Selamat

Rabu, 23 Juni 2021

BERITA

18 Januari 2020|20:20 WIB

Kementerian ESDM Gencarkan Pembangunan Infrastruktur Migas Masyarakat

Tahun ini, Ditjen Migas berencana tawarkan 10 WK migas dengan bentuk kontrak yang fleksibel
ImagePetugas PT PGN melakukan pengecekan rutin stasiun pengaturan tekanan gas jaringan gas (jargas) pelanggan rumah tangga di Kawasan Batu Aji, Batam, Kepulauan Riau, Rabu (8/7/2020). Hingga 2019 PT PGN telah membangun jargas sepanjang 3.838 Km atau sebanyak 537.936 sambungan rumah tangga (SR) yang tersebar di 17 provinsi dan 60 kabupaten/kota yang ada di Indonesia. ANTARAFOTO/M N Kanwa

JAKARTA – Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Tutuka Ariadji menyatakan, pemerintah tengah berupaya meningkatkan pembangunan infrastruktur migas yang bersentuhan langsung dengan masyarakat dalam setahun terakhir. Pembangunan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi kesejahteraan ekonomi masyarakat.

“Ditjen Migas memahami betul kesejahteraan rakyat adalah tujuan pembangunan nasional, oleh karena itu beberapa pembangunan infrastruktur yang langsung dirasakan manfaatnya oleh rakyat sudah dilakukan,” kata Tutuka dalam menyampaikan capaian kinerja subsektor minyak dan gas bumi tahun 2020 kepada para awak media dari Gedung Ibnu Sutowo Ditjen Migas Jakarta, Senin (18/01).

Pada 2020 lalu, ungkap Tutuka, beberapa pembangunan infrastruktur yang dimanfaatkan oleh masyarakat adalah jaringan gas (jargas) sebesar 135.286 sambungan rumah tangga (SR) di 23 kabupaten/kota. Kemudian pemberian 25.000 paket konverter kit untuk nelayan di 42 kabupaten/kota dan 10.000 konkit untuk petani yang tersebar di 24 kabupaten/kota.

“Dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri, maka pemanfaatan gas domestik bisa mencapai 63,16%,” jelasnya.

Meski begitu, pemerintah mendorong agar pemanfaatan gas domestik berjalan optimal di 2021. Program pembangunan infrastruktur kerakyatan ditambah menjadi 120.776 SR untuk jargas dan masing-masing 28.000 untuk paket konkit untuk nelayan dan petani.

“Kami terus berupaya pemanfaatan gas domestik di angka 65% terutama yang akan diserap oleh industri dan kelistrikan,” harap Tutuka.

Guna mempermudah proses bisnis usaha hilir, Ditjen Migas juga telah menerbitkan izin usaha pengolahan migas sebanyak 24 izin. Kemudian, 52 izin terbit untuk izin usaha penyimpanan migas, 784 izin usaha pengangkutan migas, serta 134 izin usaha niaga.

Dari sisi hulu, Tutukan menyatakan bahwa pemerintah terus menyiapkan pasokan migas dengan memberikan 5 persetujuan studi bersama dan satu izin survei umum untuk Wilayah Kerja (WK) Migas di tahun 2020. Serta menyiapkan penawaran 10 WK migas yang akan dilakukan secara bertahap.

“Bapak Menteri sudah memberikan fleksibilitas bentuk kontrak dalam lelang Wilayah Kerja yang sebelumnya hanya Gross Split sekarang bisa ditambah PSC Cost Recovery ataupun bentuk lainnya,” ungkap Tutuka.

Direktur Pembinaan Hulu Migas Mustafid Gunawan menjabarkan, 10 WK yang akan ditawarkan tahun ini merupakan WK yang rencananya ditawarkan tahun 2020, namun terhalang pandemi dan penurunan harga minyak. Blok migas dimaksud, terdiri dari 5 blok reguler dan 5 blok hasil studi bersama.

Kandidatnya terdiri dari Blok Merangin III di Sumatera Selatan dan Jambi, Blok Sekayu onshore di Sumsel, dan Blok North Kangean di offshore Jawa Timur. Serta 2 blok di Papua ,yaitu offshore Papua untuk Cendrawasih 8 dan Mamberamo di onshore Papua.

“Kemudian untuk yang hasil studi bersama, ini juga ada 5 yakni West Palmerah di Sumsel dan Jambi ini onshore. Kemudian Blok Rangkas di Jawa dan Banten. Ketiga adalah Blok Liman di Jatim onshore. Keempat adalah Bose di onshore offshore NTT. Kelima adalah Maratua II di Kalimantan Utara meliputi onshore dan offshore,” sambung Mustafid yang juga menjabat sebagai Plt Direktur Teknik dan Lingkungan Migas Kementerian ESDM.

Kementerian ESDM berencana menawarkan WK tersebut pada kuartal I sampai Semester I 2021. Penawaran WK ini merupakan implementasi pertama dari penerapan Peraturan Menteri ESDM yang baru terkait fleksibilitas bentuk kontrak.

“Kami berharap, dirilisnya regulasi tersebut akan mendorong minat para investor. Kemudian menunjukkan bahwa dalam kondisi pandemi sekalipun, masih ada investor yang tertarik karena memang Indonesia memiliki potensi menarik dari segi subservice,” aku Mustafid.

Di sisi lain, dalam capaian kinerja tahun 2020, sektor migas juga mencatatkan minyak bumi siap jual (lifting) sebesar 707 Million Barrel Oil Per Day (MBOPD) dari target sebesar 705 MBOPD. Sementara realisasi lifting gas sebesar 975 million barrel oil per equivalent per day (MBOPED) dari target 992 MBOPED.

Tutuka mengklaim, gencarnya pembangunan dan penyiapan infrastruktur di tahun 2020 juga memberi dampak positif bagi realisasi anggaran migas yang mencapai 97% dari pagu sebesar Rp2,01 triliun.

“Ini capaian yang luar biasa selama 11 tahun terakhir paling tinggi,” pungkasnya. (Zsazya Senorita) 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA