Selamat

Kamis, 1 Desember 2022

EKONOMI | Validnews.id

EKONOMI

25 November 2022

18:52 WIB

ATSINDO: Sudah Saatnya Merah Putih Fund Bantu Startup

Merah Putih Fundsenilai US$300 juta diperlukan pada masa-masa seperti sekarang ini, agar startup Indonesia tidak melulu bergantung pada sumber pendanaan dari luar negeri, terutama Amerika Serikat

Editor: Faisal Rachman

ATSINDO: Sudah Saatnya Merah Putih Fund Bantu <i>Startup</i>
Ilustrasi Start Up. Envato/Rawpixel

JAKARTA  - Asosiasi perusahaan rintisan (startup) menilai, sekarang adalah waktu yang tepat untuk menggunakan Merah Putih Fund dari pemerintah, untuk membantu mengatasi badai yang melanda startup. 

"Merah Putih Fund sudah waktunya diefektifkan," kata Ketua Umum Asosiasi Startup Teknologi Indonesia (ATSINDO) Handito Joewono kepada ANTARA, Jumat. 

Untuk diketahui, Merah Putih Fund merupakan lembaga pendanaan gabungan BUMN untuk perusahaan rintisan (startup) yang diluncurkan pemerintah pada tahun lalu. Pendanaan difokuskan untuk mendorong startup lokal menjadi unicorn, senilai US$300 juta atau sekitar Rp4,7 triliun. 

Merah Putih Fund sendiri sudah mengantongi izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada pertengahan tahun ini. Menurut Handito, Merah Putih Fund diperlukan pada masa-masa seperti sekarang ini, agar startup Indonesia tidak melulu bergantung pada sumber pendanaan dari luar negeri, terutama Amerika Serikat. 

Ia mengatakan, suku bunga di Amerika Serikat belakangan ini terus naik, sehingga investor dari negara itu menata ulang strategi investasi mereka. Karena itu, startup disarankan tidak lagi hanya berkiblat pada AS, tapi, juga memperhatikan pergeseran pemetaan bisnis dunia.

Saat ini, menurut Handito, China, Taiwan dan Korea Selatan sedang bertumbuh dalam hal startup, sehingga pelaku startup Indonesia perlu memperhatikan apa yang sedang berkembang di ketiga negara itu. 

Perubahan lanskap bisnis dunia, belakangan memang turut mempengaruhi bisnis startup di Indonesia akibat perubahan investasi. Mau tidak mau, startup perlu mengurangi biaya untuk pengembangan, termasuk di dalamnya ongkos promosi dan pengurangan jumlah karyawan. 

"Uang yang beredar berkurang, sementara tenaga kerja harus dibayar," kata Handito. 

Startup menurutnya perlu mengurangi promosi yang tidak perlu dan mengurangi tenaga kerja yang dalam jangka pendek tidak produktif. Handito melihat dua langkah itu perlu dilakukan supaya startup lebih sehat dari segi keuangan dan lebih kuat menghadapi tantangan. 

Ia melanjutkan, startup pun perlu memiliki ketangkasan untuk menyikapi perekonomian dunia yang dibayangi resesi. Jika kondisi ekonomi tahun depan suram, menurut Handito, startup sudah mengurangi masalah supaya mereka bisa bergerak lebih lincah dalam menangkap peluang.

Sekadar mengingatkan, awal tahun ini, Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo pernah mengungkapkan Merah Putih Fund, siap menyuntikkan dana sekitar US$300 juta kepada perusahaan rintisan atau startup lokal agar dapat naik kelas menjadi startup unicorn.

"Dana ini akan diluncurkan dengan jumlah committed fund mencapai sekitar US$300 juta," ujar Kartika.

Kementerian BUMN, tambahnya, akan memfokuskan pendanaan Merah Putih Fund tersebut kepada startup lokal, untuk memastikan Soonicorn (soon to be unicorn) yang menjadi unicorn tetap beroperasi di Indonesia. Kementerian BUMN akan mendukung mereka agar bisa melantai di Bursa Efek Indonesia, serta diharapkan dapat menarik minat dari komunitas investor global.

"Melalui kolaborasi ini kita berharap, kita bisa mendukung dan memastikan startup-startup nasional mendapatkan pendanaan di dalam negeri. Juga menciptakan ekosistem yang melahirkan banyak startup unicorn bahkan decacorn nasional ke depannya," kata Kartika.



Tantangan Baru
Sementara itu, sejumlah perusahaan rintisan atau startup mengaku tengah mengatur siasat menghadapi badai pemutusan hubungan kerja (PHK) yang sudah sampai ke Indonesia. 

"Tantangan yang kami hadapi tidak hanya internal, tapi, juga secara eksternal," kata Ketua Umum asosiasi e-commerce iDEa Bima Laga, Jumat, seperti dilansir Antara. 

Startup berbasis teknologi masih tergolong baru di Indonesia, para pelakunya harus memiliki strategi untuk memperkenalkan bisnis mereka kepada lingkungan yang terbiasa dengan pola bisnis konvensional. Tantangan itu sedikit teratasi ketika pandemi melanda, orang-orang mulai akrab dengan dunia digital. 

Nah, sekarang, startup kini dihadapkan pada tantangan baru yaitu bayangan resesi . Pada saat yang sama, pendanaan dari berbagai investor memasuki masa jatuh tempo dan sudah waktunya membagi laba. 

Secara internal, startup menghadapi tantangan mengembalikan investasi kepada para investor. Bima melihat efisiensi yang paling terasa efeknya setidaknya untuk jangka pendek adalah PHK. 

"Dengan melakukan PHK, bukan berarti perusahaan tidak sehat. Itu adalah salah satu cara mereka mempertahankan kesehatan," kata Bima. 

Startup, lanjutnya, juga perlu jeli beradaptasi dengan kondisi perekonomian saat ini sehingga mereka harus merancang ulang strategi perusahaan. Dia mencontohkan perusahaan e-commerce umumnya memiliki lebih dari satu unit bisnis seperti bisnis jual-beli ritel di e-commerce dan pembayaran. 

Pada kondisi saat ini, perusahaan harus memutuskan, bisnis mana yang perlu dipertahankan dengan konsekuensi mengurangi jumlah karyawan jika ada unit bisnis yang harus ditutup. 

"Sumber daya manusia mau tidak mau harus dikurangi untuk mengurangi biaya operasional," kata Bima. 

Mengurangi jumlah karyawan bukan satu-satunya jalan supaya perusahaan bisa bertahan di tengah badai PHK startup, beberapa perusahaan masih merekrut karyawan dengan pilihan satu orang melakukan beberapa tugas sekaligus. 

Pilihan lain bagi startup adalah dengan mengurangi promosi, yang sering disebut sebagai strategi "bakar uang". Menurut Bima, strategi bakar uang sudah cukup lama mulai ditinggalkan. 

Sambil mengurangi promosi, startup harus gencar memberikan edukasi kepada konsumen mengenai belanja, supaya konsumen mendapatkan kenyamanan dan manfaat yang maksimal. 

Pemerintah menurut Bima, selama ini sudah memberikan insentif kepada e-commerce untuk menghadapi situasi terkini. Insentif yang diberikan, menurut dia, tidak harus selalu berbentuk uang, namun, bisa berupa kemudahan berusaha dan komunikasi.

 




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER