Selamat

Sabtu, 16 Oktober 2021

04 Oktober 2021|20:36 WIB

Berniaga ‘Kunci’ Enaknya Ngopi

Tren perkopian yang ramai digandrungi belum mendapat dukungan dari industri lokal di bidang alat-alat penyeduhan kopi

Penulis: Yoseph Krishna,

Editor: Dian Hapsari

ImageKonsumen bertransaksi menggunakan Quick Response Indonesia Standard (QRIS)di UMKM Skema Coffe, Lebak. ANTARAFOTO/Muhammad Bagus Khoirunas

JAKARTA – Meski tren meminum kopi mulai marak beberapa tahun belakangan, tak dapat dipungkiri bahwa ketika di rumah, banyak orang yang ‘ngopi’ masih dengan cara konservatif.  Kopi tubruk, seperti halnya kopi-kopi instan warungan lebih menjadi pilihan.

Tanpa memandang remeh kopi instan yang penikmatnya juga banyak, namun tak banyak yang tahu bahwa kopi-kopi lokal khas Nusantara, sebut saja Arabica Gayo khas Aceh, kopi Wamena Papua, Kopi Bali, hingga kopi Toraja, dapat dinikmati di rumah dengan metode ala coffee shop kekinian.

Bermacam kopi ini pun sudah marak dijual di beraneka ragam platform e-commerce. Jadi, orang-orang dapat dengan mudah menikmatinya, entah sembari work from home (WFH), membaca berita di media online, menonton pertandingan sepak bola, atau sekadar hidangan bagi tamu yang berkunjung.

Hadirnya para pelapak online di sektor perkopian pun turut diramaikan oleh para penjual peralatan meracik kopi di platform digital.  Hermawan (25) salah satunya. Ia mengaku sudah sejak lama punya kesenangan tersendiri pada kopi. Atas passion-nya itu, Hermawan pun dengan berani mendirikan Waterground Coffee and Roastery pada 2017 dan langsung masuk ke pasar e-commerce.

Ketika banyak pelapak yang hanya menjual kopi pada awal memulai bisnis, Hermawan memberanikan diri untuk menjajakan berbagai bentuk peralatan menyeduh atau meracik kopi. Dia menyediakan mulai dari yang sederhana, hingga berteknologi tinggi.

"Dari awal, semuanya (kopi dan peralatan) berbarengan. Tapi memang awalnya lebih laku peralatan kopi, sedangkan kopinya sendiri lebih pelan berkembangnya," tuturnya ketika dihubungi Validnews dari Jakarta, Jumat (1/10).

Tak ada alasan lain bagi Hermawan selain passion yang membuatnya tertarik menjual alat kopi bersamaan dengan kopi itu sendiri. Bahkan, ia mengklaim Waterground Coffee and Roastery yang berdiri sejak 2017 itu lahir sebelum tren 'ngopi' mulai digandrungi.

Namun demikian, Hermawan tak menampik tren ‘ngopi’ yang terjadi turut menyokong bisnisnya. Tanpa menyebut angka pasti, dia mengaku penjualan terus meningkat sejak ada tren itu. Penjualan kopi dalam bentuk biji atau gilingan, maupun peralatannya sama meningkat.

Nama Waterground sendiri punya makna baginya. Dia rancang dari serapan bahasa Inggris yang jika diindonesiakan berarti Tanah Air. Nama itu sejalan dengan komitmen dalam menjual kopi, baik dalam bentuk biji maupun sudah tergiling, semuanya merupakan kopi lokal dari berbagai penjuru Nusantara.

Meskipun belum lengkap, pengusaha ini tetap mengejar tujuannya, yakni menyediakan kopi dari seluruh daerah, mulai dari Aceh hingga Papua. Dia menukas, usaha ini tidak akan menyediakan kopi impor.

"Memang belum lengkap semua daerah, tapi intinya dari ujung ke ujung (Indonesia) kita ingin ada. Komitmen kami, tidak akan menjual kopi impor karena kopi Indonesia itu banyak sekali dan kualitasnya bagus," kata Hermawan.

Selain itu, langkah Waterground Coffee and Roastery untuk hanya menjual kopi lokal juga bertujuan sebagai imbauan kepada orang-orang agar jangan membiasakan menikmati kopi impor. Kualitas kopi Indonesia yang ia sebut tak kalah jika dibandingkan kopi dari luar negeri.

"Indonesia semestinya ekspor kopi, sudah tidak lagi impor. Jadi saya ingin ajak orang-orang untuk jangan membiasakan minum kopi impor," tegas dia.

Namun, soal peralatan yang disediakan masih berasal dari luar negeri. Hal ini tak lepas dari ketidakmampuan industri dalam negeri terkait untuk memroduksi peralatan kopi dengan kualitas mumpuni sehingga impor menjadi satu-satunya solusi.

"Untuk alat, kebetulan industri di Indonesia belum semaju itu. Padahal, permintaan pasar untuk alat-alat kopi, seperti teko, server, kompor, dan sebagainya itu besar, namun memang sebagian besar masih impor," lanjut Hermawan.  

Kendala
Kisah mendirikan usaha ini tak semulus keinginan pendirinya. Salah satu tantangannya ialah modal yang terbatas. Problem ini tak lepas dari keberanian menjajakan kopi sekaligus peralatannya berbarengan.

Tanpa menyebut angka detail, Hermawan menceritakan saat itu ia merogoh kocek puluhan juta rupiah sebagai modal awal menjajakan bermacam peralatan kopi. Uniknya, ia berani memulai bisnis ini saat masih berstatus mahasiswa tingkat akhir yang sedang menjalani proses skripsi.

Beberapa lama menggeluti usaha ini, ada lagi kendala.   Persaingan di pasar digital dinilainya cukup ketat. Semakin hari semakin banyak yang menjual peralatan kopi, entah sebagai bisnis utama maupun bisnis sampingan. Dampak pandemi covid-19 dinilainya berpengaruh, membuat pelaku usaha harus berinovasi agar bisa mempertahankan usaha.

Tak ambil pusing, Hermawan mengaku ia harus memutar otak untuk menghadapi persaingan itu yang menurutnya sedikit merusak harga pasar dari peralatan kopi. Maraknya penjual peralatan kopi di e-commerce tanpa profil yang jelas menurutnya tak lepas dari tujuan para pelapak yang murni ingin mencari uang. 

Di sisi lain, Hermawan menjalankan Waterground Coffee and Roastery karena ketertarikannya terhadap sektor perkopian yang kemudian bisnisnya terlihat penuh persiapan yang matang.

“Maka dari itu saya aktif mengikuti tren alat kopi. Tapi kalau bilang yang jual kopi lebih banyak dari alat, sepertinya yang jual alat juga banyak. Mungkin juga karena jual alat butuh modal lebih besar,” imbuhnya.

Hingga saat ini, Waterground Coffee and Roastery yang berbasis di DKI Jakarta itu telah memiliki bermacam kelengkapan alat kopi. Tercatat di platform Tokopedia dan Shopee, produk-produk alat kopi yang dijajakan tidak kurang dari 20 kategori yang mencakup alat seduh dan pendukungnya, kompor elektrik, timbangan, hingga mesin penggiling kopi.

Dari semua yang dijual, yang paling laris ialah yang paling sederhana, yakni alat French Press. Di e-commerce Shopee, rata-rata penjualan per bulan tercatat sekitar 78-80 unit per bulannya. Sementara di platform Tokopedia lebih beragam lagi French Press ditawarkan.  

Tak kurang ada 20 jenis produk sama diperdagangkan. Statistik pada platform itu  pun menunjukkan total penjualan Waterground Coffee and Roastery terhadap produk French Press telah mencapai ribuan.

"French Press sih yang paling laris karena memang saya rasa gampang digunakan saja," tandas Hermawan.

Tetap Menjanjikan
French Press sendiri bukanlah hal yang asing di dunia perkopian. Keberadaan alat itu telah lama menjadi salah satu opsi dalam metode manual brew ketika menyeduh kopi. Kesederhanaan French Press dikarenakan tak perlu lagi menggunakan filter kertas ataupun able kone.

Penggunaannya yang tanpa filter kertas membuat hasil ekstraksi kopi lebih kaya akan rasa serta dan punya aroma yang lebih kuat. Biasanya, bubuk kopi direndam selama 30 detik dengan sedikit air untuk mengekstraksi, kemudian diaduk dan sisa air panas barulah dituang dan ditekan dengan plunger yang juga tersedia pada alat tersebut secara perlahan.

"Selain itu, V60, Moka Pot, dan Vietnam Drip juga sering digunakan orang karena kemudahannya masing-masing," tambah Hermawan.

Teknik seduh V60 sendiri juga sudah tak asing di kalangan barista. Material yang digunakan V60 Drip ialah keramik silinder dengan lubang yang mengerucut ke bawah dan berfungsi sebagai jalan keluar dari ekstraksi bubuk kopi.

Tak jauh berbeda, teknik seduh Vietnam Drip juga mulai banyak dikenal banyak kalangan. Sesuai dengan namanya, teknik ini berasal dari Vietnam. Perbedaannya dengan V60 ialah peralatan yang digunakan menggunakan gelas metal yang terdiri dari tabung, plunger, dan tutup metal

Kemudian untuk teknik Moka Pot, ekstraksinya dilakukan dengan tekanan dari air yang dipanaskan di atas api. Didihan air itu akan melewati bubuk kopi dan hasil ekstraksi akan keluar melalui lubang wadah pada bagian atas. Alat ini terbagi menjadi tiga bagian, yakni wadah air panas, wadah bubuk kopi, serta wadah kopi yang telah diseduh.


Selain menjual berbagai perlengkapan mengopi di platform e-commerce, akun Instagram @watergroundcoffee juga menjadi salah satu medium promosi. Passion-nya terhadap kopi juga terlihat di akun Instagram pribadi @hermasatu yang beberapa kali mengedukasi terkait penyeduhan kopi dengan alat-alat yang dijajakan oleh Waterground Coffee and Roastery.

Di tengah usaha sejenis yang menjamur, dia meyakini peluang bisnis di sektor ini masih terbuka. Kuncinya, adalah para pelaku bisnis harus berani 'bertarung' hingga 'berdarah-darah' untuk menggeluti bisnis perkopian. Dia sudah bersiap untuk berkompetisi demikian. 

Karenanya, kini Hermawan tengah merancang pendirian showroom berupa coffee shop yang akan dijadikan pula sebagai media branding. Ketiadaan toko fisik dari bisnisnya saat ini tak lepas dari aspek optimalisasi biaya.

 "Jadi sebetulnya toko fisik ini lebih ke tempat nongkrong sekaligus showroom bagi mereka yang ingin melihat langsung. Tapi saya rasa, tidak akan banyak karena pembeli sudah mulai terbiasa untuk membeli sebelum melihat barang," tambahnya.

Dia berkeyakinan, optimalisasi potensi bisnis kopi  kemudian akan berpengaruh terhadap perkembangan sektor perkopian di Tanah Air. Bukan mustahil, segera ada industri alat-alat seduh buatan negeri ini di masa yang akan datang .  

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER