Belum Usai, Ketidakpastian Covid-19 Masih Ancam Ekonomi Di 2022 | Validnews.id

Selamat

Sabtu, 27 November 2021

25 November 2021|11:07 WIB

Belum Usai, Ketidakpastian Covid-19 Masih Ancam Ekonomi Di 2022

Terdapat tiga hal terkait pandemi covid-19 yang terus dimonitoring Kementerian Perdagangan.

Penulis: Khairul Kahfi,

Editor: Fin Harini

Belum Usai, Ketidakpastian Covid-19 Masih Ancam Ekonomi Di 2022Petugas kesehatan menyuntikan vaksin kepada anak usia sekolah dasar di SD Pardomuan, Bandung, Jawa Barat, Kamis (12/11/2020). ANTARAFOTO/Novrian Arbi

JAKARTA – Kementerian Perdagangan terus memantau dinamika situasi perekonomian global yang masih diliputi ketidakpastian. Beberapa ancaman turunan covid-19 terhadap ekonomi belum usai dan masih terus bergerak dinamis dari waktu ke waktu.

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan mengungkapkan, setidaknya terdapat tiga tantangan pertumbuhan ekonomi yang terus Kemendag monitoring sejauh ini.

Pertama, mengenai pandemi covid-19 menyebabkan setiap negara mengalami penurunan PDB. Sehingga, vaksinasi menjadi solusi untuk menumbuhkan perekonomian.

Kedua, mengenai rantai pasok global. Menurut Freightwaves 2021, terjadi penurunan supir truk dan pekerja di Amerika Serikat. Hal ini meningkatkan keterlambatan pelayaran di AS dan China, serta berbagai negara lainnya.

"Kemudian menyebabkan peningkatan biaya logistik yang cukup tajam dan berpotensi kenaikan inflasi," katanya dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Kamis (25/11).

Kenaikan harga juga terjadi pada komoditas supercycle akibat stimulus ekonomi yang dikucurkan di negara maju, nilai tukar dolar yang kian melemah, serta naiknya permintaan di China dan negara industri di Asia.

Ketiga, kontestasi antara AS dan China yang berlanjut turut menjadi ancaman pada perekonomian global, khususnya Indonesia. Perang dagang antara Negeri Paman Sam dan Negeri Tirai Bambu menciptakan peluang ekspor di kedua negara tersebut.

“Peluang ini harus dimanfaatkan pemerintah dengan memperbesar porsi ekspor dari produk-produk unggulan ekspor ke negara terkait,” ucap Oke.

Oke menambahkan, Kemendag telah berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait dalam memberikan dukungan program percepatan pemulihan ekonomi nasional. Di antaranya dengan menjaga stabilitas perekonomian nasional, baik dari sisi penawaran dan permintaan.

“Misalnya, pembukaan mal dan pusat perbelanjaan dengan penerapan aplikasi PeduliLindungi. Sedangkan dari sisi demand, Kemendag menerapkan program digitalisasi pasar yang bekerja sama dengan lokapasar,” kata Oke.

Kepala Badan Pengkajian dan Pengembagan Perdagangan Kemendag Kasan menyampaikan, beberapa lembaga internasional telah melakukan berbagai proyeksi, bahkan merevisi pertumbuhan ekonomi, baik pada 2021 maupun 2022.

Hal ini mengingat variabel yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan global terus bergerak dan tidak bisa dipastikan sesuai dengan yang diharapkan, termasuk dalam penanganan covid-19.

Saat ini, Kasan menyebutkan Indonesia termasuk salah satu negara terbaik dalam penanganan covid-19. Namun, pada saat bersamaan semua pihak mengetahui penanganan covid-19 di beberapa negara, khususnya di Eropa mengalami lonjakan signifikan.

"(Kondisi) ini jelas akan mempengaruhi proyeksi ekonomi di tahun ini dan tahun depan,” papar Kasan.

2022 Sebagai Tahun Pemulihan 
Sementara itu, Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad menyampaikan, tahun 2022 merupakan tahun pemulihan ekonomi bangkit dari situasi pandemi covid-19.

Namun, tahun depan juga terdapat ancaman serius, salah satunya gelombang ketiga pandemi, yang menyebabkan tingginya kemungkinan pembatasan kegiatan sosial, serta tantangan yang bersifat dari luar seperti negara mitra dagang.

“Namun yang lebih penting adalah memperkirakan perekonomian domestik, daya beli masyarakat, dan usaha kecil menengah yang mempunyai harapan di masa akan datang,” ujar Ahmad.

Sebelumnya, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022 akan mencapai 4,7–5,5%, lebih tinggi dari 3,2–4,0% pada 2021.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh berlanjutnya perbaikan ekonomi global yang berdampak pada kinerja ekspor yang tetap kuat. Serta meningkatnya permintaan domestik dari kenaikan konsumsi dan investasi, didukung vaksinasi, pembukaan sektor ekonomi, dan stimulus kebijakan.

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA