menurutnya, ini menjadi kendala bagi pelestarian budaya. Bagaimana masyarakat mau mencoba minuman khas betawi jika mereka harus merogoh kocek dalam-dalam untuk sebuah minuman yang belum tentu disukai. Ini menyulutnya buat berinovasi. 

“Nah saya akhirnya mencoba berinovasi dalam bentuk kemasan. Sehingga sekali minum itu yang terukur harganya, terjangkau dari harga Rp5 ribu sampai harga Rp10 ribu dalam kemasan,” imbuhnya.

Dengan murahnya harga yang dipatok, Bang Jay berharap masyarakat setidaknya mau mencoba minuman khas Betawi ini, bahkan berlangganan. Pun, jika ada masyarakat yang tidak suka dengan rasa bir pletok, mereka tidak merasa rugi-rugi amat.


Laris Manis Saat Covid-19
Untuk modal, Bang Jay mengatakan dengan uang Rp500 sudah bisa membuat bir pletok dengan kapasitas yang besar.  Dia biasanya meracik sepanci minuman yang bisa menjadi 50 botol atau 100 ukuran kecil.

Dari situ, ia bisa menjual sekitar 100 hingga 200 botol setiap harinya. Penjualannya di kala pandemi justru naik.  Banyak orang mencari minuman ini sebagai penaik daya imun. 

Belakangan, diakuinya bahwa turunnya kesadaran akan bahaya covid-19 turut menurunkan omzet bir pletok. Dia menilai keinginan warga mengonsumsi minuman yang meningkatkan imun, berkurang.

Dari 100%, dia menghitung masih ada konsumen tetap sebanyak 30–40% yang tetap mengkonsumsi minuman buatannya.

Penjualan pun dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya konsinyasi. Bang Jay bilang, potensi pembelian di warung-warung dan rumah makan cukup besar. Namun, karena keterbatasan modal ia belum bisa memenuhi tingginya permintaan dari pasar.

“Cuma kan kembali kepada permodalan UMKM-kan ada keterbatasan gitu lah ya,” ucapnya.

Di media sosial sendiri, Bang Jay mengaku penjualan lewat platform daring tidak teramat kinclong. Media sosial masih digunakan untuk menimbulkan kesadaran masyarakat untuk lebih peduli dengan minuman khas Betawi ini.  Pun, mitra-mitra outlet saat ini masih menjadi fokus dalam melakukan transaksi jual beli. Menurutnya, penjualan di mitra-mitra outlet lebih stabil karena sudah memiliki pelanggan tetap di setiap outlet. 

Sampai sekarang, Bang Jay masih memproduksi bir pletok secara rumahan. Dia belum mempekerjakan karyawan tetap, meski mengaku sudah ada investor yang tertarik untuk mengembangkan bir pletoknya.

Materi rempah dalam minuman ini membuat bir pletok tidaklah berdaya simpan lama.  “Sehingga kita harus mengukur bahwa jangan sampai semakin banyak outlet tapi takut banyak retur,” ucapnya.

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER