Selamat

Sabtu, 19 Juni 2021

BERITA

19 Juli 2019|18:20 WIB

Saat Produksi Setara Konsumsi, Impor Beras Tak Pamali

Pemerintah diminta berhati-hati menghitung stok beras
ImagePetani mengumpulkan tanaman padi yang rusak untuk dijadikan pakan ternaknya di Desa Batujai, Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah, NTB, Kamis (11/7/2019). ANTARAFOTO/Ahmad Subaidi

JAKARTA – Kekeringan yang melanda sejumlah daerah di Indonesia diproyeksi akan mengurangi produksi pertanian. Tak tanggung-tanggung, kemarau yang membuat lahan sawah kering diproyeksikan bakal memangkas produksi beras hingga 2 juta ton.

Terpangkasnya produksi bukan hal yang muskil terjadi. Pasalnya, kekeringan sebagai dampak kemarau melanda Jawa Timur, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Ketiganya adalah lumbung padi, yang mampu menyumbang lebih dari setengah total produksi padi nasional.

Minimnya informasi akan datangnya musim kering membuat petani sulit berkelit dari gagal panen alias puso. Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat, hingga 10 Juli 2019 setidaknya ada 109,06 ribu hektare (ha) lahan padi yang mengalami kekeringan.

Dari jumlah tersebut, 10,03 ribu ha di antaranya bahkan sudah mengalami puso atau gagal panen. Puso terbesar terjadi di Jawa Timur dengan luas lahan mencapai 5,74 ribu ha. Disusul Jawa Tengah seluas 1,89 ribu ha dan DI Yogyakarta 1,75 ribu ha.

Selain itu, musim tanam kedua tahun tahun ini mundur sehingga musim panen pun turut mundur. Menurut Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas, petani biasanya mulai menanam di bulan Maret, namun sekarang mundur ke April. Lalu, petani yang biasa menanam bulan Oktober, mundur ke bulan November atau Desember.

“Lalu musim tanam kedua kan baru masuk bulan Mei. Bulan Mei kan sudah kemarau sehingga beberapa petani juga beralih ke tanaman yang lain. Untuk itu luas panen 2019 lebih rendah daripada luas panen 2018, sehingga dampaknya pasti ke penurunan produksi tahun 2019,” sambung Dwi saat berbincang dengan Validnews, Senin (15/7).

Data dari Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan bahwa puncak kemarau di daerah-daerah di Indonesia, rata-rata jatuh pada bulan Agustus.

Dari hitung-hitungan itulah, Dwi memproyeksikan produksi padi bakal terpangkas hingga 2 juta ton.

Sesuai pakemnya, berkurangnya pasokan bakal mendongkrak harga hasil pertanian, salah satunya gabah. Hal ini pun sudah terekam di tahun-tahun sebelumnya.

Kepala Sub Direktorat Statistik Harga Produsen BPS, Firmansyah, mengatakan sebetulnya transaksi perdagangan gabah dan beras selalu terjadi setiap bulan. Baik gabah maupun beras cenderung meningkat harganya ketika pasokannya mulai tipis. Menurutnya, dalam setahun, musim tanam padi biasanya jatuh pada bulan Januari dan Februari. Bulan Maret, April, dan Mei biasanya terjadi panen raya atau panen dengan produksi gabah yang besar. 

“Juni-Juli musim tanam lagi. Nanti ada panen lagi kira-kira di September-Oktober,” terangnya kepada Validnews, Rabu (18/7).

Namun, panen pada September–Oktober tidak sebesar panen pada Maret lantaran masa tanamnya berbarengan dengan musim kemarau.

Karena itu, setidaknya dalam dua tahun belakangan, harga gabah di tingkat petani terpantau mulai naik pada bulan Agustus. Hal ini sejalan dengan produksi dan stok padi di tingkat petani yang perlahan berkurang. Panen pada bulan September dan Oktober pun tidak cukup banyak untuk mampu mengangkat harga gabah.

Pada Agustus 2017, harga Gabah Kering Giling (GKG) di tingkat penggilingan tercatat sebesar Rp5.579 per kilogram (kg) atau naik 30 poin dari posisi Juli. Setelahnya, harga GKG di tingkat penggilingan itu terus meningkat hingga mencapai puncaknya pada Januari 2018 sebesar Rp6.099 per kg.

Harga GKG kemudian beringsut turun pada Februari 2018 seiring meningkatnya pasokan gabah hasil panen. Kala itu, harga turun sebesar 5 poin dari Rp6.099 menjadi Rp6.094 per kg. Adapun rata-rata GKG pada Maret 2018 di tingkat penggilingan Rp.5.555 per kg atau turun 8,84% dibandingkan bulan sebelumnya.

Pada 2018, harga GKG pun kembali mulai naik pada bulan Agustus. Namun, berbeda dengan tahun 2017 sebelumnya, harga GKG memuncak pada Februari 2019 menjadi senilai Rp5.952 per kg.

Harga beras di tingkat penggilingan baik beras rendah, medium, maupun premium baru mulai naik satu bulan setelah kenaikan harga GKG.

Pada September 2018, harga beras di tingkat penggilingan tercatat sebesar Rp9.572 per kg untuk beras premium, atau naik 1,21% dari harga pada bulan sebelumnya yang sebesar Rp9.458 per kg. Sementara harga beras medium naik 1,5% menjadi Rp9.310 per kg dan beras rendah naik 1,65% menjadi Rp9.125 per kg.

Harga ini perlahan-lahan naik hingga mencapai puncak pada bulan Januari 2019. Berdasarkan data yang dimiliki Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional, memasuki masa paceklik panen pada Oktober, harga beras kualitas medium I dilaporkan Rp11.700 per kilogram. Per tanggal 4 Januari 2019, harganya menjadi Rp11.850 per kilogram.

Tingginya harga beras bahkan mendorong Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginstruksikan Bulog untuk menggelar operasi pasar besar-besaran.

Sumbangan Inflasi
Sejalan dengan fluktuasi harga yang ditentukan oleh pasokan dan masa panen padi, Firmansyah melanjutkan, sejak tahun 2015 BPS merekam komoditas pangan ini turut menyumbang inflasi dan deflasi.

Menurutnya, pada bulan Maret, April, dan Mei, ketika musim panen raya mulai tiba, harga beras eceran terpantau memberikan sumbangan terhadap deflasi nasional. 

Beras baru akan menyumbang inflasi mulai bulan Juni. Dalam lima tahun terakhir, sumbangan tertinggi kenaikan harga beras terhadap inflasi tercatat di antara bulan Desember, Januari, atau Februari. 

Tahun 2015, sumbangan tertinggi beras terhadap inflasi nasional tercatat pada bulan Februari, yaitu sebesar 0,11%. Pada 2016, tercatat pada bulan Januari sebesar 0,03%. Pada 2017 di bulan Desember sebesar 0,08%. Di tahun 2018 dan semester I 2019, sumbangan inflasi paling besar tercatat pada Januari, yaitu 0,24% dan 0,04%.

Namun, naik turunnya harga beras eceran itu tidak selalu menampilkan tren yang sama setiap tahunnya. Pada 2017 lalu, harga beras eceran justru telah mulai turun sejak bulan Februari dan kembali naik pada Agustus.

Harga beras eceran terus naik hingga pada Januari 2018 terjadi peningkatan harga beras eceran tertinggi. Pada saat itu, harga beras eceran menyentuh angka Rp14.531 per kg atau naik 6,25% dari bulan sebelumnya dengan harga Rp13.676 per kg. Pada saat itu, beras pun menyumbang hingga 0,24% dari total inflasi nasional.

Berbeda dengan Februari 2017 saat harga beras mulai turun, pada Februari 2018 harga beras mencapai puncaknya. Nilainya naik 1,14% dari bulan sebelumnya menjadi Rp14.697 per kg.

Tingginya kenaikan harga beras eceran pada Januari dan Februari 2018 itu, menurut Firmansyah, disebabkan oleh keterlambatan impor beras yang dilakukan oleh pemerintah. Pasalnya, impor beras seharusnya dilakukan pada November atau Desember 2017, tetapi baru dilakukan pada Februari.

“Makanya harga di Januari–Februari itu harga gabah, beras, tinggi,” katanya.

BPS mencatat, sepanjang tahun 2017, total impor beras hanya mencapai 305,27 ribu ton. Padahal, pada 2015, total beras yang diimpor mencapai 861,60 ribu ton dan pada 2016 sebesar 1,28 juta ton. 

Keterlambatan impor beras tampak baru dikompensasi pada tahun 2018. Sepanjang tahun 2018, impor beras tercatat meningkat hingga enam kali lipat dari total impor beras tahun 2017, yaitu menjadi sebesar 2,25 juta ton.

Pada Februari 2018, impor tercatat sebanyak 272,89 ribu ton atau senilai US$130,08 juta. Pada Maret 2018, harga beras eceran pun tercatat turun 2,38% menjadi Rp14.347 per kg. Pada saat yang sama, harga beras pun menyumbang deflasi sebesar 0,10%.

Sepanjang 2018, inflasi beras sendiri menyumbang 0,13% terhadap inflasi nasional.

Impor Beras
Lonjakan volume impor beras pada 2018 yang mencapai 2,25 juta  ton tak ayal mendongkrak nilainya. Sepanjang 2018, nilai impor beras menggelembung menjadi US$1,03 miliar.

Nilai impor beras itu mencapai 6,85% dari total impor periode yang sama sebesar US$15,02 miliar. Pada tahun itu, neraca dagang tercatat defisit US$8,49 miliar. 

Persentase impor beras pada 2018 terhadap total impor ini paling besar dibandingkan porsi impor beras di tahun-tahun sebelumnya. Lantaran tahun sebelumnya, volume maupun nilai impor sangat kecil.

Impor beras pada tahun 2017 tercatat sebesar 305,27 ribu ton atau senilai US$143,61 juta. Nilai impor beras itu hanya setara 0,091% dari total impor 2017 yang sebesar US$156,89 miliar.

Tahun 2016 pun total impor beras yang sebesar US$531,84 juta hanya menyumbang 0,39% pada total impor tahun itu yang sebesar US$135,65 miliar. Tak jauh beda, tahun 2015 nilai impor beras yang sebesar US$351,60 juta menyumbang 0,24% dari total impor yang sebesar US$142,74 miliar. 

Tahun 2017, 2016, dan 2015, neraca dagang pun tercatat surplus, masing-masing sebesar US$7,52 miliar, US$8,78 miliar, dan US$11,83 miliar.

Firmansyah sendiri memprediksi,  tahun 2019 ini, pasokan beras akan cukup sampai akhir tahun nanti sehingga pemerintah mungkin saja tidak perlu melakukan impor.  Senada, Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Agung Hendriadi menegaskan pihaknya tak akan mengeluarkan rekomendasi untuk mengimpor beras. Pasokan yang ada ia yakini mencukupi kebutuhan masyarakat.

“Enggak akan ada impor beras. Stok di Badan Urusan Logistik (Bulog) saat ini mencapai 2,4 juta ton,” tandasnya kepada Validnews, Jumat (19/7).

Namun, Dwi Andreas berpandangan lain. Ia mengatakan bahwa keputusan impor bisa dilakukan oleh pemerintah ketika angka produksi dan kebutuhan masyarakat tidak jauh berbeda.

Dia memproyeksikan bahwa kekeringan pada tahun ini akan mengurangi produksi hingga 2 juta ton. Produksi beras pun diperkirakan hanya mencapai 30 juta ton.

“Konsumsi kita juga sekitar itu lah, 29 sampai hampir 30 juta ton,” katanya.

Untuk itu, pemerintah harus terus memantau stok beras di gudang Bulog. Perhitungan stok itu pun harus dikurangi oleh beras yang akan didistribusikan, juga yang telah rusak. Penghitungan stok secara rinci diperlukan guna memastikan stok aman sampai Maret 2020, ketika panen raya tiba. Jika stok beras kurang dari 1 juta ton, kemudian harga naik dengan cepat hingga 10%, pemerintah pun perlu waspada.

“Yang penting pemerintah hati-hati lah tahun ini,” ucapnya.

Sepanjang semester I 2019 sendiri, impor beras tercatat sebesar 203,74 ribu ton atau setara dengan US$86,67 juta. 

Lagi-lagi, Agung menegaskan stok beras cukup meski kekeringan menghajar. Ia hakulyakin, stok beras di Bulog sebesar 2,4 juta ton masih mencukupi. Hal ini, akunya, sudah memperhitungkan jumlah produksi yang hilang akibat puso.

“Artinya itu jumlah yang kekeringan puso itu kan cuma 9,3 ribuan. Nah itu kan kecil sekali, berapa persen cuma, coba hitung sendiri, sedikit sekali. Sementara stok kita masih cukup, ada 2,3 juta ton lah yang ada di Bulog,” tandasnya. (Sanya Dinda, Kartika Runiasari, Zsazya Senorita)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER