Selamat

Rabu, 23 Juni 2021

WIRAUSAHA

26 April 2021|21:00 WIB

Tumpuk Untung di Bisnis Empuk

Responsivitas usaha terhadap keadaan menjadi kunci selamat bisnis
ImageIlustrasi Bean Bag. Pixabay

JAKARTA – Acapkali ditemui di banyak tempat santai, beanbag menjadi perabot yang mendukung kegiatan leha-leha. Bentuknya yang mirip sofa tanpa rangka membuat beanbag melesak fleksibel mengikuti lekuk tubuh penggunanya saat diduduki atau disandari. Hal ini yang membuat pengguna nyaman menikmati keempukan beanbag.

Oh iya, kantong besar berisi banyak butiran styrofoam itu juga jamak disebut lazy bag. Tidak lain karena sesuai peruntukannya untuk orang 'malas-malasan'.

Kepraktisannya juga membuat barang ini bisa cocok di segala tempat, entah lingkungan formal semacam kantor hingga ruang privasi seperti kamar sendiri. Kini, banyak kantor juga menyediakan tempat duduk santai ini sebagai alat penunjang kerja.

Melihat beanbag pertama kali di Bali medio 2015 lalu, Nuke Wulandari, cofounder BeanbagJKT langsung meyakini produk ini bakal laku keras dan berpotensi cuan jika digarap serius. Kala itu bersama pasangannya, Nuke tengah mencari ide bisnis untuk menggenapkan biaya pernikahan pada tahun berikutnya.

"Waktu itu kita mau nikah, namun terkendala dana. Jadi berpikir mau usaha apa nih buat nambah-nambahin. Singkatnya, uang yang ada di tabungan, (kita) sedekahin semuanya ikhtiar buat usaha dan nikah," ceritanya saat dihubungi Validnews, Jakarta, Rabu (21/4).

Nuke yang waktu itu masih aktif menjadi mahasiswa S2, memulai bisnis dengan modal yang tidak terlalu besar. Dia memulai dengan hanya ratusan ribu rupiah. Uang itu digunakannya untuk membeli bahan luar bean bag, isi styrofoam dan membayar jasa jahit. Ia cukup beruntung permodalan bisa aman karena masih di-backup dari gaji sebagai pekerja kantoran.

Dari modal tersebut, muncullah prototipe awal BeanbagJKT. Sengaja, dia membuat prototipe dahulu, agar calon konsumen bisa melihat sekaligus menyesuaikan ekspektasi dengan produk akhir. Tahap berikutnya, Nuke mengikuti berbagai pitching produk, hingga membuahkan hasil pesanan awal sebanyak 50 buah bean bag oleh customer dengan omzet mencapai Rp50 juta.

"Setelah itu, (bisnis) kayak mengalir dan alhamdulillah ada aja customer yang datang, enggak terduga dan banyak dilirik. Kita waktu itu juga pertama kali coba menyewakan, dan dari situ makin dikenal orang. Akhirnya sampai coba bikin model-model lain," serunya.

Ide menyewakan disambut baik event organizer yang saat itu naik daun. Maklum, penyewaan ini menghasilkan keuntungan bersama. Event organizer bisa menggelar acara santai dan fun dengan aneka bean bag tanpa perlu investasi besar, baik untuk membeli maupun menyimpan. Bagi BeanbagJKT, jelas laba mengalir masuk.

Berproses Meniti Tantangan
Bukan tanpa tantangan membesarkan BeanbagJKT. Sebagai pemain baru bisnis, Nuke merasakan kesulitan-kesulitan. Mencari bahan produk, keterbatasan ruang penyimpanan, hingga mengatur waktu lantaran semua urusan pengadaan dan pemasaran masih dikerjakan sendiri, adalah kendala yang dihadapi.

Berhadapan dengan penjahit yang tidak khusus membuat cover beanbag juga jadi tantangan tersendiri. Begitupun dengan proses pengawasan produksi yang terbatas karena lokasi yang berbeda-beda.

"Karena waktu awal-awal kita masih di kosan, jadi (jahit) ada saja ukuran atau bahannya yang salah, terbatas menyimpan bahan dan produknya. Sampai (customer.red) harus nunggu waktu sampai seminggu, makanya kita pakai sistem pre-order," katanya.

Beranjak dari berbagai kendala, Nuke mengaku terus memperbaiki sistem produksi. Hasilnya pada tahun-tahun pertama, BeanbagJKT memproduksi sebanyak 100–200 buah beanbag, dengan pasar usia 19–35 tahun.

Niatan menjaring pasar lebih besar dilakukan dengan memasarkan produknya di dunia digital, terutama media sosial. Belakangan sekira 2–3 tahun lalu, pamor e-commerce yang meledak juga masuk radar media jualan BeanbagJKT.

Langkah yang sama juga berhasil memecah kebuntuan sarana akomodasi penjualan yang menjadi kendala pada tahun-tahun pertama berbisnis. Sementara ini, pasar beanbag milik Nuke sudah akrab menjangkau pulau Jawa dan Sumatera. Namun, peminat kursi malas di luar dua daerah ini masih cukup jarang karena terkendala ongkos kirim yang cukup tinggi.

Berbagai pelajaran yang dipetik saat merintis, membuat BeanbagJKT mampu menggandakan produksi dan berhasil menjual 200–300 tempat duduk santai itu dalam hitungan bulan. Perempuan lulusan media bisnis di Universitas Mercu Buana ini juga berhasil membentuk tim produksi sebanyak 16 orang di warehouse BeanbagJKT saat ini.

"Alhamdulillah, istilahnya dari yang dulu sebanyak itu setahun lamanya, sekarang bisa hanya sebulan aja. Sekarang, kasarnya kalau omzet bulanan (penjualan) sih sekitar ratusan juta," ucapnya.

 

Mengakali Dampak Pagebluk
Di tengah kinerja penjualan yang cukup moncer beberapa tahun belakangan, pandemi yang menerjang awal 2020 membuat BeanbagJKT turun omzet. Tidak tanggung-tanggung, permintaan melorot hingga 60% daripada bulan-bulan normal sebelumnya. Nuke mensinyalir, penurunan terjadi tidak lain dan bukan karena kekhawatiran masyarakat untuk mengeluarkan uang.

Kondisi itu membuatnya was-was tak bisa memenuhi hak bulanan karyawan di tengah ketidakpastian suasana bisnis, hingga kondisi terburuk yakni pemecatan. Kekhawatiran kemudian membuat dia dan tim berupaya mendongkrak penjualan lewat riset-pemasaran yang lebih relevan. Lahirlah konsep promosi 'BeanbagJKT teman kerja dan sekolah kamu'.

Mereka mencari cara untuk menghasilkan produk yang lebih ekonomis daripada sebelum-sebelumnya. Begitupun langkah perusahaan dengan memberikan gratis ongkir dan diskon sewa hingga 30%.

Selain penjualan, kepanikan para pengusaha di hulu juga berdampak pada suplai bahan baku bean bag. Nuke mengaku sempat tidak memiliki stok produksi beberapa bulan lamanya. Para supplier bahan tidak berani mendatangkan barang.

Namun, ia juga mengakali hal itu dengan mencari alternatif supplier bahan lain. Ujungnya koneksi malah bertambah. "Sekarang untuk bahan kita enggak terlalu ya (kesulitan), karena kita udah tau kalau enggak ada di satu tempat kita bisa cari tempat lain untuk backup (bahan)," jelasnya.

Dari semua tantangan ini, Nuke belajar bahwa responsivitas usaha terhadap keadaan menjadi kunci selamat bisnisnya. Sejauh ini, penilaiannya kondisi bisnis sudah mulai berangsur membaik dan semakin positif sejak kuartal III/2021, meski belum pulih seperti sedia kala. Tetapi, penyewaan bean bag yang masih belum normal. Kebijakan pembatasan yang masih berlaku sampai saat ini membuat agenda-agenda off air tak berjalan. Keadaan penjualan juga tidak jauh berbeda, meski Nuke akui jumlahnya jauh lebih baik daripada awal-awal pandemi.

"Kalau kapasitas produksi sekarang sudah sekitar 70%. Untuk omzet terbilang masih sama antara sebelum dan sesudah pandemi segini-gini aja walaupun sempet turun-naik, untungnya enggak terlalu membahayakan usaha," jelasnya. 

Target Terdekat
Pandemi juga membuatnya memikirkan pasar baru. Kini, BeanbagJKT tengah berupaya meningkatkan produksi sekaligus mempenetrasi pasar di Sumatra. Target itu dipatok lantaran minat masyarakat di sana yang begitu besar, kendati ongkir masih jadi pemberat pada akhir proses pembelian. Sementara, produksi untuk memenuhi permintaan pasar di Pulau Jawa masih bisa dilayani tempat produksi utama di Tangerang.

Tak sekadar menjual, perusahaan rintisan ini juga menyiapkan dan memantapkan layanan purna jual alias aftersales. Nuke yakin upaya tersebut juga yang menjadi cikal-bakal kepercayaan konsumen besar. Sudah tidak terhitung perusahaan yang membidangi start-up dan kalangan hotel banyak memesan produknya. Kepuasan pembeli terhadap produk diharap menjadi hal yang kontinu. Mengedepankan pelayanan diyakini juga menjaga agar customer sewa produk bean bag-nya tetap bertahan di kemudian hari.

"(Bahkan), Presiden Jokowi pernah pakai produk kita lewat skema sewa di istana negara buat mengakomodasi acara nonton bareng. Kalau untuk perusahaan biasanya mereka buat secara custom bean bag-nya," jelasnya.

Perihal pasar dunia, BeanbagJKT juga belum mau buru-buru menjajaki ekspor. Meski ada peminat, menyiasati beberapa tantangan yang ada di sisi ekspor, semisal; layanan kirim, ekspektasi pasar, kesiapan produksi dan sebagainya, harus dilakukan cermat.

Meski ada visi untuk ekspor, Nuke menggaransi untuk produksi akan berada di dalam negeri dan enggan membuka sarana produksi di luar negeri. Ia berkeras tetap akan mengandalkan produksi bean bag dari Indonesia. Jika tertarik, investor hanya bisa melakukan kegiatan penjualan saja.

"Untuk (peminat) luar negeri, terakhir kita kemaren nyoba (kirim.red) ke Malaysia, orangnya kekeuh pengen lihat akhirnya kita coba kirim sampel. Dengan berbagai tantangan yang ada, itu belum ketemu sih (jalan keluar.red). Jadi kita masih fokus di nasional," ujarnya. (Khairul Kahfi)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA