Selamat

Jumat, 24 September 2021

15 September 2021|19:49 WIB

AstraPay Ramaikan Industri Pembayaran Digital

AstraPay telah dilengkapi dengan mekanisme single device authentication untuk menjamin keamanan

Oleh: Fin Harini

ImageKonsumen bertransaksi menggunakan QRIS di kedai kopi rumahan di UMKM Skema Coffe, Lebak, Banten, Kamis (9/9/2021). ANTARAFOTO/Muhammad Bagus Khoirunas

JAKARTA –  PT Astra Digital Arta meramaikan industri pembayaran digital Indonesia melalui kehadiran aplikasi AstraPay. Aplikasi ini tak hanya bisa digunakan untuk membayar aneka layanan Grup Astra, tapi juga layanan lainnya.

“Sesuai dengan tujuan awal, AstraPay adalah aplikasi pembayaran digital milik Grup Astra yang memberikan kemudahan terhadap pengguna dalam melakukan pembayaran digital,” ujar CEO AstraPay Meliza Musa Rusli, di Jakarta, Rabu (15/9), dikutip dari Antara.

Ia juga mengatakan AstraPay ingin berkontribusi sebagai technology enabler dari produk-produk digital yang dikembangkan di dalam Grup Astra.

AstraPay memiliki fitur direct payment untuk produk pembayaran angsuran dari layanan Grup Astra. Saat ini, AstraPay telah bekerja sama dengan FIFGROUP, Toyota Astra Finance (TAF), Astra Credit Companies (ACC), hingga Maucash.

Selain itu, lanjut Meliza, AstraPay juga telah terintegrasi dengan sistem pembayaran moda transportasi umum seperti MRT Jakarta dan Transjakarta. Selain itu AstraPay juga dapat digunakan untuk membayar tagihan listrik, PDAM, TV kabel, BPJS, pajak, hingga beli pulsa atau paket data.

“Konsumen dapat menggunakan AstraPay sebagai alat pembayaran digital secara luas, tidak hanya untuk layanan Astra. Hal ini sejalan dengan program Bank Indonesia memperluas penggunaan QRIS,” paparnya.

Lisensi penggunaan fitur QRIS ini telah AstraPay dapatkan sejak tahun 2020. Melalui fitur ini, pengguna dapat melakukan pembayaran servis kendaraan di Toyota Sales Operation / TSO, Shop&Drive, Isuzu Sales Operation / ISO, Daihatsu Sales Operation / DSO, dan AHASS.

Bahkan di luar ekosistem Astra, pengguna dapat melakukan transaksi berbagai produk dan keperluan secara mobile, di mana saat ini telah ada sekitar 9 juta merchant di seluruh Indonesia yang telah menerima pembayaran melalui QRIS.

AstraPay, kata dia, telah mendapatkan lisensi sebagai uang elektronik dari Bank Indonesia sebagaimana surat keputusan No. 22/59/DKSP/Srt/B dan surat keputusan Transfer Dana No. 22/273/DKSP/100.

Di sisi keamanan akses akun, AstraPay telah dilengkapi dengan mekanisme single device authentication. Sistem ini hanya memungkinkan pengguna untuk login akun di satu device saja, sehingga pengguna tetap aman bertransaksi di AstraPay.

Director-In-Charge dari Astra Financial, Transportation, and Logistic Suparno Djasmin mengatakan AstraPay berkomitmen agar transaksi pembayaran digital di dalam maupun di luar ekosistem Astra berjalan lancar, aman, dan terintegrasi. Komitmen ini sebagai bentuk dukungan Astra terhadap program Gerakan Nasional Non-Tunai (GNNT) yang dijalankan Bank Indonesia

"AstraPay hadir melengkapi pilihan di industri pembayaran digital sebagai mitra terpercaya yang solutif terhadap kebutuhan masyarakat Indonesia. Kami meyakini kehadiran AstraPay dapat meningkatkan kenyamanan konsumen Indonesia saat melakukan pembayaran digital,” ujar Djasmin.

Ia menyebut Astra, AstraPay mempunyai value proposition yang khas, yang berbeda dengan pemain pembayaran digital lainnya, dengan kekuatan sesuai kebutuhan transportasi dan mobilitas serta reputasi customer service yang baik.

Rangkul UMKM 
Chief Marketing Officer AstraPay Reny Futsy Yama menyebutkan AstraPay sebagai aplikasi pembayaran digital sangat ingin untuk masuk dan merangkul pelaku UMKM di Indonesia.

"Pasti, kita juga sangat ingin untuk masuk ke UMKM," ujarnya.

Reny menambahkan bahwa AstraPay sendiri sudah memiliki fitur QRIS sehingga AstraPay ingin sekali memaksimalkan fitur tersebut dan meluaskan jangkauan hingga pelosok-pelosok Indonesia.

“Kita ingin mendukung program cashless society dari pemerintah," katanya.

Bank Indonesia menyebutkan transaksi keuangan digital terua meningkat, seiring ekseptasi dan preferensi masyarakat untuk berbelanja daring, perluasan pembayaran digital dan akselerasi digital banking.

Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan Bulan Agustus 2021 di Jakarta, Kamis (19/8).

Ia menyebutkan kebijakan sistem pembayaran BI terus diarahkan untuk mendukung percepatan pemulihan ekonomi nasional dan mendorong akselerasi digitalisasi ekonomi dan keuangan yang inklusif, aman, dan efisien.

Bank Indonesia melaporkan nilai transaksi digital banking pada Juli 2021 tumbuh 53,08% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp3.410,7 triliun. Volume transaksi digital banking tercatat meningkat sebesar 56,07% (yoy) mencapai 649,8 juta transaksi pada Agustus

Sementara, nilai transaksi Uang Elektronik (UE) pun naik 57,71% (yoy) mencapai Rp25,4 triliun. Lalu, nilai transaksi pembayaran menggunakan kartu ATM, kartu debet, dan kartu kredit tercatat Rp642,3 triliun, tumbuh 6,84% (yoy), seiring dengan peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat.

"Selanjutnya BI akan terus mendorong peningkatan transaksi nontunai termasuk perluasan merchant QRIS serta berkoordinasi dengan kementerian/lembaga dan Penyedia Jasa Pembayaran untuk mengakselerasi pengembangan ekosistem ekonomi dan keuangan digital," ujar Perry Warjiyo.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA