Selamat

Minggu, 25 Juli 2021

BERITA

19 Juli 2021|15:02 WIB

BRI Berpotensi Raup Dana Jumbo dari Rights Issue

Dana tersebut dapat digunakan untuk penguatan modal dan pengembangan bisnis ke depan.

Penulis: Fitriana Monica Sari,

Editor: Fin Harini

ImageKantor Cabang Bank BRI. Googlemaps/dok

JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI berpotensi meraup dana segar hingga Rp40 triliun dari rights issue, sehingga holding Ultra Mikro dinilai memiliki modal yang besar untuk melakukan ekspansi dalam meningkatkan pembiayaan dan pemberdayaan ekosistem usaha mikro dan ultra mikro nasional.

Head of Research PT Samuel Sekuritas Indonesia, Suria Dharma mengatakan, penerbitan saham baru BRI guna pembentukan holding BUMN Ultra Mikro (UMi) adalah aksi korporasi yang sangat besar.

"Penghimpunan dananya sangat besar. Bahkan, kalau hanya terserap 50%, itu saja bisa sampai Rp20 triliun. Tentu perlu kita lihat berapa banyak dana yang nanti dapat terhimpun," kata Suria dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (19/7).

Sebelumnya, pada pertengahan bulan lalu, BRI telah mempublikasikan keterbukaan informasi terkait rencana rights issue. BRI menjadi perusahaan induk holding BUMN sektor UMi-UMKM diawali dengan pelaksanaan Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD).

Dalam rights issue ini, Perseroan akan menerbitkan saham baru kira-kira 28,67 miliar seri B atau setara dengan 23,25% saham BBRI saat ini dengan nilai nominal Rp50 per saham.

Pemerintah selaku pemegang saham pengendali akan mengambil bagian atas seluruh HMETD yang menjadi haknya melalui mekanisme inbreng atas saham milik pemerintah di Pegadaian dan PNM masing-masing 99,99%.

Pemerintah telah menerbitkan landasan hukum pembentukan holding dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 2021. Beleid itu hadir sebagai bentuk perwujudan visi pemerintah meningkatkan aksesibilitas layanan keuangan segmen ultra mikro. 

Sesuai PP tersebut, holding terdiri atas tiga entitas BUMN. Yakni, BRI, PT Pegadaian (Persero), dan PT Permodalan Masyarakat Madani (Persero) atau PNM. Pada Kamis, 22 Juli mendatang, BRI akan menggelar RUPSLB dengan agenda persetujuan atas rights issue kepada para pemegang saham.

Terkait hal itu, Suria memproyeksikan investor menilai positif aksi korporasi ini. Pasalnya, potensi pengembangan bisnis akan semakin kuat, serta banyak memberi multiplier effect yang besar terhadap ekonomi.

Dia menilai BRI pun nantinya memiliki rasio kecukupan modal di kisaran 23%. Capaian itu melebihi posisi permodalan bank pelat merah lainnya. Dengan demikian, kata dia, rasio kecukupan modal tersebut dapat berguna untuk melakukan ekspansi guna mendorong pemulihan ekonomi pasca pandemi.

Terlebih, PNM dan Pegadaian pun menurutnya memiliki kinerja yang positif di masa pandemi, sehingga ke depan perlu didorong dengan bantuan yang lebih besar lagi di masa pemulihan.

Memasuki Juli 2021, harga saham BBRI tertinggi ada di harga Rp3.990 pada perdagangan 2 Juli lalu. Sementara, harga terendah yaitu Rp3.710 pada 14 Juli lalu. Dalam kurun waktu 52 minggu atau satu tahun terakhir, harga tertinggi berada di Rp4.890 dan harga terendah di Rp2.990.

Berdasarkan pantauan Validnews, mengutip RTI, saham BBRI pada Senin (19/7) pukul 13.31 WIB, melemah 40 poin atau 1,04% menjadi Rp3.800 per saham. Sebelumnya, saham BBRI pada Jumat (16/7) ditutup Rp3.830 per saham. 

Pembiayaan Terpacu
Hal itu pun diamini Kepala Riset PT Koneksi Kapital, Marolop Alfred. Dia berpendapat holding ini akan memperdalam penetrasi jasa keuangan formal di segmen mikro dan ultra mikro.

"Tentu hal ini akan sangat baik bagi ekonomi. Ini untuk penetrasi pembiayaan segmen mikro. Pada akhirnya, akan bermanfaat untuk kinerja holding ini, untuk meningkatkan pendapatan lebih optimal," ujar Marolop dalam kesempatan berbeda.

Adapun terkait Pegadaian dan PNM, Alfred mengatakan, kedua perusahaan tersebut akan mendapatkan dukungan pendanaan yang kuat dari BRI sebagai salah satu dampak holding. Selain itu, penetrasi bisnis Pegadaian dan PNM akan semakin lebar karena mendapat sokongan dari segi infrastruktur, manajemen, teknologi, hingga jaringan dari BRI maupun integrasi kinerja di dalam holding.

"Dengan integrasi ini, tentu akses pendanaan murah. Dana simpanan juga akan tumbuh seiring dengan pertumbuhan nasabah Pegadaian dan PMN," tuturnya.

Alfred pun berharap sinergi ketiga BUMN tersebut dapat berjalan dengan mulus pada tahap awal holding. Sehingga, sejak awal tercipta sinergi ekosistem usaha UMi yang efektif.

"Bagaimana pun tantangan seperti budaya organisasi, penyatuan visi bisnis, SDM menjadi dinamika dalam percepatan konsolidasi internal holding ultra mikro," imbuhnya.

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER