Selamat

Rabu, 1 Februari 2023

EKONOMI

25 Januari 2023

19:04 WIB

Bank BTPN Optimistis dan Hati-hati Tatap Pertumbuhan 2023

Bank BTPN disebut akan tetap tumbuh pada tahun ini. Meskipun begitu, pertumbuhan akan disikapi secara hati-hati.

Penulis: Khairul Kahfi,

Editor: Rheza Alfian

Bank BTPN Optimistis dan Hati-hati Tatap Pertumbuhan 2023
Foto udara gedung Bank BTPN di Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (7/8/2022). Shutterstock/Esa Hartadi

JAKARTA – Direktur Utama Bank BTPN Henoch Munandar menyampaikan, BTPN cukup optimistis dapat bertumbuh di tengah ketidakpastian global yang diliputi oleh sentimen resesi pada 2023. Meski demikian, pertumbuhan tersebut akan disikapi dengan hati-hati dan moderat.

“BTPN akan tetap bertumbuh, tapi bertumbuh dengan kehati-hatian dalam menyikapi perkembangan ekonomi global (2023),” jelasnya dalam kegiatan media gathering, Jakarta, Rabu (25/1).

Seperti diketahui, Kementerian Keuangan menilai, kondisi perekonomian global 2023 kurang lebih masih akan cukup mirip dengan apa yang terjadi selama 2022. Bahkan, terdapat kecenderungan ekonomi dunia pada 2023 ini akan lebih melemah terdampak sejumlah kebijakan dan dinamika global.

Pertumbuhan ekonomi dunia pada 2022 juga diproyeksi hanya akan mencapai 3,2%, jauh lebih rendah dari prediksi awal di kisaran 4,4%. Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) juga memproyeksi pertumbuhan ekonomi dunia 2023 hanya akan tumbuh 2,7% dari proyeksi 3,8% pada agenda World Economic Outlook (WEO) Januari 2022.

Baca Juga: Per September 2022, BTPN Telah Salurkan Pembiayaan Hijau Rp6,7 Triliun

Henoch pun melanjutkan, ekonomi Indonesia masih cukup beruntung masih ditopang oleh beberapa sektor. Dirinya pun menyebut, ketahanan energi dan pangan yang dimiliki Indonesia relatif cukup positif ketimbang yang dialami sejumlah negara lain saat ini.

Pada akhirnya, keadaan ini mampu menjaga kondusivitas kondisi ekonomi Indonesia, apalagi setelah dihantam hebat oleh covid-19 sejak 2020. 

“Kita harap recovery ekonomi (Indonesia) mencapai dan mendapatkan momentum,” ujarnya.

Dia pun memperkirakan sejumlah sektor positif ini dapat berkontribusi kepada kinerja pertumbuhan kredit pada 2023. Adapun, hal ini pun akan diimbangi dengan ketentuan manajemen risiko perbankan seperti yang ditentukan oleh regulator.

Secara keseluruhan, dirinya menilai, kondisi perbankan nasional termasuk BTPN cukup baik dalam situasi yang sulit. Untuk itu, ia berharap, agar BTPN mampu menjaga pertumbuhan diimbangi dengan kualitas aset dalam kondisi yang tetap sehat.

“Saya rasa, bahwa rata-rata (kondisi) industri perbankan di Indonesia cukup kuat dan tinggi. Ini yang menjelaskan optimisme masih ada di industri keuangan kita,” terangnya.

Seiring momentum pertumbuhan ekonomi yang optimistis, per akhir September 2022, total penyaluran kredit yang disalurkan Bank BTPN meningkat 13% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp155,43 triliun. 

Pertumbuhan kredit ini lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan kredit di industri perbankan yang sebesar 11% yoy pada akhir September 2022 mengacu data Bank Indonesia.

Pertumbuhan kredit juga mendorong aset Bank BTPN naik 9% yoy menjadi Rp199,9 triliun pada akhir kuartal III/2022.

Baca Juga: Kuartal III/2022, BTPN Cetak Laba Rp2,41 Triliun 

Sementara itu, Bank BTPN juga berhasil menjaga kualitas kredit tetap baik, tercermin dari rasio gross non-performing loan (NPL) yang berada di level 1,41%. Jumlah kredit macet ini cenderung turun dibandingkan posisi yang sama 2021 sebesar 1,56%, dan lebih rendah dibandingkan rata-rata industri sebesar 2,88% pada akhir Agustus 2022. 

Bank BTPN menyesuaikan jumlah dana pihak ketiga (DPK) dengan kebutuhan pendanaan kredit dan kebutuhan likuiditas Bank. DPK Bank BTPN meningkat sebesar 1% yoy menjadi Rp103,88 triliun pada akhir September 2022.  

Terdapat pergerakan DPK dari deposito berjangka ke Current Account Saving Account (CASA). CASA Bank BTPN meningkat 21% yoy sebesar Rp7,30 triliun menjadi Rp42,87 triliun per akhir September 2022, dan rasio CASA naik menjadi 41%. Deposito berjangka turun 10% yoy atau sebesar Rp6,64 triliun menjadi Rp61,01 triliun.

Rasio likuiditas dan pendanaan berada di tingkat yang sehat, dengan Liquidity Coverage Ratio (LCR) mencapai 194,4% dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) 123,1% per akhir September 2022. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) tercatat di 25,0%.


KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER