Selamat

Selasa, 21 September 2021

10 Juni 2021|08:00 WIB

50 Bank dan Investor Dunia Dorong Deforestasi Lewat Investasi

Investor ternama seperti BlackRock, Vanguard, State Street, PNB, EPF, GPIF, dan KWAP mendapatkan skor terendah

Penulis: Fitriana Monica Sari,

Editor: Fin Harini

ImageSatgas Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Riau berusaha memadamkan api di Pekanbaru, Riau, Jumat (2/4/2021). ANTARA FOTO/Rony Muharrman

JAKARTA – Penelitian terbaru oleh koalisi riset yang terdiri dari organisasi masyarakat sipil Amerika Serikat, Indonesia, Belanda, Brazil, dan Malaysia, yakni Forests & Finance mengungkapkan, 50 bank dan investor terbesar di dunia mendorong deforestasi melalui investasi besar dan kebijakan yang lemah pada komoditas terkait dengan perusakan hutan hujan tropis.

Penelitian tersebut menilai lembaga keuangan atas kinerjanya, termasuk bank internasional besar, seperti Bank of America, Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC), Industrial and Commercial Bank of China (ICBC). Juga, investor utama, seperti BlackRock, Vanguard, dan State Street yang berada pada skor sangat rendah.

Desain terbaru pusat data Forests & Finance menunjukkan kebijakan lebih dari 50 lembaga keuangan yang menyumbang US$128 miliar dalam bentuk kredit dan penjaminan untuk komoditas terkait dengan deforestasi sejak tahun 2016–2020. Serta, US$28,5 miliar dalam bentuk investasi per April 2021. Secara kolektif, kebijakan perusahaan sangat lemah, dengan skor rata-rata 2,4 dari 10.

Hal ini menunjukkan sebagian besar pembiayaan untuk berbagai komoditas yang mendorong deforestasi, seperti daging sapi, kelapa sawit, pulp dan kertas, karet, kedelai, dan kayu tidak tunduk pada kriteria dasar sosial, lingkungan, atau tata kelola. Apalagi, memenuhi verifikasi standar klien yang sebenarnya.

Data terbaru juga menambahkan, fitur-fitur penilaian kebijakan yang diperluas pada enam sektor yang berisiko terhadap hutan, data obligasi dan kepemilikan saham yang diperbarui, serta studi kasus tentang dampak sosial dan lingkungan dari keuangan yang tidak bertanggung jawab.

“Melindungi hutan tropis dunia benar-benar tidak pernah sepenting ini bagi seluruh kehidupan di bumi. Akan tetapi, lembaga keuangan malah menulis cek kosong kepada perusahaan yang mendorong perusakan hutan dan pelanggaran hak asasi manusia," ujar Koordinator Koalisi Forests & Finance, Merel van der Mark dalam Webinar Multinasional: Peluncuran Data Forests And Finance 2021, Rabu (9/6).

Menurutnya, lembaga keuangan harus mampu mengidentifikasi, menilai, dan mengelola risiko ini dalam portofolio mereka. Bukannya, malah memberikan perusahaan-perusahaan ini hak untuk menghancurkan hutan.

“Manajer aset terbesar di dunia, Blackrock memberikan sejumlah besar modal kepada perusahaan yang mendorong deforestasi dan 'merongrong' hak-hak Masyarakat Adat hingga mencapai US$2 miliar. Nilai tersebut meningkat 157% dibandingkan April tahun lalu, saat kehidupan para penjaga Bumi kian terancam dan penggundulan hutan terus meroket," kata Direktur Iklim dan Keuangan Amazon Watch, Moira Birss.

Blackrock, ujar dia, perlu mengambil tindakan tegas untuk menghentikan pendanaan perusakan hutan, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pelanggaran hak masyarakat adat, terutama di bioma sensitif seperti Amazon.

Presiden SAM, Meenakshi Raman mengatakan bahwa lima investor terbesar di perusahaan terkait deforestasi di Asia Tenggara, semuanya mendapat skor sangat rendah dalam penilaian.

“Kami membutuhkan investor untuk mengambil tanggung jawab atas investasi mereka dan mendanai masa depan yang berkembang untuk Asia Tenggara, alih-alih menghancurkannya," tegasnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif TuK INDONESIA, Edi Sutrisno menuturkan keadaan perbankan Indonesia. Meski masih mendapat skor sangat rendah, namun menunjukkan beberapa peningkatan dalam penilaian sejak 2018.

“Perbaikan positif ini adalah jalan yang tepat bagi bank-bank Indonesia. Hanya saja, masih perlu untuk meningkatkan kebijakannya dan serius dalam penerapannya,” lanjut Edi.

Begitu pun dengan investor terbesar komoditas berbasis lahan di AS, BNDES. Meski masih mendapat skor rendah pada kebijakannya, tapi telah menurunkan eksposurnya pada perusahaan komoditas berisiko terhadap hutan yang beroperasi di Amerika selama setahun terakhir.

Di sisi lain, lima investor teratas lainnya, yakni BlackRock, Fidelity Investments, Vanguard, dan GPIF malah meningkatkan eksposur mereka.

"Semua perusahaan ini mendapat nilai sangat rendah dan masih ada investasi signifikan yang mengalir ke penggundulan hutan Amazon, dengan sedikit upaya lembaga keuangan untuk menghentikannya,” ungkap Direktur Eksekutif Repórter Brasil, Marcel.

Cegah Pandemi
Sebuah studi mengindikasikan bahwa perusakan ekosistem hutan berkorelasi dengan munculnya penyakit zoonosis baru, seperti virus corona. Artinya, menghentikan deforestasi sangat penting untuk mencegah terjadinya pandemi di masa depan.

Namun, pada tahun 2020 saja, sebesar 12,2 juta hektare hutan tropis hilang. Dari penilaian ini ditemukan bahwa lembaga keuangan telah meningkatkan investasi mereka untuk penggundulan hutan pada periode yang sama.

Dibandingkan tahun 2020, total nilai investasi pada perusahaan komoditas berbasis hutan telah meningkat dari US$37,2 miliar pada April 2020, menjadi US$45,7 miliar pada April 2021.

Penilaian tersebut juga menganalisis kebijakan umum dari sekitar 50 bank dan investor terbesar di dunia berdasarkan 35 kriteria Lingkungan, Sosial dan Tata Kelola (ESG). Serta, menggabungkannya dengan data yang dihitung dengan menggunakan informasi pembiayaan dan investasi yang tersedia di database Forest & Finance periode Januari 2016 hingga April 2020 untuk data kredit, dan April 2021 untuk data investasi.

Dikatakan bahwa setiap bank atau investor diberi peringkat berdasarkan kebijakan mereka serta jumlah pembiayaan komoditas yang berisiko terhadap hutan untuk menghitung keseluruhan skor lembaga keuangan tersebut.

 


Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA