Selamat

Selasa, 21 September 2021

17 Juli 2017|10:40 WIB

Fintech Bikin Layanan Bank Terlihat Vintage

Persentase investasi untuk perusahaan Fintech di Eropa dan Asia-Pasifik naik hampir dua kali lipat

Oleh: Faisal Rachman

ImageBank Indonesia (BI) selaku regulator mendorong pengembangan industri layanan keuangan digital atau yang lebih dikenal dengan financial technology (fintech). Dengan Fintech, sistem pembayaran pun dinilai akan menjadi lebih aman, mudah dan efisien. ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma/foc/16

JAKARTA- Aplikasi teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari terbukti telah mengubah perilaku masyarakat hampir pada semua aspek kehidupan. Sebut saja soal jual beli secara online (e-commerce), interaksi sosial secara digital (social media), e-book, e-paper, transportasi publik (taksi dan ojek), layanan pendukung pariwisata sampai ke layanan keuangan digital atau Financial Technology (Fintech).

Untuk yang terakhir, hadirnya teknologi di bidang keuangan membuat sistem keuangan konvensional terlihat usang. Tak perlu ke kantor bank atau ATM, dari transaksi jual beli sampai urusan pinjam meminjam uang pun kini bisa dilakukan hanya dengan akses internet dan keaktifan ujung jari. Pendeknya urusan transaksi keuangan bisa dilakukan dengan menihilkan proses administratif perbankan yang terkenal kaku dan berbelit. 

“Generasi milenial sekarang itu kan terdiri dari digital native yang terlahir sudah kenal dengan internet dan digital adapter, dari generasi sebelumnya yang mengenal internet di usia dewasa. Nah, trend keuangan global ke depannya memang menyasar bentuk digital yang dikuasai generasi milenial ini,” kata Ekonom BCA David Sumual kepada Validnews pekan lalu.

Sejatinya Fintech sendiri bukanlah hal yang sangat baru. Pendiri Startupbootcamp Fintech Markus Gnirck melihat geliat fintech sudah mulai terlihat sejak 8 tahun lalu, tepatnya di London, berbarengan dengan kemunculan ekonomi digital. Tapi baru sekitar satu-dua tahun belakangan ini istilah tersebut terasa booming di Indonesia.

Situs DailySocial dalam laporannya bertajuk “Indonesia’s Tech Startup Report 2016” menyebutkan, Fintech sebagai kategori kedua terpopuler di Indonesia setelah e-commerce berdasarkan jumlah startup yang menerima pendanaan. Banyaknya para pemula dalam berbisnis di bidang teknologi informasi membuat pamor Fintech makin tinggi.

Banyak alasan yang membuat industri Fintech makin moncer ke depan. Seperti diketahui Indonesia memiliki pertumbuhan ekonomi yang sangat impresif sejak krisis moneter 1998 silam. Pendapatan perkapita pun tercatat meningkat drastis dari US$ 560 di tahun 2000 menjadi US$ 3.374 di 2015.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia di 2016, mencapai Rp 12.406,8 triliun. Jika nilai itu dibagi jumlah penduduk, didapatlah PDB per kapita Indonesia di 2016 sebesar US$ 3.605,06 atau sebesar Rp 47,96 juta per tahun,

 

 

Mengutip Boston Consulting Group (BCG) Report 2013 di laporan DailySocial, jumlah kelas menengah Indonesia sendiri akan meningkat dua kali lipat di tahun 2020 menjadi 141 juta orang. Sekitar 9 juta orang setiap tahunnya naik kelas menjadi konsumen kelas menengah.

Untuk diketahui, PBB pun memperkirakan pada tahun 2015 nanti, populasi masyarakat Indonesia bakal bertambah menjadi sekitar 270 juta jiwa. Kemudian kembali meningkat menjadi 290 juta jiwa di 2045.

Populasi yang meningkat ini menjadi bonus demografi sendiri lantaran usia median dari populasi berada dikisaran 28 tahun dengan 28,1% diantaranya berusia sampai 14 tahun da 16,9% berusia antara 15 tahun sampai 24 tahun.

Fakta-fakta di atas merupakan basis pasar yang potensial buat tumbuhnya Fintech. Alhasil, Fintech diprediksikan menjadi sektor terpopuler, baik dari sisi investasi maupun perkembangan startup di tahun 2017. E-commerce dan Fintech bersaing ketat sebagai segmen yang paling banyak mendapatkan investasi, dengan masing-masing 21% dan 20%.

Melihat data dari Techinasia, Investasi global terhadap industri fintech selama hanya lima tahun (2010 – 2015) telah mencapai US$ 49,7 miliar atau setara dengan Rp 696 triliun dengan tingkat pertumbuhan tiga kali lipat setiap tahunnya sejak tahun 2013.

Menurut data Accenture, investasi global dalam usaha teknologi keuangan pada kuartal I 2016 telah mencapai US$ 5,3 miliar atau naik 67 % dari periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, persentase investasi untuk perusahaan Fintech di Eropa dan Asia-Pasifik naik hampir dua kali lipat menjadi 62%.

Khusus untuk kawasan Asia-Pasifik, investasi Fintech di kuartal I 2016, meningkat lebih dari lima kali dibandingkan periode yang sama tahun lalu yaitu dari US$ 445 juta menjadi US$ 2,7 miliar.

Geser E-commerce?

Di Indonesia, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo bahkan menghitung, transaksi Fintech pada tahun 2016 bisa mencapai US$ 14,5 miliar, atau Rp 188,5 triliun (kurs 13.000 per dollar AS). “Transaksi Fintech di Indonesia pada 2016 tersebut diperkirakan mencakup 0,6% dari total transaksi global, yang diestimasi mencapai US$ 2,55 triliun,” ucapnya.

Ke depan, tidak menutup kemungkinan, perkembangan Fintech di Indonesia akan menggeser e-commerce seiring maraknya penggunaan Fintech untuk produk tabungan dan investasi, transfer uang dan pembayaran, peminjaman dan asuransi. .

Sepanjang 2015, nilai transaksi di e-commerce di Indonesia sendiri mencapai US$ 3,5 miliar. Jumlah tersebut mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya US$ 2,6 miliar.

Perusahaan berbasis Fintech memang baru muncul beberapa tahun belakangan di Indonesia. Tapi, penggunaan internet dan smartphone yang semakin meningkat di Indonesia membuat Fintech semakin populer.

DailySocial Annual Startup Report 2016 juga menyebutkan, di 2016 pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta jiwa, meningkat 51,8% dibanding 2014 lalu. Sekitar 53,6% berusia antara 25-44 tahun, 28% berusia di atas 25 tahun dan 18,4% antara 10-24 tahun.

Di Indonesia, kepemilikan telepon seluler yang terdaftar sendiri tercatat mencapai 326,3 juta atau 126% dari populasi. Berdasarkan TNS/Google smartphone research, 71% responden memilih smartphone sebagai gawai utamanya. Pendeknya, penetrasi pemanfaatan teknologi digital di Indonesia sangat besar, bahkan melebihi populasi gabungan negara-negara lain di ASEAN.

Sekjen Asosiasi Fintech Indonesia (AFI) Karaniya Dharmasaputra mengatakan, penetrasi perbankan yang masih 30%, kalah jauh dari penetrasi pengguna handphone yang mencapai 130 %. Sementara itu, penetrasi internet yang sebesar 42%, sebagian besar traffic-nya berasal dari mobile.

“Maka itu, penetrasi perbankan bisa meningkat dengan mobile. Lebih jauh lagi, mobile juga bisa meningkatkan penetrasi investasi di Indonesia,” ujar Founder/CEO Bareksa (portal finansial dan marketplace reksa dana) tersebut dalam sebuah diskusi di Jakarta beberapa waktu lalu.

Namun, meski mulai booming, di sini industri ini masih sangat muda, setidaknya jika dibandingkan dengan di Amerika Serikat dan China. “Di Indonesa industri Fintech meski mulai booming setahun belakangan, tapi masih berupa embrionik. Banyaknya model Fintech membuat industri ini terus berevolusi mencari bentuk terbaik,” kata David.

Meski tergolong bisnis baru, namun industri Fintech telah memiliki banyak fungsi yang tidak hanya sebagai layanan transaksi keuangan online. "Fintech ini lagi lucu-lucunya, karena masih muda. Walau begitu, pelaku Fintech banyak yang berasal dari profesional di bidang perbankan dan sektor lain," ucap Dewan Pengawas AFI Dian Kurniadi meyakini.

 

 

Agus E Siregar Advisor Senior Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjelaskan, Secara umum, layanan keuangan berbasis digital yang saat ini telah berkembang di Indonesia dapat dibedakan ke dalam beberapa kelompok, yaitu payment channel/system, digital banking, online/digital insurance, Peer-to-Peer (P2P) Lending, dan crowdfunding.

Sekedar informasi, Payment channel/system merupakan layanan elektronik yang menggantikan uang kartal dan uang giral sebagai alat pembayaran, antara lain Alat Pembayaran Menggunakan Kartu dan e-Money. Selain itu, ada juga sistem pembayaran berbasis kriptografi (blockchain) seperti Bitcoin. “Info terakhir, pengiriman uang juga sudah bisa dilakukan dengan aplikasi Facebook Messenger,” serunya.

Sementara P2P lending, layanan keuangan yang memanfaatkan teknologi digital untuk mempertemukan antara pihak yang membutuhkan pinjaman dan pihak yang bersedia memberikan pinjaman. Layanan ini biasanya menggunakan website sebagai marketplace.

Sedangkan Crowdfunding adalah kegiatan pengumpulan dana melalui website atau teknologi digital lainnya untuk tujuan investasi maupun sosial. Sumber dana P2P lending dan crowdfunding dapat berasal dari seseorang atau sekumpulan orang.

Gerus Pasar Perbankan

Indonesia Fintech Association menyebut, sampai 2016 saja, hanya 36% orang dewasa di Indonesia yang memiliki akun resmi dari institusi keuangan. Dengan pertumbuhan cepat dari ekosistem teknologi Indonesia dalam dua tahun ke belakang, pemain Fintech mencapai 78%, menjadi yang tertinggi sejauh ini. Dari 140 pemain yang terdeteksi, sekitar 43 %nya pun terfokus ke sector payment.

Survei PricewaterhouseCoopers (PwC) Agustus 2016 lalu menyatakan, sekitar 83% dari institusi keuangan tradisional khawatir bisnis mereka akan direbut oleh Fintech. Khusus untuk perbankan yang mengaku khawatir menjadi 95%.

Laporan berjudul ‘Blurred Lines: How Fintech is shaping Financial services’, tersebut memuat pendapat yang diberikan oleh 544 CEO, Pemimpin Bagian Inovasi, CIO dan pejabat tinggi manajemen yang terlibat dalam transformasi digital dan teknologi di seluruh industri jasa keuangan di 46 negara.

Dalam laporan itu disebutkan, lembaga keuangan tradisional meyakini pula 23% bisnis mereka terancam dengan berkembangnya Fintech. Prusahaan Fintech sendiri memprediksi dapat merebut 33% bisnis lembaga keuangan tradisional. Responden dari industri transfer dana & pembayaran memprediksi dalam lima tahun ke depan, mereka dapat kehilangan 28% pangsa pasar. Ini karena Fintech seolah mengubah pandangan orang terhadap layanan bank yang sudah dianggap Vintage.  (Faisal Rachman)

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER