Selamat

Sabtu, 16 Oktober 2021

21 Juni 2021|10:58 WIB

BRI Agro Gandeng Koinworks Perluas Akses Permodalan Gig Economy

Fintech menjadi digital attacker dalam pengembangan bisnis BRI.

Oleh: Fin Harini

ImageBRI menggandeng KoinWorks untuk memperluas akses permodalan bagi masyarakat di berbagai sektor bisnis. ANTARA/HO-AGRO

JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (BRI Agro) menggandeng perusahaan teknologi finansial yang sedang berkembang di Indonesia yaitu KoinWorks (PT. Lunaria Annua Teknologi) untuk memperluas akses permodalan bagi masyarakat di berbagai sektor bisnis.

Direktur Retail Agri & Pendanaan BRI Agro Sigit Murtiyoso mengatakan, kerja sama dengan fintech lending itu merupakan langkah BRI Agro menjadi House Of Fintech. Saat ini fintech dan perbankan bisa saling berkolaborasi dalam membantu pertumbuhan ekonomi nasional.

"Tujuan kami sebagai house of fintech and home for gig economy, karena kami ingin melayani pekerja sektor informal atau yang disebut gig economy workers termasuk UMKM. Caranya adalah kolaborasi dengan fintech untuk dapat menghasilkan data yang akurat untuk digital lending," ujar Sigit di Jakarta, Senin (21/6), dilansir dari Antara.

Sigit menyampaikan, kerja sama yang telah dilakukan emiten berkode saham AGRO itu selama ini dengan beberapa fintech yang ada di Indonesia telah menunjukkan hasil yang positif.

"Hingga Mei 2021 kami telah menyalurkan sebesar Rp348 miliar melalui platform digital. Untuk itu BRI Agro terus memperluas jangkauan kerja sama termasuk dengan KoinWorks. Kami memilih fintech untuk mengembangkan bisnis untuk menjadi digital attacker sesuai dengan aspirasi BRI Group," kata Sigit.

Ia pun optimistis kerja sama dengan KoinWorks akan memberikan kontribusi bagi para masyarakat serta para pelaku gig economy. Karena, pelaku gig economy adalah salah satu pilar pertumbuhan pemulihan ekonomi di Indonesia.

"Selain itu juga, gig economy workers adalah perwujudan UMKM baru yang penyaluran kreditnya dilakukan secara digital berbasis data," ujar Sigit.

CEO KoinWorks Benedicto Haryono menyambut dan mendukung penuh inisiatif yang dijalankan BRI Agro karena sesuai dengan misi perseroan. Yaitu, memberikan demokrasi layanan keuangan kepada semua lapisan masyarakat.

"Bersama-sama kami membuka peluang yang lebih besar kepada pelaku gig economy. Karena, kami sudah membantu ratusan ribu gig economy yang bangkit dan berkembang 300-400% dengan akses finansial yang tepat. Maka dari itu, kami mengajak masyarakat gig economy untuk bisa ikut berpartisipasi bersama dengan KoinWorks dan BRI Agro," ujar Benedicto.

Perjanjian kerja sama dilaksanakan secara daring dan ditandatangani oleh Sigit Murtiyoso selaku Direktur Retail Agri & Pendanaan BRI Agro dan Benedicto Haryono selaku CEO dan Co-Founder KoinWorks. Penandatanganan juga dihadiri oleh Kaspar Situmorang selaku Direktur Utama BRI Agro dan Bhimo Wikan Hantoro selaku Direktur Digital Bisnis BRI Agro, Mark Bruny selaku CFO KoinWorks dan Jonatan Bryan selaku CMO KoinWorks.

Mengutip data Kementerian Koperasi dan UKM, hingga 2019 lalu, usaha mikro mendominasi jumlah perusahaan di Indonesia. Jumlahnya mencapai 64,6 juta unit, setara 98,6% dari total unit usaha secara nasional. Dengan jumlah tersebut, segmen usaha UMi mampu menyedot sekitar 109,8 juta tenaga kerja.

Pada 2019 lalu, sumbangan segmen UMi terhadap PDB mencapai Rp5.913 triliun. Pada periode yang sama, potensi ekspor segmen usaha UMi yang masuk dalam kategori non migas memiliki nilai ekonomi hingga Rp30,3 triliun.

Perajin menata layangan jangan untuk dijual saat UMKM Layang-Layang Expo 2021 di Pantai Segara Ayu Sanur, Denpasar, Bali, Jumat (21/5/2021). ANTARAFOTO/Nyoman Hendra Wibowo

Namun, dukungan pembiayaan untuk sektor UMi masih terbatas. Peneliti Center for Indonesia Policy Studies (CIPS) Noor Halimah Anjani menyebutkan potensi UMKM dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional masih terhambat kesulitan akses permodalan. UMKM yang berjumlah sekitar 64 juta unit dan 98% didominasi usaha mikro, umumnya memiliki dana terbatas.

"Mayoritas adalah usaha mikro yang memiliki dana terbatas, terutama mengandalkan modal pribadi pemilik usaha," katanya lewat keterangan resmi di Jakarta, Senin (14/6).

Ia menyebutkan pelaku UMKM bisa memanfaatkan peer-to-peer lending atau pinjaman online untuk memperoleh akses mudah ke pembiayaan modal kerja jangka pendek.

"Penyerapan KUR masih rendah karena terkendala profil UMKM yang tidak sesuai dengan persyaratan. Per Maret 2020, baru Rp54,03 triliun terserap dari target Rp190 triliun," imbuhnya.

Sementara mengutip laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Noor mengatakan pada September 2020, jumlah distribusi P2P lending mencapai Rp128,7 triliun atau meningkat sekitar 113% secara year-on-year.

Hingga Maret 2021, OJK mencatatkan ada 148 penyelenggara pinjaman P2P yang terdaftar dan berizin. Catatan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), ungkapnya, pun menunjukkan UMKM mendominasi penyaluran P2P lending.

Untuk memastikan UMKM memanfaatkan P2P lending, Noor menegaskan peran pemerintah ialah meningkatkan literasi keuangan bagi para pelaku usaha. Menurutnya, literasi keuangan bisa membantu pelaku UMKM berhati-hati dalam melakukan pinjaman modal dengan model P2P.

Pasalnya, mengutip survei nasional literasi keuangan yang digarap oleh OJK pada 2019 silam, indeks literasi keuangan di Indonesia masih berada di kisaran 38%.

"Literasi keuangan juga dapat mencegah mereka terjebak utang oleh penyelenggara pinjaman P2P yang ilegal," kata dia.

 


 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA